Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

In Nusa Tenggara Barat Travel

Jelajah Lombok di Masa Pandemi Bersama Kementerian Perhubungan dan Suaradotcom

Bukit Merese Lombok

Pejalanan ini dimulai tanpa rencana, berawal dari Kompetisi Jelajahi Konektivitas Transportasi dengan menulis rencana perjalanan (itinerary) yang diadakan oleh Kementerian Perhubungan RI (@kemenhub151) dan Suara.Com (@suaradotcom) melalui instagram. Aku mengirimkan tulisanku dan puji Tuhan akhirnya memenangkan hadiah trip gratis ke Lombok selama 4 hari 3 malam untuk 2 orang.

Baca: Ashtari Restaurant and Lounge Bar Lombok, Lebih dari Sekedar Makan

Awalnya aku melihat postingan pada feed instagram @marischkaprue yang berisi ajakan untuk mengikuti kompetisi dengan hadiah trip gratis plus uang saku. Intinya, kompetisi ini menuntut kita untuk menyusun rencana perjalanan (itinerary) yang memuat konektivitas atau aksesbilitas menggunakan transportasi publik saat jelajah wisata.

๐—ธ๐—ผ๐—บ๐—ฝ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐˜€๐—ถ ๐—๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ต๐—ถ ๐—ž๐—ผ๐—ป๐—ฒ๐—ธ๐˜๐—ถ๐˜ƒ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—ง๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ฝ๐—ผ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ž๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐˜‚๐—ฏ๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฅ๐—ฒ๐—ฝ๐˜‚๐—ฏ๐—น๐—ถ๐—ธ ๐—œ๐—ป๐—ฑ๐—ผ๐—ป๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฎ

Singkat cerita akhirnya aku menuliskan rencana perjalanan pada miniblog Transmate dan mengisi data diri. Tanpa disangka, ternyata aku memenangkan kompetisi tersebut. Well, agak was-was sebenarnya karena sedang pandemi. Tapi sayang kan kalau tidak manfaatkan. Akhirnya aku memutuskan untuk trip tanggal 29 Januari sampai 1 Februari 2021 ke Lombok.

๐—ธ๐—ผ๐—บ๐—ฝ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐˜€๐—ถ ๐—๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ต๐—ถ ๐—ž๐—ผ๐—ป๐—ฒ๐—ธ๐˜๐—ถ๐˜ƒ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—ง๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ฝ๐—ผ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ž๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐˜‚๐—ฏ๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฅ๐—ฒ๐—ฝ๐˜‚๐—ฏ๐—น๐—ถ๐—ธ ๐—œ๐—ป๐—ฑ๐—ผ๐—ป๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฎ

Fasilitas

- Tiket Pesawat PP Jakarta-Lombok untuk 2 orang.

- Hotel Bintang 4 selama 4 hari 3 malam di Hotel Lombok Astoria.

- Trip 4 hari 3 malam (termasuk guide, makan, minum, tiket masuk wisata, bensin, parkir, kapal, snorkel, dan dokumentasi, tetapi tidak termasuk biaya untuik Rapid Test Antigen).

- Uang saku Rp 2.500.000,-

Persiapan Perjalanan Saat Pandemi

Jadi ada beberapa check list yang harus dipersiapkan sebelum melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat ke Lombok saat masa pandemi ini, yaitu:

- Menyiapkan tiket perjalanan.

- Memiliki surat keterangan rapid test antigen dengan hasil negatif berlaku selama 2 hari (sesuai dengan peraturan yang berlaku saat perjalanan tanggal 29 Januari sampai 1 Februari 2021). Karena perjalananku selama 4 hari, maka aku harus melakukan test sebanyak 2 kali, sekali saat keberangkatan dan sekali saat kepulangan.

- Melakukan validasi di bandara keberangkatan.

- Melakukan check-in di bandara keberangkatan.

- Mengisi data pada aplikasi electronic Health Alert Card (eHac) yang dapat didownload di Google Store atau Apple Play Store (siapkan data diri, alamat tujuan, waktu ketibaan, nomor kursi pesawat, kode penerbangan, dll).

- Memperlihatkan barcode pada aplikasi eHac setibanya di bandara tujuan kepada petugas.

Selama jelajah Lombok, aku ditemani oleh mama. Sehari sebelum berangkat, aku dan mama sudah menjalani test antigen untuk memastikan kami bebas dari virus Covid-19 dan dapat melakukan perjalanan. Biaya rapid test bervariasi tergantung klinik atau rumah sakit yang melaksanakan, kisarannya antara Rp 90.000,- sampai Rp 250.000,-.

Test antigen dilakukan sehari sebelum perjalanan dengan masa berlaku selama 2 hari. Namun yang perlu dicatat, bahwa setiap daerah tujuan mempunyai aturan yang berbeda-beda, jadi harus diperhatikan. 

Itinerary

Day 1: Desa Sade dan Pantai Kuta Mandalika

Selama perjalanan tentu saja protokol kesehatan sangat ketat aku terapkan. Saat di pesawat hingga tiba di Lombok, aku tidak melepas masker dan selalu menjaga jarak dengan orang sekitar. Untungnya penerbangan saat itu tidak terlalu ramai dan pesawat juga menerapkan physical distancing dalam pemilihan kursi, dimana kursi bagian tengah dikosongkan. Suasana bandara Lombok saat itu cukup sepi tidak seperti tahun 2016 silam saat pertama kali aku ke sana.

Setibanya di Bandara Internasional Lombok Praya, aku langsung bertemu dengan Mas Andi, guide yang akan menemaniku selama 4 hari 3 malam jelajah Lombok. Hal pertama yang aku lakukan adalah makan siang haha sudah lapar sekali rasanya.

Aku makan siang dengan Nasi Balap Puyung yang letaknya tidak terlalu jauh dari bandara. Makanan ini merupakan makanan khas lombok yang menyajikan burung goreng, daging, kangkung plecing, dan banyak lagi. Aku pesan menu paket lengkap, jadi lauknya cukup banyak, sekitar 5 jenis hehe. 

Setelahnya aku menuju desa adat suku sasak, Desa Sade, yang masih dihuni oleh masyarakat asli suku sasak yang tinggal di rumah adat khas suku sasak. Atap rumah terbuat dari ilalang yang dirakit sedemikian rupa sehingga tidak bocor saat musim hujan dan tidak panas saat musim kemarau, lantainya pun masih tanah namun ada juga yang sudah di semen. Uniknya, masyarakat desa biasa membersihkan lantai rumah mereka dengan kotoran sapi, yang memang sudah tradisi turun temurun.

Saat mengunjungi Desa Sade, aku ditemani oleh guide lokal dari desa tersebut. Guide tersebut bercerita mengenai sejarah suku sasak yang tinggal di Desa Sade, kurang lebih ada 150 keluarga atau sekitar 700 orang yang tinggal di desa tersebut. Mata pencarian utama masyarakat desa adalah bertani dan menenun, oleh karena itu hampir setiap rumah memasarkan hasil tenunan mereka di depan rumah masing-masing untuk dibeli oleh pengunjung.

Desa Adat Sade
Desa Adat Sade
Desa Adat Sade
Pohon cinta di Desa Adat Sade

Hanya aku pengunjung yang mampir saat itu, sebelumnya hanya ada satu rombongan yang berwisata. Memang sejak pandemi melanda, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Desa Adat Sade menurun drastis. Aku pun syok mengingat terakhir kali aku kesana, sangatlah ramai bahkan antri untuk berfoto. Satu sisi, miris rasanya melihat tempat wisata yang kosong, apalagi warga disana menggantungkan hidup dari sektor wisata.

Destinasi selanjutnya adalah Pantai Kuta Mandalika. Mandalika merupakan kawasan destinasi wisata super prioritas yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Keratif tahun 2021. Wow, tidak menyangka bahwa kaki ini beranjak menjajakinya hehe. Tahukan kamu bahwa saat ini sedang dibangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika? 

Kuta Mandalika Lombok
The Mandalika
Kuta Mandalika Lombok
Kuta Mandalika

KEK Mandalika mengusung pariwisata sebagai konsep utamanya, dimana pariwisata yang dikembangkan berwawasan lingkungan dengan daya tarik objek wisata alam serta berorientasi terhadap kelestarian lingkungan hidupnya. Bukan hanya itu, Mandalika juga dipilih menjadi arena pertandingan MotoGP, pertandingan balap motor internasional, yang rencananya akan diadakan tahun 2021. Sudah siap menyambut sirkuit jalan raya pertama di dunia yang akan dibangun di KEK Mandalika? Oh, I can't wait!!

Salah satu destinasi wisata yang menarik di KEK Mandalika adalah Pantai Kuta Mandalika. Keistimewaan pantai ini adalah bentuk pasirnya yang bulat menyerupai merica, atau biasa disebut pasir merica. Wah, pantainya bagus banget sih, bersih, airnya biru, karangnya unik, dan yang paling mengejutkan adalah super sepi hehe hanya ada aku, beberapa turis lokal, dan pedagang. Puas banget sih mau foto-foto gak perlu takut bocor keliatan orang lain haha.

Pantai Kuta Lombok
Pantai Kuta Lombok
Pantai Kuta Mandalika Lombok
Pasir merica di Pantai Kuta Lombok

Day 2: Pantai Senggigi, Taman Air Narmada, Desa Sukarara, dan Oleh-Oleh

Awalnya hari kedua aku berencana untuk snorkeling di tiga gili, namun karena cuaca tidak mendukung dan gelombang air laut cukup tinggi, akhirnya aku memutuskan untuk menukar jadwalnya. Jadi hari kedua cukup santai, menyelusuri Senggigi Hill yang super sepi, foto-foto sebentar kemudian lanjut ke Taman Air Narmada.

Pantai Sengigi Lombok
Pantai Sengigi

Taman Air Narmada dulunya merupakan tempat peristirahatan raja yang sekarang diubah menjadi destinasi wisata yang katanya menyimpan air awet muda, ih wow. Saat raja sudah bertambah tua, beliau tidak bisa lagi mengikuti upacara keagamaan di Gunung Rinjani, sebab itulah dibuat taman air ini yang arsitekturnya menyerupai Gunung Rinjani. Jangan lupa mampir ke Bale Pertirtaan yang menyimpan mata air yang konon bisa membuat awet muda.

Taman Air Narmada Lombok
Taman Air Narmada

Lombok terkenal dengan kain tenunnya, salah satu tempat untuk mendapatkan tenun asli Lombok dengan kualitas yang bagus adalah di Desa Sukarara. Semua perempuan di desa ini diharuskan bisa menenum, kalau tidak bisa, maka perempuan tersebut tidak diperkenankan untuk menikah. Maka tidak heran kalau hasil tenunan dari Desa Sukarara ini dijamin kualitasnya karena sudah diwariskan turun temurun.

Lagi-lagi aku merupakan satu-satunya pengunjung yang berkunjung saat itu. Aku disambut oleh warga lokal yang menjadi guide. Aku juga mencoba pakaian adat khas suku sasak, yang terdiri dari kain songket, atasan berwarna hitam dan selendang yang dipasangkan di bagian dada. Setelah mencoba pakaian khas suku sasak, aku dipersilahkan untuk mengambil foto di replika rumah adat sasak yang ada di sana. 

Desa Sukarara Lombok
Desa Tenun Sukarara

Semua hasil tenun warga Desa Sukarara di jual di koperasi, mulai dari songket, kain meteran, ikat kepala, taplak meja, tas, dan banyak lagi. Harga yang ditawarkan bervariasi tergantung dari tingkat kesulitan tenunannya. Jangan takut untuk menawar ya, karena kamu diperkenankan untuk menawar jika memang ingin membelinya.

Oleh-oleh lainnya yang terkenal dari Lombok selain kain tenun adalah mutiara Lombok. Aku mampir ke Toko Mutiara milik Hj. Siti Hajar yang katanya merupakan pemasok mutiara ke para penjual mutiara di Lombok. Jujur, mutiaranya bikin naksir hehe. Harga mutiara air tawar lebih murah dibandingkan air laut, katanya sih karena mutiara air tawar dibudidaya di China, sementara mutiara air laut merupakan hasil budidaya Indonesia. Silahkan dipilih-pilih sesuai budget masing-masing yaa.

Malamnya aku mencicipi Sate Rambiga Ibu Sinnaseh yang sangat terkenal di Lombok. Aku pesan sate sapi dengan sambal khas daerah Rambiga yang sangat pedas namun menggugah selera. Selain itu, aku juga pesan babalung yaitu semacam sop iga tapi tanpa sayuran, dan tentunya plecing kangkung yang wajib menjadi teman semua makanan di Lombok. Maknyus rasanya, enak banget hehe. 

Day 3: Hoping Island Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, Bukit Malimbu, dan Villa Hantu

Thank God, akhirnya hari ini bisa main air di laut. Yippie, snorkeling lagi, rasanya super duper happy. Aku bersama guide menggunakan kapal private yang berangkat dari Dermaga Teluk Nara. Lagi-lagi hanya aku yang akan hoping island saat itu, wow like a private island banget gak sih? haha. 

Gili Trawangan Lombok
Pantai Gili Trawangan

Tujuan pertama adalah Gili Air, snorkeling bersama ikan warna warni disana. Walaupun sudah pernah merasakannya, tapi tetap saja rasanya beda hehe. Selanjutnya ke Gili Meno, melihat patung yang menjadi daya tarik disana, yaitu patung sekumpulan orang yang membentuk lingkaran. Konon patung ini sengaja dibuat pada tahun 2017. Terakhir, aku snorkeling bersama penyu laut di Gili Trawangan, mengagumkan aku berhasil bertemu dengan 5 ekor penyu yang sedang berenang-renang di tengah laut, so cute.

Gili Trawangan Lombok
Gili Trawangan

Kapal menepi di Gili Trawangan untuk istirahat dan menikmati santap siang. FYI, kendaraan bermotor tidak diperbolehkan untuk beroperasi di Gili Trawangan, jadi kendaraan yang dapat dipakai disana hanya sepeda, cidomo (andong), dan sepeda listrik. Sungguh kaget aku dengan suasana Gili Trawangan saat itu, sangat sepi. Bahkan bisa dibilang hanya aku dan beberapa orang (bisa dihitung jari) yang sedang menikmati liburan. Selebihnya adalah warga lokal yang bersantai, tapi itu juga tidak banyak.

Banyak hotel dan cafe yang tutup, cidomo yang lewat hanya mengangkut pasir, bukan para turis, bahkan banyak barisan parkiran sepeda yang dirantai karena tidak ada penyewa. Apakah ini Gili Trawangan yang ramai itu? Menurut cerita guide yang menemaniku, sejak kejadian gempa Lombok beberapa tahun silam, wisatawan yang berkunjung ke Gili Trawangan mulai berkurang. Saat renovasi pasca gempa selesai, Gili Trawangan mulai ramai kembali, namun tidak lama kemudian pandemi kembali melumpuhkannya. 

Gili Trawangan Lombok
Bersepeda keliling Gili Trawangan

Tahun 2016 jalan utama Gili Trawangan selalu macet menjelang sunset. Namun, saat ini jalanannya kosong, tidak ada orang lalu lalang, hanya beberapa warga lokal yang lewat atau sekedar duduk-duduk. Semoga pandemi ini cepat berlalu, agar sektor pariwisata bisa bangkit kembali dan menunjukkan pesona keindahannya. Amin.

Kembali menuju Dermaga Teluk Nara dan melanjutkan perjalanan menyambut matahari tenggelam di sepanjang Malaka atau Malimbu. Turun sebentar untuk berfoto di Bukit Malimbu dengan pemandangan garis laut yang mebiru diikuti dengan beberapa monyet yang berkeliaran. Hati-hati dengan barang bawaan kalian yah.

Bukit Malimbu Lombok
Bukit Malimbu

Selanjutnya menanti sunset di Villa Hantu. Eit, jangan horor dulu, villa ini bukan villa berhantu, hanya villa yang pembangunannya tidak selesai karena ditinggal oleh pemiliknya. Villa ini dijadikan tempat wisata untuk menikmati tenggelamnya matahari. Sepertinya villa ini menjadi favorit pemuda-pemudi warga lokal untuk nongkrong dan foto-foto, karena memang pemandangannya indah banget pas sekali menutup jalan-jalanku pada hari ketiga.

Villa Hantu Lombok
Pemandangan dari atas Villa Hantu

Day 4: Pantai Tanjung Aan dan Bukit Merese

Hari terakhir di Lombok diisi dengan menyusuri Pantai Tanjung Aan dan Bukit Merese. Pantai Tanjung Aan terkenal dengan pasir putihnya yang halus dan air lautnya yang biru. Spot ikonik di Pantai Tanjung Aan tentu saja adalah ayunan kayu yang terletak di pinggir pantai. Rasanya seperti private beach karena sepanjang pantai hanya ada rombonganku, dua orang bapak-bapak pedagang, dan satu anak kecil yang selalu mengikutiku untuk menawarkan dagangannya. 

Pantai Tanjung Aan Lombok
Ayunan yang terletak di pinggir pantai
Pantai Tanjung Aan Lombok
Pantai Tanjung Aan

Seandainya hari ini bukan jadwalku pulang, pasti aku sempatkan untuk bermain air sejenak. Suasana siang itu sangat tenang, hanya terdengar deburan ombak dan sayupnya suara angin. Kedai pedagang di pinggir pantai semuanya tutup ya mungkin karena tidak ada lagi turis yang berkunjung, lalu parkiran kendaraan pun kosong, hawa siang itu terkesan sedikit spooky haha karena suasananya benar-benar sepi. 

Oh, ternyata ada seorang bapak penggembala sapi di atas Bukit Merese. Totalnya hanya ada 7 orang disana saat itu, aku, mama, guide, 3 orang pedagang, dan bapak penggembala. Rekor banget sih ini, seumur hidup baru kali ini merasa seperti penguasa pantai dan bukit haha. Pemandangan dari atas Bukit Merese sangatlah indah, seperti replika padang rumput New Zealand yang dibundle dengan pemandangan lautan dari atas bukit. Bahasa lebaynya so magnificent very impressive! Penutupan trip yang sangat luar biasa, gak sabar rasanya ingin kembali berkunjung! 

Bukit Merese Lombok
Pemandangan dari atas Bukit Merese bersama kerbau-kerbau
Bukit Merese Lombok
Bukit Merese

Nah, sebelum melakukan perjalanan kembali ke Jakarta, aku mengisi perut terlebih dahulu di Nasi Balap Puyung Inaq Esun yang letaknya persis di seberang jalan masuk menuju bandara. Setelah itu, sebelum memasuki area keberangkatan, aku dan mama kembali melakukan rapid test antigen di Bandara Lombok, tepatnya di dekat parkiran mobil. Puji Tuhan, hasilnya negatif. 

Epilog

Bersyukur sekali bisa merasakan liburan gratis ditengah suntuknya situasi pandemi. Namun, aku menghimbau agar kiranya kita semua tetap waspada dan mengikuti 5M protokol kesehatan dimasa pandemi. Jangan lupa mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Selalu menjaga imun dengan makanan bergizi dan minum yang cukup.

Akhir kata, terima kasih kepada Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dan Suara.Com atas kesempatan yang diberikan untukku. Nah, kalau kamu ingin menonton video singkat cerita liburanku, boleh mampir dan langsung aja klik ke channel youtube-ku hehe. See you next trip! Stay safe and keep healthy :)






Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments


In Singapura Travel

Singapura Trip: 5 Spot Foto "Instagramable" Gratis

Meskipun traveling belum menjadi prioritas di masa pandemi ini, tapi tidak ada salahnya kalau kamu mau mempersiapkan rencana liburan buat ke depannya. Nah, kalau kamu berencana traveling ke Singapura, pastikan kamu mengunjungi landmark terkenal yang menjadi ikon wisata di negara singa ini, seperti Garden By The Bay, ArtScience Museum, Marina Bay Sands, Universal Studio Singapore, dan lainnya. 
Koon Seng Road
Namun, kebanyakan dari destinasi iconic tersebut memerlukan tiket masuk yang lumayan mahal. Nah, kalau budget kamu terbatas tapi mau tetap hits, tenang, aku akan kasih beberapa list tempat wisata gratis yang bisa dijadikan spot foto instagramable di Singapura. Semua tempat ini sudah aku telusuri saat solo traveling ke Singapore tahun 2019 lalu. Please check this out!

[1] The Old Hill Police Station

The Old Hill Police Station
The Old Hill Street Police Station

Bangunan ini disebut juga sebagai Gedung MICA yang dulunya adalah markas besar kolonial, letaknya persis di dekat persimpangan River Valley Road dan Hill Street. Tahun 1934, gedung ini resmi dibuka dan menjadi gedung pemerintahan terbesar di Singapura. Tahun 1998, gedung ini diresmikan sebagai monumen nasional.


The Old Hill Police Station
Spot foto instagramable

The Old Hill Street Police Station dibangun dengan gaya neoklasik yang simetris. Tampak luarnya terdapat 927 jendela berwarna-warni membentuk gradasi pelangi. Tidak heran kalau tempat ini banyak dijadikan ajang berfoto karena rupanya sangat instagramable. Tips dari aku, jangan lupa memakai baju colorful jika ingin berburu foto disini ya.

The Old Hill Police Station
Tampak depan bangunan The Old Hill Street Police Station

Letak The Old Hill Street Police Station dekat sekali dengan Clarke Quay, berjalanlah menuju persimpangan River Valley Road dan Hill Street. Kamu juga bisa menggunakan bus umum yang melalui jalur Hill Street. Kalau ingin naik MRT, turun di Clarke Quay Station dan keluar melalui Exit F dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 3 menit. Kalau bingung, search aja di google maps dan ikuti petunjuknya.

[2] Fort Canning Park Tree Tunnel

Fort Canning Park
Fort Canning Park

Fort Canning Park merupakan taman umum yang sangat luas yang dulunya merupakan suatu benteng. Tapi pernahkan kamu melihat suatu tunnel atau terowongan dengan pemandangan seindah ini? Saat pertama kali aku mencoba mencari tempat ini, aku kesasar hehe. Aku malah sampai ke area utama Fort Canning Park, padahal tunnel itu jauh sekali dari pintu utama Fort Canning Park.

Fort Canning Park Tree Tunnel
Fort Canning Tree Tunel

Berbekal informasi dari Instagram Singapore Guide Book (@singaporeguidebook) akhirnya aku sampai juga. Kebanyakan orang kesulitan mencari tempat ini, karena memang saat itu belum ada di maps. Tapi untung saja aku menemukan info dan bertemu juga dengan sesama orang Indonesia di sana. Jadi, kami bersama-sama deh mencari jalannya. Dan ketemu!!! Terharu :")

Tempat ini dijuluki "the underground crossing of fort canning park" karena memang tempat ini merupakan terowongan penyebrangan pejalan kaki yang menghubungkan Fort Canning Road dengan Penang Road. Jadi, wajar saja kalau tidak terdeteksi di maps hehe. Asiknya lagi, tempat ini gratis dan tidak ada tiket masuknya, tapi siap-siap antri untuk berfoto yah, karena pasti akan ramai sekali.

Fort Canning Park Tree Tunnel
Jalan menuju tunnel

Untuk menuju Fort Canning Park Tree Tunnel kamu bisa naik MRT turun di Stasiun Dhoby Ghaut, keluar melalui Exit B kemudian naik eskalator ke atas dan keluar stasiun. Selanjutnya, menyeberanglah melewati Penang Road hingga bertemu dengan The Park Mall, kemudian belok ke arah kiri dan berjalan lurus sekitar 10 menit.

Lalu carilah "the dragon head pond" yang sebenarnya tidak ada airnya, setelah itu jalan terus sampai kamu menemukan turunan yang mengarahkan kamu ke terowongan untuk pejalan kaki menuju Fort Canning Road. Nah, di ujung terowongan itu, kamu bisa menemukan tangga spiral dengan view pohon yang sangat keren. Hmm, gimana sudah jelas belum? Mending langsung dipraktekin aja guys.

[3] Chijmes

Chijmes SIngapore
Chijmes
Chijmes mulai naik daun dan terkenal sejak dijadikan tempat syuting film Crazy Rich Asia beberapa tahun silam. Udah pernah nonton filmnya belum guys? Nah, Chijmes ini merupakan gereja pada saat adegan pemberkatan pernikahan Nick Young dan Rachel Chu.
Chijmes Singapore
Bangunan depan Chijmes
Sampai saat ini pun Chijmes masih dijadikan tempat untuk pemberkatan pernikahan walaupun tidak lagi digunakan sebagai gereja. Saat aku berkunjung ke sana, aku tidak dapat melihat bagian dalam gedung karena sedang berlangsung acara pernikahan. Akhirnya aku berkeliling menuju area lain di Chijmes. 

BACA JUGA: 
Tempat yang Wajib Kamu Kunjungi di Vientiane, Laos!

Bangunan ini merupakan salah satu tempat bersejarah di Singapura. Dulunya Chijmes merupakan sebuah biara dan sekolah Katolik untuk anak perempuan, sementara bagian depannya adalah kapel makanya bentuknya seperti gereja.

Chijmes Singapore
Bangunan belakang Chijmes

Saat ini Chijmes merupakan tempat hangout warga lokal dan turis Singapura, banyak cafe dan resto hitz di dalamnya, ada yang indoor ada pula yang outdoor. Bangunannya yang memiliki gaya gothic klasik dengan dominan warna putih ini, memancarkan desain arsitektur yang sangat menawan. 

Kalau hanya ingin berfoto, datanglah pagi hingga sore hari saat suasana masih terang dan tentu saja gratis. Namun kalau ingin kongkow, better sore sampai malam hari, karena kebanyakan resto di Chijmes mengusung suasana outdoor dengan live music. Kamu bisa memesan aneka macam makanan dengan harga yang agak pricey.

Chijmes Singapore
Cafe-cafe di area Chijmes

Search aja CHIJMES di maps, maka kamu akan diarahkan untuk menuju ke sini. Gampangnya, naik MRT dan turun di Stasiun City Hall, kemudian berjalan sekitar 3 menit, sampai deh. Chijmes terletak di 30 Victoria Street ya, buka dari jam 9 pagi hingga jam 12 malam guys!

[4] Koon Seng Road

Kong Seng Road Singapore
Kong Seng Road

Deretan rumah warna-warni dengan gaya Peranakan yang elektrik dan sangat estetik ini bisa kamu jadikan tempat foto instagramable juga guys. Dahulu daerah ini dinamakan Lorong East Coast, namun sejak tahun 1934 berubah menjadi Koon Seng Road. Jalan ini cukup terkenal karena terdapat deretan rumah nyentrik berwarna-warni.

Kong Seng Road Singapore
Rumah khas peranakan dengan gaya elektrik berwarna-warni

Kamu bisa mengarahkan petamu diantara Jalan Joo Chiat dan Still Road. Sepanjang jalan Koon Seng Road terdapat jejeran ruko-ruko tiga lantai yang dihiasi keramik khas Peranakan dengan berbagai motif dan warna. Keunikan tempat ini membuat banyak turis mampir untuk sekedar mengambil foto dan berkeliling sepanjang Koon Seng Road.

Untuk mencapainya, kamu tentu saja bisa menggunakan transportasi umum, walau rutenya agak panjang. Kamu bisa menggunakan MRT, kemudian turun di Stasiun Dakota dan berjalanlah menuju halte bus Old Airport Road. Selanjutnya Naik bus nomor 33 dan turun di Flora East, Joo Chiat Place. Sampai deh, kamu bisa berjalan kaki menyusuri Koon Seng Road.

[5] Bugis Colorful Spiral Staircases

Colorful Spiral Staircase Bugis
Colorful Spiral Staircase

Sebenarnya ini bukanlah tempat wisata, hanya hidden gem yang kebetulan warna-warni dan instagramable. Aku juga bingung menamakan tempat ini apa, karena di sumber lain juga tidak ada nama khusus untuk tempat ini. Sudah sering aku melihat beberapa traveler berfoto di tempat ini, tadinya ku pikir ini adalah suatu tempat wisata, ternyata salah.

Tangga-tangga spiral ini adalah rumah tinggal yang terletak di daerah Bugis, tepatnya dekat sekali dengan Bugis Junction, suatu pusat perbelanjaan yang terkenal dengan international branded berharga miring. Boleh juga melipir sebentar sembari borong belanjaan.

Bugis Colorful Spiral Staircases
Spot foto instragramable di daerah Bugis hasil jepretan stranger hehe

Sebut saja Bugis Colorful Spiral Staircases yah hehe, letaknya terselip di sebuah lorong diantara pertokoan, tepatnya di bagian belakang ruko-ruko di daerah Bugis Village. Karena letaknya di lorong, jadi memungkinkan keadaannya kurang kondusif untuk berfoto. Banyak mobil parkir, orang lalu lalang, dan aroma sampah yang sangat mengganggu.

Awalnya aku sempat kesulitan mencari lokasinya, namun akhirnya secara tidak sengaja i found that hidden gem. Alamatnya di 233 Victoria Street, Bugis Village. Saat itu aku naik bis dan turun di Bugis Junction. Nah, kamu juga bisa menggunakan MRT dan turun di Stasiun Bugis. Kemudian kamu bisa berjalan sembari mencari lokasinya.
***

Beruntunglah solo traveling ke Singapura kemarin, semua foto ootd lumayan bagus-bagus hehe. Muka tebal aja deh pokoknya minta tolong sama stranger yang sekiranya anak baik-baik. Dan percayalah masih banyak hidden gem lainnya yang bisa kamu jadikan spot foto instagramable di Singapura. 

Semua yang aku rekomendasikan tentu saja gratis tis tis hehe. Tempat lainnya akan aku tulis di postingan selanjutnya ya! Jadi, jangan sampai kelewatan! Yuk, mulai rencanakan liburanmu dari sekarang, setelah pandemi berakhir kamu bisa langsung traveling deh :)


Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments


In Malaysia Travel

Transit di Kuala Lumpur, Jangan Mati Gaya! Kunjungi Tempat Ini Sambil Tamasya!

Kuala Lumpur International Airport (KLIA) sering menjadi tujuan transit sebelum penerbangan menuju negara lain. Rasanya saking seringnya transit di KLIA, aku sampai hapal letak posisi tidur untuk bermalam di KLIA, mungkin nanti akan aku bahas di postingan selanjutnya ya. 
Menara Kembar Petronas
Buat kebanyakan orang, transit berjam-jam adalah hal yang membosankan, namun ada juga yang menganggap itu hal yang menyenangkan. Hayooo, kamu tim yang mana? Kalau aku sih tim yang kadang bahkan sengaja pilih penerbangan yang transitnya agak lama, supaya bisa explore bandara atau bahkan keluar bandara dan sejenak mampir ke beberapa destinasi di sana.


Nah, kalau transit sampai lebih dari 5 jam, masa sih cuma keliling bandara doang? Ya enggak dong, tentunya aku akan memanfaatkan waktu untuk explore beberapa tempat yang mudah dijangkau dari bandara. Kalau kamu transit di Kuala Lumpur, jangan sampai mati gaya, coba deh kunjungi beberapa tempat ini!

Beli Garrett Popcorn di KLIA 2

Garrett popcorn
Garrett popcorn (Source: website klia info)
Udah pernah coba Garrett Popcorn belum? Ini termasuk salah satu popcorn terenak sih menurutku. Official store Garrett Popcorn ASEAN kayaknya baru ada di Singapore dan Malaysia deh, cmiiw ya. Jadi, setiap aku mampir transit di Singapore atau Malaysia, gak akan pernah lupa buat mampir beli popcorn ini untuk oleh-oleh.

Nah, kalau kamu kebetulan transit dalam waktu yang lama, misalnya di atas 5 jam, coba deh keluar dulu dari imigrasi buat cuci mata. Buat yang langganan Air Asia kayak aku, udah paham pasti kalau arrival Air Asia itu di KLIA 2 guys. KLIA 2 ini banyak banget store barang branded dan berbagai macam makanan juga.

Pertama yang harus kamu lakukan adalah keluar dari imigrasi dan customs check. Hal selanjutnya setelah keluar dari imigrasi adalah langsung berburu Garrett Popcorn. Letaknya satu lantai dengan arrival hall KLIA 2, yaitu di Gateway@KLIA2 Lot L2-112, Level 2. 
Garrett popcorn
Store Garrett Popcorn (Source: website klia info)
Saranku, sebaiknya kalau kamu ingin mampir membeli popcorn ini, belilah saat arrival time karena letaknya dekat sekali dengan arrival hall. Kalau kamu membeli saat keberangkatan, sepertinya agak repot ya, mengingat kamu juga harus mengejar jadwal penerbangan selanjutnya.

Kenapa sampai segitunya sama Garrett Popcorn? Percayalah guys, rasanya super enak. Favorit aku sih chicago mix ya, campuran antara popcorn caramel dengan popcorn keju. Walaupun harganya pricey untuk ukuran popcorn, tapi serius kamu gak akan nyesel karena rasanya beeeuuuh endolita guys!

Batu Caves

Setelah kamu selesai berburu Garrett Popcorn di KLIA, lanjut yuk keluar bandara dulu untuk explore Batu Caves. Rutenya mudah kok, pertama kamu harus membeli tiket bus tujuan KL Sentral, ada banyak pilihan provider bus dan jadwal keberangkatannya, biasanya 30 menit sekali. Ada Skybus dan Aerobus, juga bisa naik kereta KLIA Express.
Arrival hall klia 2
Arrival hall KLIA 2 (Source: website klia info)
Kamu bisa membeli tiket di KLIA 2 Transit yang terletak di Gateway@KLIA2, tinggal lurus saja dari arrival hall atau ikuti petunjuk arahnya. Harga tiket Skybus RM 11, Aerobus RM 12, dan KLIA Express RM 55. Kamu juga bisa membelinya secara online di website masing-masing provider. Perjalanan dari KLIA 2 menuju KL Sentral kurang lebih memakan waktu sekitar 30-45 menit.
KLIA 2
Tempat pembelian tiket bis di KLIA 2 (Source: website klia info)
Setibanya di KL Sentral, ikuti petunjuk arah menuju loket pembelian tiket. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan KTM Komuter Line tujuan Batu Caves-Pulau Sebang. KL Sentral itu semacam stasiun besar yang terintegrasi dengan berbagai moda transportasi, jadi tidak perlu khawatir karena petunjuk arahnya sangat jelas. Perjalanan memakan waktu sekitar 40 menit dengan tarif RM 2,6. Setibanya di Stasiun Batu Caves, kamu tinggal jalan deh menuju destinasi utama. 

Batu Caves adalah wisata alam bernuansa religi, disini kamu akan merasakan nuansa Hindu yang kental dan bertemu dengan beberapa orang warga lokal yang melakukan ibadah. Selain itu, kamu juga akan menemui sebuah patung emas raksasa yang diyakini adalah Dewa Kartikaya atau Dewa Murugan, pelindung bagi bangsa Tamil.
Batu Caves malaysia
Pintu masuk Batu Caves menuju stasiun
Sebenarnya kamu juga bisa mendaki dan menjelajahi gua yang terletak di atas bukit. Perlu effort tenaga dan waktu jika mau masuk ke sana. Tapi ingat yah, barang bawaanmu pasti cukup banyak (kalau kamu tim anti bagasi kayak aku hehe) dan juga waktu transit yang tidak panjang. Jadi, menurutku cukup untuk sekedar berfoto di area utama saja dan tidak perlu menjelajah gua.
batu caves tahun 2017
Batu Caves tahun 2017
Batu caves malaysia
Batu Caves tahun 2019
Pertama ke Batu Caves tahun 2017, kemudian kembali lagi di akhir tahun 2019 yang lalu. Ternyata banyak perubahan signifikan yang membuat Batu Caves jadi lebih terawat dan berwarna. Tangga-tangga menuju gua dicat warna-warni, begitu juga dengan pilar-pilar disekitarnya. So, colorful!
Waktu terbaik mengunjungi Batu Caves adalah pagi hari saat masih sepi pengunjung dan matahari tidak terlalu terik. Destinasi ini gratis alias tidak dipungut tiket masuk dan sepertinya terbuka setiap saat untuk dikunjungi. Jangan terlalu lama menghabiskan waktu, karena masih ada destinasi selanjutnya.

Menara Kembar Petronas 

Menara Kembar Petronas
Menara Kembar Petronas
Selanjutnya mari melanjutkan perjalanan menuju Menara Petronas, sebuah landmark yang menjadi simbol negara jiran, Malaysia. Tidak sah ke Malaysia kalau tidak mampir ke Menara Petronas ini ya kan? Makanya, yuk sempatkan diri mampir sebentar ke menara ini!

Sangat mudah menuju lokasi ini dari Batu Caves, kamu perlu kembali ke KL Sentral dengan menggunakan transportasi yang sama, KTM Komuter Line tujuan Batu Caves-Pulau Sebang dan turun di KL Sentral. Lama waktu dan tarif perjalanan masih sama seperti sebelumnya.
Petronas twin tower kuala lumpur
Spot foto wajib di Menara Petronas
Tiba di KL Sentral, kamu harus berganti moda transportasi dengan LRT Kelana Jaya Line lalu turun di KLCC, stasiun yang paling dekat dengan Menara Kembar Petronas dengan tarif RM 1,2. selama kurang lebih 10-15 menit. Stasiun KLCC langsung terintegrasi dengan Suria KLCC Mall yang terletak persis di bawah menara kembar, jadi silahkan kalau mau mampir keliling mall terlebih dahulu.

Tapi kalau kamu mau langsung berfoto dengan latar belakang menara kembar, dari stasiun KLCC keluarlah melalui Exit Jalan Ampang. Kemudian kamu harus berjalan kaki menuju spot foto dengan background Petronas Twin Tower. Gampang kan? Tapi saat pertama kali, aku kesulitan mencari spot tersebut, sehingga harus bertanya dulu ke beberapa petugas mall haha.
KL Sentral
Bus stop KL Sentral ke KLIA (Source: website klia info)
Kalau sudah puas berfoto dan ingin kembali menuju KLIA 2, kamu bisa mengikuti rute yang sama, dari KLCC menuju KL Sentral dengan LRT Kelana Jaya Line. Kemudian lanjut dengan Aerobus, Skybus, atau KLIA Express menuju KLIA 2. Oh iya, perhatikan jadwal penerbanganmu selanjutnya, apakah dari KLIA 1 atau KLIA 2, karena kalau nyasar jaraknya cukup jauh.

Cuci Mata di Duty Free KLIA

Kuala Lumpur international airport
Shopping di KLIA (Source: website klia info)
Anyway
 jangan sampai terlena ya, karena waktumu terbatas. Kamu harus sampai bandara minimal 1,5 -2 jam sebelum boarding. Tidak apa terlalu lama, karena kamu masih bisa cuci mata di duty free yang ada di bandara atau mencoba kuliner khas Malaysia di beberapa restaurant bandara.

Salah satu hal yang wajib kamu lakukan saat transit di bandara apapun adalah mencoba mengunjungi toko duty free yang ada di bandara. Kamu juga bisa membeli berbagai barang branded dan oleh-oleh. Kalau dari segi harga, memang harga di bandara jauh lebih mahal dibanding dengan harga di toko biasa, walaupun duty free tetap saja lebih mahal.

Tapi buat kamu yang gak bisa diam saat transit, boleh dicoba mengunjungi satu per satu toko duty free di bandara. KLIA sendiri terbilang modern dengan banyak sekali toko-toko yang bisa kamu kunjungi. Bandaranya udah kayak mall deh, jadi buat anak mall dijamin gak akan bosen untuk killing time sejam dua jamlah hehe.

Hal yang harus diperhatikan saat transit adalah waktu. Jangan terlalu lama menghabiskan waktu di satu tempat pun jangan dipaksakan pergi ke banyak tempat jika waktunya tidak memungkinkan. Pertimbangkan juga waktu perjalanannya, kalau mau cepat dan ringkas, kamu bisa langsung naik Grab atau taksi tapi tentu saja tarifnya lebih mahal.

Itulah caraku menghabiskan waktu transit yang panjang di Kuala Lumpur. Kalau kamu bagaimana? Sudah pernah mencobanya? Boleh banget loh share pengalamanmu di kolom comment hehe. Semoga postinganku kali ini bisa membantu kamu saat bosan menghadapi waktu transit yang sama di KLIA ya!

 

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments