Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

In Sumatera Utara Travel

Itinerary Jalan-Jalan Keliling Medan 2D1N

Kota Medan

Kalau ditanya, apa yang menarik dari Kota Medan? Banyak yang bilang KULINER!!! Selain itu juga, banyak bangunan bersejarah dan unik di Medan, iya gak sih? Menurutku vibes Medan dan Jakarta itu beda tipis, sama-sama panas dan macet :"). Tapi jangan lihat dari kesan luarnya saja, coba dulu keliling Medan sambil mencicipi kulinernya yang beraneka ragam! Ditambah juga city tour ke tempat bersejarah di Medan, yuk yuk yuk!

Kota lama Medan
Kota lama Medan (sumber: https://amorvacui.org)

Begitu banyak rekomendasi kuliner enak di Kota Medan. Saking banyaknya, aku jadi bingung karena rasanya ingin mencicipi semuanya. Tapi apa daya, lagi dan lagi aku hanya punya dua hari satu malam (2D1N) untuk berkeliling Medan. Baru kali ini punya kesempatan explore Medan, biasanya cuma transit atau bolak-balik bandara aja. Nah, berhubung sedang pandemi, jadi aku pun tidak terlalu antusias keliling-keliling, hanya penasaran mencicipi berbagai rasa kulinernya.

Penginapan

Selama di Medan, aku menginap di Kama Hotel yang letaknya di kawasan Kesawan, tepatnya persis di seberang TipTop Restaurant yang legendaris dan fenomenal di Kota Medan. Kenapa aku pilih Kama Hotel, karena dekat dengan pusat Kota Medan, transportasi (Stasiun Kereta Bandara Medan), dan beberapa tempat wisata terkenal di Medan. 

Kama Hotel Medan
Kama Hotel Medan (sumber: http://hotelkamamedan.com)
Kama Hotel Medan
Restaurant Kama Hotel (sumber: https://www.traveloka.com)

Kama Hotel tidak terlalu besar, sekilas seperti cafe dengan konsep industrial. Hari pertama, aku menginap di Family Room yang muat untuk 4-5 orang, kamarnya sangat luas dan bersih. Hari kedua aku pindah ke Single Room yang hanya untuk 1 orang, persis seperti kamar kosan yang mana kamarnya kecil tapi tidak terkesan sempit. 

Kama Hotel Medan
Family room (sumber: http://hotelkamamedan.com/)
Kama Hotel Medan
Single room (sumber: http://hotelkamamedan.com/)

Hotelnya bagus dan minimalis, serta lumayan ekonomis, rate per malamnya sekitar Rp 170.000an per orang. Kekurangan hotel ini ada pada proses check-in yang cukup lama, bisa sekitar 15-20 menit. Kemudian, lift hotel hanya sampai lantai 5 saja, jadi untuk kamar di lantai 6 harus menggunakan tangga dari lantai 5. Lumayan letih sih kalau kopernya berat wkwk. Aku kasih nilai 8/10 deh buat hotel ini, very recommended!

Itinerary

Berhubung aku tiba di Medan pada malam hari, maka wajib rasanya aku mencoba kuliner malam khas Medan. Aku memutuskan untuk mencoba Sate Memeng dan jajan malam di kawasan Chinatown Kesawan. Letaknya dekat sekali dengan Kama Hotel, tinggal jalan kaki aja kurang lebih 5-15 menit. 

Jalan Kesawan Medan
Jalan Kesawan Medan 

Keesokan harinya aku mencoba rekomendasi dari followers instagramku, yaitu RM Tabona, BPK, dan Mie Aceh Titi Bobrok Medan. Aku juga mencoba ngopi dan kongkow hits ala anak gaul Medan di Kallia Coffee, yang katanya jadi tempat favorit anak muda di Medan. Sebenarnya masih banyak rekomendasi kuliner khas Medan yang wajib dicoba, tapi sayang waktu kunjunganku hanya sejenak. Next, kita coba lagi yah!

Baca juga: Jelajah Lombok Gratis? Yuk, Simak Ceritanya!

Kemudian aku sempatkan melipir ke Istana Maimun Medan, yang merupakan salah satu wisata sejarah di Kota Medan. Tidak lupa, aku mampir untuk membeli oleh-oleh Bolu Meranti Keju, the most favorite bolu seumur hidup sih ini haha, sekalian juga belanja jastipan guys wkwk supaya jalan-jalan tetap bisa cuan :")

1. Sate Memeng

Sate Memeng Kuliner Medan
Sate Memeng (sumber: https://carimakanaja.com)

Kuliner di Medan memang tak pernah mengecewakan. Termasuk Sate Memeng yang sudah ada sejak tahun 1945 ini. Warung makan ini terletak di Jalan Irian Barat No.2, Gang Buntu, Kota Medan dan terkenal dengan ukuran daging sate yang besar. Meski ukurannya jumbo, kematangan sate ini merata hingga bagian terdalam. Belum lagi dengan saosnya yang menggunakan kuah sate padang serta bumbu kacang. Ada sate ayam, sate kambing, dan sate jeroan dengan harga yang tidak terlalu mahal, dengan Rp 50.000,- kamu sudah bisa makan sate sampai kenyang.

2. Dimsum dan Kodok Goreng

Agaknya cukup ekstrem ya haha tapi aseli penasaran mau coba. Nikmati kuliner malam kaki lima di kawasan pecinan Kesawan. Banyak jajan yang digelar di tepi jalan persis depan toko-toko yang sudah tutup dengan konsep mirip night market Hongkong. Akhirnya aku mencoba dimsum aneka rasa dan kodok goreng karena wangi masakannya benar-benar menggoda. Rasanya? ENAKKK dan garing! Tapi harga yang ditawarkan cukup mahal, dimsumnya seharga Rp 8.000,- per buah dan kodok goreng seharga Rp 50.000 satu porsi berisi 3 ekor kodok goreng. 

3. RM Tabona

RM Tabona Medan
Kari ayam khas RM Tabona Medan (sumber: https://terkaitrumah.blogspot.com)

Pagi hari aku berjalan menuju RM Tabona yang letaknya cukup dekat dengan Kama Hotel, hanya 10 menit saja. Sekitar pukul 09.00 aku tiba di sana dan cukup kaget karena restonya sangat ramai, bukan hanya ramai pengunjung tapi juga ramai antrian ojek online. Seenak itu kah? Hmm, akhirnya aku memesan Nasi Kari Ayam yang menjadi menu andalan di sana. Setelah mencoba, ternyata hmm b aja rasanya wkwk atau karena lidahku yang gak cocok ya, tapi ya biasa aja dan gak bikin ketagihan. Harganya cukup mahal, Rp 50.000,- untuk Nasi Kari Ayam tapi ya memang porsinya cukup banyak sih. Tidak ada salahnya mencoba, lumayanlah buat mengisi tenaga untuk explore Medan hari itu. 

4. Istana Maimun

Istana Maimun Medan
Istana Maimun Medan (sumber: https://www.pedomanwisata.com)

Tidak jauh dari RM Tabona, aku melanjutkan perjalanan menuju Istana Maimun. Istana Maimun atau Istana Maimoon adalah istana Kesultanan Deli yang terletak di Jalan Katamso, Medan. Istana ini dibangun sekitar tahun 1888 dan berfungsi sebagai museum peninggalan Kesultanan Deli. Bangunannya masih kokoh dan banyak menyimpan cerita dan peninggalan sejarah, seperti foto-foto Raja Kesultanan Deli, kursi dan tahta kerajaan, tulisan, dan benda bersejarang lainnya peninggalan kerajaan. 

Istana Maimun Medan
Benda peninggalan Kerajaan Deli

Tiket masuknya seharga Rp 10.000,- hanya untuk berkeliling saja. Agak berbeda dengan museum atau istana pada umumnya, di dalam istana ini justru banyak warga yang berjualan, menurutku hal ini justru merusak keestetikan istana. Terlepas dari hal tersebut, arsitektur istana sangat megah dan indah, hanya saja jika diperhatikan mendetail beberapa sudut istana terlihat seperti tidak terawat dan rusak. Bolehlah mampir sebentar kalau lagi ke Medan.

5. BPK

Wisata kuliner haram adalah hal wajib jika berkunjung ke Medan, tidak lain adalah BPK alias Babi Panggang Karo wkwk. Sebenarnya banyak rekomendasi BPK dan makanan haram lainnya di Medan, namun akhirnya aku mengunjungi BPK yang terletak di dekat USU, serius gak tau namanya wkwk. Tapi percayalah rasanya enak pol! Thanks banget nich buat yang udah ngajakin dan traktir haha.

6. Kallia Coffee

Kallia Coffee Medan
Kallia Coffee Medan (sumber: https://brisik.id)

Tidak lengkap rasanya kalau ke Medan tanpa mencoba tempat hangout gaul yang lagi hits. Akhirnya aku melipir ke Kallia Coffee yang terletak di Jl. Beo No.39, Sei Sikambing B, Kec. Medan Sunggal. Oke banget sih ini konsep cafenya, cafe bertema industrial dengan ruang indoor dan juga outdoor. Aku sih pilih outdoor ya, soalnya outdoor vibesnya oke banget bikin nyaman dan betah. Menunya tidak jauh-jauh dari minuman kopi dan non-kopi, ada juga cemilannya, ya standar cafelah. 

Kebetulan saat itu malam minggu, semakin malam malah semakin ramai kawula muda Medan yang berdatangan. Lumayan sih cafe ini buat kongkow dan ngopi-ngopi santuy, tapi sayang harganya lumayan pricey sih bagiku si penganut es kopi susu limabelasribuan wkwk, but it's okey karena tempatnya bagus dan cozy.

7. Mie Aceh Titi Bobrok

Mie aceh titi bobrok medan
Mie aceh goreng kepiting

Explore Medan kali ini ditutup dengan hidangan Mie Aceh Goreng Kepiting di resto Mie Aceh Titi Bobrok. Tempatnya sangat ramai dan macet, maklum malam minggu sih saat itu. Restonya cukup besar, tapi b aja sih, gak mewah atau fancy haha. Aku memesan mie aceh goreng kepiting seharga Rp 27.000,- which is murah banget kan? wkwk tidak hanya murah, tapi rasanya enak banget dan porsinya banyak, kepitingnya ndut-ndut banget, puas deh aku. Wajib mampir ke sini ya kalau kamu berkunjung ke Medan.

Baca juga: Explore Rammang-Rammang, Bukit Karst di Sulawesi Selatan.

Well, itu dia keseruanku jalan-jalan city tour keliling Medan. Seru banget bisa mencicipi berbagai kuliner khas Medan dan menapaki tempat bersejarah di Medan. Tidak banyak foto yang aku ambil, karena terlalu menikmati keseruan berkeliling. Walaupun Medan sangat panas, tapi so far cukup serulah buat pendatang pertama kali sepertiku, asal jangan ketinggalan topi dan sunscreen ya agar terhindar dari sinar uv yang menyengat. 

Masih banyak lagi tempat wisata lain yang bisa kamu explore di Medan, seperti Mesjid Agung Al Mashun, Tjong A Fie Mansion, Graha Maria Annai Velangkanni, Kuil Sri Mariamman, Vihara Maitrea, dan banyak lainnya, jangan lupa juga kongkow di Merdeka Walk atau berkunjung ke Little India. Semoga pandemi ini segera berakhir, supaya bisa explore banyak tempat lagi. See you next trip, Medan!



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments


In Sumatera Utara Travel

Pulau Samosir Memancarkan Keindahan Panorama Danau Toba

Danau Toba

HORASSS!!! Welcome to Tano Batak! Selamat datang di Tanah Batak! Kali ini aku akan bercerita tentang keindahan kampung halamanku. Sebenarnya kampung halamanku di Narumonda, Porsea dan Sidulang, Laguboti, tapi karena masih dalam satu daerah Tapanuli Utara, tak apa lah yah, ku sebut juga sebagai kampung halaman hehe. 

Siapa yang tak kenal Danau Toba? Danau yang terletak di Provinsi Sumatera Utara dan juga terkenal sebagai danau terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Semua pasti tahu kan? Tapi tahu gak sih ternyata Danau Toba seindah itu lho!

Kali ini, aku berkesempatan menikmati keindahan Danau Toba dan Pulau Samosir, walau hanya sehari saja pada tanggal 20 Februari 2021. Setidaknya butuh waktu seminggu supaya bisa puas mengexplore seluruh sudut Danau Toba. Tapi berhubung keterbatasan waktu, aku hanya sempat berkunjung satu hari saja. Artinya, next time aku harus lebih lama keliling-keliling nih. Yuk, kita keliling bareng!

Perjalanan

Perjalananku dimulai dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional Kuala Namu (KNO), Deli Serdang menggunakan maskapai Air Asia, tiket unlimited pass. Sebelumnya aku sudah memesan mobil beserta dengan driver untuk mengantarkanku berkeliling. Sebelum menuju Pulau Samosir, aku sempat berkunjung ke Berastagi dan menjelajahi Air Terjun Sipiso-piso, nanti akan aku ceritakan detailnya di blog post selanjutnya yah! Jangan sampai ketinggalan, lho!

Baca: Jelajah Lombok Gratis? Gimana Caranya?

Oh ya, untuk menyeberang ke Pulau Samosir terdapat dua alternatif perjalanan. Pertama, bisa menyeberang danau menggunakan kapal atau melalui jalur darat. Jika kamu mau menyeberang danau menggunakan kapal, harap perhatikan jalur dan jadwal keberangkatan kapal ya. Ada banyak jalur penyeberangan menuju Pulau Samosir dengan berbagai jadwal, namun semejak pandemi ada sedikit perubahan jadwal keberangkatan kapal, tidak ada lagi kapal yang menyeberang pada malam hari saat weekdays.

Nah, karena aku sempat mampir ke beberapa tempat sebelumnya, alhasil aku tidak bisa mengejar jadwal keberangkatan kapal penyeberangan. Akhirnya aku menuju Pulau Samosir melalui jalur darat, yaitu melewati Tele yang ternyata cukup jauh. Jalurnya berkelok dan sempit, hanya muat untuk dua mobil saja, penerangan sangat minim sekali, dan suasananya sangat sepi. Jujur, seram sekali perjalanan malam itu. 

Penginapan

Awalnya aku memesan penginapan di daerah Tuk-Tuk, yaitu Toba Village Inn, namun karena jaraknya cukup jauh dari jalur Tele dan saat itu sudah terlalu larut malam, akhirnya terpaksa menginap di daerah Pangururan yang lebih dekat. Daerah Pangururan tidak ada hotel besar, hanya terdapat beberapa hotel kecil saja. 

Aku menginap semalam di Raja Hotel, Pangururan. Lokasinya tepat di pinggir Pantai Pasir Putih Parbaba. Rate kamar standard non-AC per malam sekitar Rp 300.000,- dan extra bed Rp 75.000,-. Namun, karena aku sampai tengah malam, akhirnya bisa dinego menjadi Rp 300.000,- termasuk extra bed.

Ekspektasiku tidak terlalu tinggi, yang penting bisa rebahan dan tidur, ada air panas, dan bersih. Aku kasih nilai 6,5 dari 10 deh hehe ketolong sama view pantai pagi hari saat buka pintu hotel, bagus bangeeeettttt asli beneran! Ketika pagi hari, lalu buka pintu hotel, wow pemandangan pasir putih dipadu dengan birunya air danau toba serta latar belakang perbukitan yang berlapis-lapis. Kebayang ga sih?

Seperti yang aku bilang sebelumnya, kalau mau mencari penginapan sekelas hotel besar, mungkin bisa di daerah TukTuk yang dekat juga dengan dermaga penyeberangan dan beberapa wisata alam. Tapi berhubung tempat yang ingin aku kunjungi letaknya tidak jauh dari Pangururan, jadi aku memutuskan untuk menginap di daerah ini.

Pantai Pasir Putih Parbaba

Kebetulan Raja Hotel terletak dekat dengan tempat wisata Pantai Pasir Putih Parbaba, dimana banyak wahana air yang bisa dicoba, mulai dari banana boat, perahu, speed boat dan pastinya wahana foto-foto buatan berbentuk love wkwkwk. Sebenernya wahana foto kayak begini sedikit mengganggu pemandangan sih tapi cukup kreatif untuk memancing perhatian ibu-ibu yang doyan selfie haha.

Pantai Pasir Putih Parbaba
Pasir Putih Parbaba Samosir
Pantai Pasir Putih Parbaba
Sensasi berenang di Danau Toba

Mau merasakan sensasi berenang di Danau Toba, nah bisa banget disini. Sensasi dinginnya air danau di pagi hari tidak mematahkan semangat berenang karena viewnya luar biasa. Burung-burung berwarna putih berterbangan di atas danau, barisan perbukitan menghiasi panorama yang sangat menyegarkan mata. Ada juga barisan kapal yang terparkir disisi yang lainnya. Perfecto!

Bukit Holbung

Selesai bercengkrama langsung dengan air Danau Toba, aku berkemas untuk mengunjungi destinasi selanjutnya, yaitu Bukit Holbung. Berdasarkan maps, jaraknya sekitar 1 jam dari Raja Hotel, lumayan juga. Jalurnya cukup sempit, berkelok, dan menanjak, pun juga masih ada beberapa ruas jalan yang berbatu. Kemampuan menyetirmu cukup diuji saat melakukan perjalanan ini.

Bukit Holbung Pulau Samosir
Dari atas Bukit Holbung kita dapat melihat landscape Danau Toba

Bukit Holbung terletak di Desa Holbung, Kabupaten Samosir, dimana sinyal internet masih belum stabil jadi aku sarankan untuk mengunduh offline maps untuk panduan perjalananmu yah. Semua tempat wisata di daerah sekitar Danau Toba sudah terdapat di maps, jadi hal ini memudahkan kamu dalam melakukan perjalanan. 

Bukit Holbung Pulau Samosir
Bukit Holbung
Bukit Holbung Pulau Samosir
Pemandangan Danau Toba dari atas Bukit Holbung

Walau kondisi jalannya tidak sempurna, namun pemandangan menuju Bukit Holbung sangatlah indah.  Disatu sisi, kamu akan melewati barisan perkampungan warga yang masih tinggal di rumah adat khas suku batak, dimana disekitar rumah masih banyak dijumpai kuburan yang megah. Disisi lain, pemandangan Danau Toba yang diapit oleh barisan perbukitan akan menemani perjalananmu menuju Bukit Holbung. Jadi tidak ada salahnya berhenti sejenak untuk mengabadikannya, percayalah semua sisinya bisa dijadikan konten instagram karena memang seindah itu alamnya.

Bukit Holbung Pulau Samosir
View Bukit Holbung
Bukit Holbung Pulau Samosir
Bukit Holbung Pulau Samosir

Tiket masuk Bukit Holbung sebesar Rp 5.000,- per orang dan Rp 5.000,- per mobil. Lumayan ramai orang yang berkunjung saat itu, mengingat hari itu adalah hari Sabtu. Ada pula yang sengaja berkemah disana, seru sih kayaknya. Tertarik untuk mencobanya?

Seindah itu pemandangan dari atas Bukit Holbung, kita bisa melihat barisan perbukitan hijau yang mengelilingi Danau Toba. Siapkan fisik untuk trekking kurang lebih 10-15 menit untuk mencapai puncak Bukit Holbung. Selain bisa melihat barisan perbukitan dan petak-petak sawah, kamu juga bisa memandang keeksotisan Danau Toba dari atas Bukit Holbung.

Air Terjun Efrata

Sekilas aku melihat ada bus wisata umum yang dapat dinaiki untuk menuju Bukit Holbung, Air Terjun Efrata, dan mungkin tempat wisata lain. Namun, aku belum mencari tahu informasi detailnya. Air Terjun Efrata dapat ditempuh kurang lebih 15 menit dari Bukit Holbung. Letaknya agak tersembunyi, sehingga kita harus memperhatikan jalannya.

Air Terjun Efrata Samosir
Air Terjun Efrata

Belum sampai di lokasi, tapi air tejunnya sudah terlihat mengintip dari balik bukit, jadi tidak sabar ingin cepat-cepat menuju ke sana. Sepanjang perjalanan, mata kita akan dimanjakan dengan hijaunya sawah disisi kanan dan kiri jalan. Karena terletak tersembunyi dibalik perkampungan warga, jalan menuju Air Terjun Efrata bukanlah jalan utama yang mulus, melainkan cukup berbatu dan tidak terlalu lebar.

Air Terjun Efrata Samosir
Keindahan air terjun dibalik bukit di tengah Pulau Samosir

Tiket masuk Air Terjun Efrata sebesar Rp 7.000,- per orang dan Rp 10.000,- untuk parkir kendaraan. Ya, wisata di sekitar Danau Toba memang murah meriah dan masih sangat alami, bersih, dan terjaga keasriannya. Senang sekali rasanya berkunjung ke sini hihihi.

Air Terjun Efrata Samosir
Air Terjun Efrata

Air Terjun Efrata memiliki ketinggian kurang lebih 20 meter dan dikelilingi oleh pepohonan hijau yang membuat suasana begitu sejuk. Air terjun ini dikenal juga dengan sebutan Sampuran Efrata yang berarti taman indah dan suci, pas sekali ya dengan namanya. Jangan lewatkan untuk merasakan kesegaran berenang di air terjun efrata! Dingin sekali airnya, padahal saat itu sedang siang bolong dan terik matahari.

Danau Sidihoni

Danau Sidihoni terletak di Desa Sabungan Nihuta, Kecamatan Ronggur Nihuta, Kabupaten Samosir, sekitar 30 menit dari Pangururan. Belum banyak yang tahu tentang wisata ini. Uniknya, Danau Sidihoni kerap mendapat julukan "danau di atas danau" karena letaknya di Pulau Samosir yang berada tepat di tengah Danau Toba.

Danau Sidihoni dikelilingi oleh padang rumput hijau yang menyerupai savana. Tak jarang juga ditemui beberapa ekor kerbau yang berkeliaran di sekitar danau. Danau dengan luas kurang lebih 5 hektar ini tidak memungut tiket masuk alias gratis. Pemandangan alamnya sangatlah alami dan indah.

Danau Sidihoni Samosir
Danau Sidihoni Samosir (sumber: https://medanbisnisdaily.com/)

Sayangnya aku tidak sempat berfoto di Danau Sidihoni, karena saat perjalanan menuju Danau Sidihoni, rombongan kami tidak sengaja mendapati sebuah mobil terguling dijalan. Akhirnya aku dan rekan traveling ku memutuskan untuk menolong korban dan mengantarkannya ke Puskesmas terdekat. Selalu ada cerita disetiap perjalanan :")

Aku merasa bersyukur, walau tidak sempat mampir dan merasakan langsung keindahan Danau Sidihoni, namun aku masih bisa menikmati keindahannya dari dalam mobil sembari menolong korban kecelakaan yang memang sangat membutuhkan bantuan. 

Sekilas memandang ke sekitar Danau Sidihoni, terdapat sebuah gereja yang terletak diatas bukit kecil dengan view jalur yang berkelok dan diapit oleh beberapa tiang listrik. Estetik sekali pemandangannya, kalau lain waktu kesini, sempatkan foto belatarkan gereja tersebut ya. Letaknya tidak jauh dari Danau Sidihoni, hanya berjarak beberapa meter saja.

Wisata Makam Raja Sidabutar

Makam Raja Sidabutar terletak tidak jauh dari Dermaga Tomok, Kabupaten Samosir. Uniknya makan bersejarah ini dijadikan tempat wisata dan pertunjukan budaya. Tidak jauh dari Pasar Tomok, kamu akan menemui arah menuju Makan Raja Sidabutar yang khas dengan barisan rumah adat khas Batak dan menampilkan Pertunjukan Si Gale-Gale.

Si Gale-Gale sendiri merupakan boneka kayu yang didandani seperti manusia, menggunakan ulos (kain tradisional batak) dan bisa menari diiringi dengan gondang batak, digerakkan oleh seorang dalang. Tarian Si Gale-Gale merupakan kesenian tradisional suku batak yang masih menarik perhatian wisatawan. 

Sebelum pandemi, pertunjukan tarian Si Gale-Gale rutin dilakukan, bahkan ada juga pertunjukan tari tor-tor, tarian tradisional batak. Wisatawan bisa ikut menari dan mencoba memakai ulos sambil manortor (menari tor-tor) mengikuti irama musik. Sayangnya, sejak pandemi melanda, pertunjukan jarang ditampilkan karena memang wisatawan yang datang sangat dikit sekali.

Bisa dibilang wisata ini adalah destinasi last minute kami. Gimana ceritanya? Jadi, setelah mengantarkan korban kecelakaan di dekat Danau Sidihoni, aku bergegas mendatangi Pelabuhan Tomok, untuk mengetahui jadwal keberangkatan kapal fery. Ternyata kapal akan berangkat pukul 16.00 dimana saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 15.30, dan kapal selanjutnya berangkat pukul 20.00 yang tentu saja bukan menjadi pilihan karena sudah terlalu malam.

Akhirnya setelah membeli tiket, aku berlari (serius lari-larian hehe) menuju Makam Raja Sidabutar untuk menyempatkan diri mampir dan melihat keunikan rumah adat dan tentu saja Si Gale-Gale. Untung saja lokasinya berdekatan sehingga masih bisa disempatkan untuk berkunjung. Sekilas melihat patung Si Gale-Gale dekat dengan makam, namun seperti tidak diurus. Aku pun bergegas menuju rumah adat dan berharap dapat menyaksikan pertunjukan.

Makan Raja Sidabutar Tomok
Rumah Adat Batak di Makan Raja Sidabutar Tomok

Entah memang sepertinya tidak berjodoh, ternyata saat itu terdapat acara adat untuk orang meninggal, rupanya salah satu warga ada yang meninggal, banyak karangan bunga dukacita berjejer di depan rumah adat. Tidak ada pertunjukan, tidak ada wisatawan, aku pun kikuk, namun mencuri-curi untuk bisa mengambil momen sedikit di salah satu rumah adat yang sedikit jauh dari lokasi acara.

Pelabuhan Tomok

Dengan terburu-buru setelah gagal melihat pertunjukan Si Gale-Gale, akhirnya aku kembali mengerjar waktu menuju Pelabuhan Tomok. Aku membeli tiket penyeberangan dari Pelabuhan Tomok menuju Pelabuhan Ajibata, Parapat  untuk 4 orang dan 1 mobil sekitar Rp 160.000,- keberangkatan pukul 16.00. Pejalanan yang ditempuh kurang lebih 1 jam lamanya.

Pelabuhan Tomok Samosir
Pelabuhan Tomok Samosir dari atas kapal ferry

Setelah lelah lari-larian, aku beristirahat sejenak di kedai makanan dekat pelabuhan dan mencicipi semangkuk mie gomak, makanan khas batak. Mie nya seperti spageti dengan kuah santan kuning, lumayanlah mengisi tenaga setelah lari-larian haha. 

Budget

Itinerary Medan Samosir
*Biaya per orang belum termasuk biaya di Medan

Ya, begitulah uniknya cerita dibalik jalan-jalanku menyusuri Pulau Samosir dan Danau Toba. Tidak ada yang menduga bahwa rencana yang sudah matang pun bisa diputarkan oleh rencana Tuhan yang tidak kita tahu. Tapi kesimpulannya, rencana Tuhan adalah yang paling indah. Terbukti, akhirnya aku bisa terkejar naik kapal pukul 16.00 dan melanjutkan perjalanan menuju Medan.

Perjalanan mengitari keindahan Pulau Samosir, Danau Toba tidaklah cukup hanya satu hari saja. Lain waktu aku pasti akan kembali dan menyapa lagi kenangan yang tertoreh dihari itu. Yakin, kamu gak mau kesini? Yuk, kita explore bareng! :)

Pulau Samosir Danau Toba
@shdmnasution, @deenataliaa, @andro_made





Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments


In Nusa Tenggara Barat Travel

Jelajah Lombok di Masa Pandemi Bersama Kementerian Perhubungan dan Suaradotcom

Bukit Merese Lombok

Pejalanan ini dimulai tanpa rencana, berawal dari Kompetisi Jelajahi Konektivitas Transportasi dengan menulis rencana perjalanan (itinerary) yang diadakan oleh Kementerian Perhubungan RI (@kemenhub151) dan Suara.Com (@suaradotcom) melalui instagram. Aku mengirimkan tulisanku dan puji Tuhan akhirnya memenangkan hadiah trip gratis ke Lombok selama 4 hari 3 malam untuk 2 orang.

Baca: Ashtari Restaurant and Lounge Bar Lombok, Lebih dari Sekedar Makan

Awalnya aku melihat postingan pada feed instagram @marischkaprue yang berisi ajakan untuk mengikuti kompetisi dengan hadiah trip gratis plus uang saku. Intinya, kompetisi ini menuntut kita untuk menyusun rencana perjalanan (itinerary) yang memuat konektivitas atau aksesbilitas menggunakan transportasi publik saat jelajah wisata.

𝗸𝗼𝗺𝗽𝗲𝘁𝗶𝘀𝗶 𝗝𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗵𝗶 𝗞𝗼𝗻𝗲𝗸𝘁𝗶𝘃𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀𝗽𝗼𝗿𝘁𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁𝗲𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗵𝘂𝗯𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗥𝗲𝗽𝘂𝗯𝗹𝗶𝗸 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮

Singkat cerita akhirnya aku menuliskan rencana perjalanan pada miniblog Transmate dan mengisi data diri. Tanpa disangka, ternyata aku memenangkan kompetisi tersebut. Well, agak was-was sebenarnya karena sedang pandemi. Tapi sayang kan kalau tidak manfaatkan. Akhirnya aku memutuskan untuk trip tanggal 29 Januari sampai 1 Februari 2021 ke Lombok.

𝗸𝗼𝗺𝗽𝗲𝘁𝗶𝘀𝗶 𝗝𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗵𝗶 𝗞𝗼𝗻𝗲𝗸𝘁𝗶𝘃𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀𝗽𝗼𝗿𝘁𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁𝗲𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗵𝘂𝗯𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗥𝗲𝗽𝘂𝗯𝗹𝗶𝗸 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮

Fasilitas

- Tiket Pesawat PP Jakarta-Lombok untuk 2 orang.

- Hotel Bintang 4 selama 4 hari 3 malam di Hotel Lombok Astoria.

- Trip 4 hari 3 malam (termasuk guide, makan, minum, tiket masuk wisata, bensin, parkir, kapal, snorkel, dan dokumentasi, tetapi tidak termasuk biaya untuik Rapid Test Antigen).

- Uang saku Rp 2.500.000,-

Persiapan Perjalanan Saat Pandemi

Jadi ada beberapa check list yang harus dipersiapkan sebelum melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat ke Lombok saat masa pandemi ini, yaitu:

- Menyiapkan tiket perjalanan.

- Memiliki surat keterangan rapid test antigen dengan hasil negatif berlaku selama 2 hari (sesuai dengan peraturan yang berlaku saat perjalanan tanggal 29 Januari sampai 1 Februari 2021). Karena perjalananku selama 4 hari, maka aku harus melakukan test sebanyak 2 kali, sekali saat keberangkatan dan sekali saat kepulangan.

- Melakukan validasi di bandara keberangkatan.

- Melakukan check-in di bandara keberangkatan.

- Mengisi data pada aplikasi electronic Health Alert Card (eHac) yang dapat didownload di Google Store atau Apple Play Store (siapkan data diri, alamat tujuan, waktu ketibaan, nomor kursi pesawat, kode penerbangan, dll).

- Memperlihatkan barcode pada aplikasi eHac setibanya di bandara tujuan kepada petugas.

Selama jelajah Lombok, aku ditemani oleh mama. Sehari sebelum berangkat, aku dan mama sudah menjalani test antigen untuk memastikan kami bebas dari virus Covid-19 dan dapat melakukan perjalanan. Biaya rapid test bervariasi tergantung klinik atau rumah sakit yang melaksanakan, kisarannya antara Rp 90.000,- sampai Rp 250.000,-.

Test antigen dilakukan sehari sebelum perjalanan dengan masa berlaku selama 2 hari. Namun yang perlu dicatat, bahwa setiap daerah tujuan mempunyai aturan yang berbeda-beda, jadi harus diperhatikan. 

Itinerary

Day 1: Desa Sade dan Pantai Kuta Mandalika

Selama perjalanan tentu saja protokol kesehatan sangat ketat aku terapkan. Saat di pesawat hingga tiba di Lombok, aku tidak melepas masker dan selalu menjaga jarak dengan orang sekitar. Untungnya penerbangan saat itu tidak terlalu ramai dan pesawat juga menerapkan physical distancing dalam pemilihan kursi, dimana kursi bagian tengah dikosongkan. Suasana bandara Lombok saat itu cukup sepi tidak seperti tahun 2016 silam saat pertama kali aku ke sana.

Setibanya di Bandara Internasional Lombok Praya, aku langsung bertemu dengan Mas Andi, guide yang akan menemaniku selama 4 hari 3 malam jelajah Lombok. Hal pertama yang aku lakukan adalah makan siang haha sudah lapar sekali rasanya.

Aku makan siang dengan Nasi Balap Puyung yang letaknya tidak terlalu jauh dari bandara. Makanan ini merupakan makanan khas lombok yang menyajikan burung goreng, daging, kangkung plecing, dan banyak lagi. Aku pesan menu paket lengkap, jadi lauknya cukup banyak, sekitar 5 jenis hehe. 

Setelahnya aku menuju desa adat suku sasak, Desa Sade, yang masih dihuni oleh masyarakat asli suku sasak yang tinggal di rumah adat khas suku sasak. Atap rumah terbuat dari ilalang yang dirakit sedemikian rupa sehingga tidak bocor saat musim hujan dan tidak panas saat musim kemarau, lantainya pun masih tanah namun ada juga yang sudah di semen. Uniknya, masyarakat desa biasa membersihkan lantai rumah mereka dengan kotoran sapi, yang memang sudah tradisi turun temurun.

Saat mengunjungi Desa Sade, aku ditemani oleh guide lokal dari desa tersebut. Guide tersebut bercerita mengenai sejarah suku sasak yang tinggal di Desa Sade, kurang lebih ada 150 keluarga atau sekitar 700 orang yang tinggal di desa tersebut. Mata pencarian utama masyarakat desa adalah bertani dan menenun, oleh karena itu hampir setiap rumah memasarkan hasil tenunan mereka di depan rumah masing-masing untuk dibeli oleh pengunjung.

Desa Adat Sade
Desa Adat Sade
Desa Adat Sade
Pohon cinta di Desa Adat Sade

Hanya aku pengunjung yang mampir saat itu, sebelumnya hanya ada satu rombongan yang berwisata. Memang sejak pandemi melanda, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Desa Adat Sade menurun drastis. Aku pun syok mengingat terakhir kali aku kesana, sangatlah ramai bahkan antri untuk berfoto. Satu sisi, miris rasanya melihat tempat wisata yang kosong, apalagi warga disana menggantungkan hidup dari sektor wisata.

Destinasi selanjutnya adalah Pantai Kuta Mandalika. Mandalika merupakan kawasan destinasi wisata super prioritas yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Keratif tahun 2021. Wow, tidak menyangka bahwa kaki ini beranjak menjajakinya hehe. Tahukan kamu bahwa saat ini sedang dibangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika? 

Kuta Mandalika Lombok
The Mandalika
Kuta Mandalika Lombok
Kuta Mandalika

KEK Mandalika mengusung pariwisata sebagai konsep utamanya, dimana pariwisata yang dikembangkan berwawasan lingkungan dengan daya tarik objek wisata alam serta berorientasi terhadap kelestarian lingkungan hidupnya. Bukan hanya itu, Mandalika juga dipilih menjadi arena pertandingan MotoGP, pertandingan balap motor internasional, yang rencananya akan diadakan tahun 2021. Sudah siap menyambut sirkuit jalan raya pertama di dunia yang akan dibangun di KEK Mandalika? Oh, I can't wait!!

Salah satu destinasi wisata yang menarik di KEK Mandalika adalah Pantai Kuta Mandalika. Keistimewaan pantai ini adalah bentuk pasirnya yang bulat menyerupai merica, atau biasa disebut pasir merica. Wah, pantainya bagus banget sih, bersih, airnya biru, karangnya unik, dan yang paling mengejutkan adalah super sepi hehe hanya ada aku, beberapa turis lokal, dan pedagang. Puas banget sih mau foto-foto gak perlu takut bocor keliatan orang lain haha.

Pantai Kuta Lombok
Pantai Kuta Lombok
Pantai Kuta Mandalika Lombok
Pasir merica di Pantai Kuta Lombok

Day 2: Pantai Senggigi, Taman Air Narmada, Desa Sukarara, dan Oleh-Oleh

Awalnya hari kedua aku berencana untuk snorkeling di tiga gili, namun karena cuaca tidak mendukung dan gelombang air laut cukup tinggi, akhirnya aku memutuskan untuk menukar jadwalnya. Jadi hari kedua cukup santai, menyelusuri Senggigi Hill yang super sepi, foto-foto sebentar kemudian lanjut ke Taman Air Narmada.

Pantai Sengigi Lombok
Pantai Sengigi

Taman Air Narmada dulunya merupakan tempat peristirahatan raja yang sekarang diubah menjadi destinasi wisata yang katanya menyimpan air awet muda, ih wow. Saat raja sudah bertambah tua, beliau tidak bisa lagi mengikuti upacara keagamaan di Gunung Rinjani, sebab itulah dibuat taman air ini yang arsitekturnya menyerupai Gunung Rinjani. Jangan lupa mampir ke Bale Pertirtaan yang menyimpan mata air yang konon bisa membuat awet muda.

Taman Air Narmada Lombok
Taman Air Narmada

Lombok terkenal dengan kain tenunnya, salah satu tempat untuk mendapatkan tenun asli Lombok dengan kualitas yang bagus adalah di Desa Sukarara. Semua perempuan di desa ini diharuskan bisa menenum, kalau tidak bisa, maka perempuan tersebut tidak diperkenankan untuk menikah. Maka tidak heran kalau hasil tenunan dari Desa Sukarara ini dijamin kualitasnya karena sudah diwariskan turun temurun.

Lagi-lagi aku merupakan satu-satunya pengunjung yang berkunjung saat itu. Aku disambut oleh warga lokal yang menjadi guide. Aku juga mencoba pakaian adat khas suku sasak, yang terdiri dari kain songket, atasan berwarna hitam dan selendang yang dipasangkan di bagian dada. Setelah mencoba pakaian khas suku sasak, aku dipersilahkan untuk mengambil foto di replika rumah adat sasak yang ada di sana. 

Desa Sukarara Lombok
Desa Tenun Sukarara

Semua hasil tenun warga Desa Sukarara di jual di koperasi, mulai dari songket, kain meteran, ikat kepala, taplak meja, tas, dan banyak lagi. Harga yang ditawarkan bervariasi tergantung dari tingkat kesulitan tenunannya. Jangan takut untuk menawar ya, karena kamu diperkenankan untuk menawar jika memang ingin membelinya.

Oleh-oleh lainnya yang terkenal dari Lombok selain kain tenun adalah mutiara Lombok. Aku mampir ke Toko Mutiara milik Hj. Siti Hajar yang katanya merupakan pemasok mutiara ke para penjual mutiara di Lombok. Jujur, mutiaranya bikin naksir hehe. Harga mutiara air tawar lebih murah dibandingkan air laut, katanya sih karena mutiara air tawar dibudidaya di China, sementara mutiara air laut merupakan hasil budidaya Indonesia. Silahkan dipilih-pilih sesuai budget masing-masing yaa.

Malamnya aku mencicipi Sate Rambiga Ibu Sinnaseh yang sangat terkenal di Lombok. Aku pesan sate sapi dengan sambal khas daerah Rambiga yang sangat pedas namun menggugah selera. Selain itu, aku juga pesan babalung yaitu semacam sop iga tapi tanpa sayuran, dan tentunya plecing kangkung yang wajib menjadi teman semua makanan di Lombok. Maknyus rasanya, enak banget hehe. 

Day 3: Hoping Island Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, Bukit Malimbu, dan Villa Hantu

Thank God, akhirnya hari ini bisa main air di laut. Yippie, snorkeling lagi, rasanya super duper happy. Aku bersama guide menggunakan kapal private yang berangkat dari Dermaga Teluk Nara. Lagi-lagi hanya aku yang akan hoping island saat itu, wow like a private island banget gak sih? haha. 

Gili Trawangan Lombok
Pantai Gili Trawangan

Tujuan pertama adalah Gili Air, snorkeling bersama ikan warna warni disana. Walaupun sudah pernah merasakannya, tapi tetap saja rasanya beda hehe. Selanjutnya ke Gili Meno, melihat patung yang menjadi daya tarik disana, yaitu patung sekumpulan orang yang membentuk lingkaran. Konon patung ini sengaja dibuat pada tahun 2017. Terakhir, aku snorkeling bersama penyu laut di Gili Trawangan, mengagumkan aku berhasil bertemu dengan 5 ekor penyu yang sedang berenang-renang di tengah laut, so cute.

Gili Trawangan Lombok
Gili Trawangan

Kapal menepi di Gili Trawangan untuk istirahat dan menikmati santap siang. FYI, kendaraan bermotor tidak diperbolehkan untuk beroperasi di Gili Trawangan, jadi kendaraan yang dapat dipakai disana hanya sepeda, cidomo (andong), dan sepeda listrik. Sungguh kaget aku dengan suasana Gili Trawangan saat itu, sangat sepi. Bahkan bisa dibilang hanya aku dan beberapa orang (bisa dihitung jari) yang sedang menikmati liburan. Selebihnya adalah warga lokal yang bersantai, tapi itu juga tidak banyak.

Banyak hotel dan cafe yang tutup, cidomo yang lewat hanya mengangkut pasir, bukan para turis, bahkan banyak barisan parkiran sepeda yang dirantai karena tidak ada penyewa. Apakah ini Gili Trawangan yang ramai itu? Menurut cerita guide yang menemaniku, sejak kejadian gempa Lombok beberapa tahun silam, wisatawan yang berkunjung ke Gili Trawangan mulai berkurang. Saat renovasi pasca gempa selesai, Gili Trawangan mulai ramai kembali, namun tidak lama kemudian pandemi kembali melumpuhkannya. 

Gili Trawangan Lombok
Bersepeda keliling Gili Trawangan

Tahun 2016 jalan utama Gili Trawangan selalu macet menjelang sunset. Namun, saat ini jalanannya kosong, tidak ada orang lalu lalang, hanya beberapa warga lokal yang lewat atau sekedar duduk-duduk. Semoga pandemi ini cepat berlalu, agar sektor pariwisata bisa bangkit kembali dan menunjukkan pesona keindahannya. Amin.

Kembali menuju Dermaga Teluk Nara dan melanjutkan perjalanan menyambut matahari tenggelam di sepanjang Malaka atau Malimbu. Turun sebentar untuk berfoto di Bukit Malimbu dengan pemandangan garis laut yang mebiru diikuti dengan beberapa monyet yang berkeliaran. Hati-hati dengan barang bawaan kalian yah.

Bukit Malimbu Lombok
Bukit Malimbu

Selanjutnya menanti sunset di Villa Hantu. Eit, jangan horor dulu, villa ini bukan villa berhantu, hanya villa yang pembangunannya tidak selesai karena ditinggal oleh pemiliknya. Villa ini dijadikan tempat wisata untuk menikmati tenggelamnya matahari. Sepertinya villa ini menjadi favorit pemuda-pemudi warga lokal untuk nongkrong dan foto-foto, karena memang pemandangannya indah banget pas sekali menutup jalan-jalanku pada hari ketiga.

Villa Hantu Lombok
Pemandangan dari atas Villa Hantu

Day 4: Pantai Tanjung Aan dan Bukit Merese

Hari terakhir di Lombok diisi dengan menyusuri Pantai Tanjung Aan dan Bukit Merese. Pantai Tanjung Aan terkenal dengan pasir putihnya yang halus dan air lautnya yang biru. Spot ikonik di Pantai Tanjung Aan tentu saja adalah ayunan kayu yang terletak di pinggir pantai. Rasanya seperti private beach karena sepanjang pantai hanya ada rombonganku, dua orang bapak-bapak pedagang, dan satu anak kecil yang selalu mengikutiku untuk menawarkan dagangannya. 

Pantai Tanjung Aan Lombok
Ayunan yang terletak di pinggir pantai
Pantai Tanjung Aan Lombok
Pantai Tanjung Aan

Seandainya hari ini bukan jadwalku pulang, pasti aku sempatkan untuk bermain air sejenak. Suasana siang itu sangat tenang, hanya terdengar deburan ombak dan sayupnya suara angin. Kedai pedagang di pinggir pantai semuanya tutup ya mungkin karena tidak ada lagi turis yang berkunjung, lalu parkiran kendaraan pun kosong, hawa siang itu terkesan sedikit spooky haha karena suasananya benar-benar sepi. 

Oh, ternyata ada seorang bapak penggembala sapi di atas Bukit Merese. Totalnya hanya ada 7 orang disana saat itu, aku, mama, guide, 3 orang pedagang, dan bapak penggembala. Rekor banget sih ini, seumur hidup baru kali ini merasa seperti penguasa pantai dan bukit haha. Pemandangan dari atas Bukit Merese sangatlah indah, seperti replika padang rumput New Zealand yang dibundle dengan pemandangan lautan dari atas bukit. Bahasa lebaynya so magnificent very impressive! Penutupan trip yang sangat luar biasa, gak sabar rasanya ingin kembali berkunjung! 

Bukit Merese Lombok
Pemandangan dari atas Bukit Merese bersama kerbau-kerbau
Bukit Merese Lombok
Bukit Merese

Nah, sebelum melakukan perjalanan kembali ke Jakarta, aku mengisi perut terlebih dahulu di Nasi Balap Puyung Inaq Esun yang letaknya persis di seberang jalan masuk menuju bandara. Setelah itu, sebelum memasuki area keberangkatan, aku dan mama kembali melakukan rapid test antigen di Bandara Lombok, tepatnya di dekat parkiran mobil. Puji Tuhan, hasilnya negatif. 

Epilog

Bersyukur sekali bisa merasakan liburan gratis ditengah suntuknya situasi pandemi. Namun, aku menghimbau agar kiranya kita semua tetap waspada dan mengikuti 5M protokol kesehatan dimasa pandemi. Jangan lupa mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Selalu menjaga imun dengan makanan bergizi dan minum yang cukup.

Akhir kata, terima kasih kepada Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dan Suara.Com atas kesempatan yang diberikan untukku. Nah, kalau kamu ingin menonton video singkat cerita liburanku, boleh mampir dan langsung aja klik ke channel youtube-ku hehe. See you next trip! Stay safe and keep healthy :)






Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments