Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

In Singapura Travel

Singapura Trip: 5 Spot Foto "Instagramable" Gratis

Meskipun traveling belum menjadi prioritas di masa pandemi ini, tapi tidak ada salahnya kalau kamu mau mempersiapkan rencana liburan buat ke depannya. Nah, kalau kamu berencana traveling ke Singapura, pastikan kamu mengunjungi landmark terkenal yang menjadi ikon wisata di negara singa ini, seperti Garden By The Bay, ArtScience Museum, Marina Bay Sands, Universal Studio Singapore, dan lainnya. 
Koon Seng Road
Namun, kebanyakan dari destinasi iconic tersebut memerlukan tiket masuk yang lumayan mahal. Nah, kalau budget kamu terbatas tapi mau tetap hits, tenang, aku akan kasih beberapa list tempat wisata gratis yang bisa dijadikan spot foto instagramable di Singapura. Semua tempat ini sudah aku telusuri saat solo traveling ke Singapore tahun 2019 lalu. Please check this out!

[1] The Old Hill Police Station

The Old Hill Police Station
The Old Hill Street Police Station

Bangunan ini disebut juga sebagai Gedung MICA yang dulunya adalah markas besar kolonial, letaknya persis di dekat persimpangan River Valley Road dan Hill Street. Tahun 1934, gedung ini resmi dibuka dan menjadi gedung pemerintahan terbesar di Singapura. Tahun 1998, gedung ini diresmikan sebagai monumen nasional.


The Old Hill Police Station
Spot foto instagramable

The Old Hill Street Police Station dibangun dengan gaya neoklasik yang simetris. Tampak luarnya terdapat 927 jendela berwarna-warni membentuk gradasi pelangi. Tidak heran kalau tempat ini banyak dijadikan ajang berfoto karena rupanya sangat instagramable. Tips dari aku, jangan lupa memakai baju colorful jika ingin berburu foto disini ya.

The Old Hill Police Station
Tampak depan bangunan The Old Hill Street Police Station

Letak The Old Hill Street Police Station dekat sekali dengan Clarke Quay, berjalanlah menuju persimpangan River Valley Road dan Hill Street. Kamu juga bisa menggunakan bus umum yang melalui jalur Hill Street. Kalau ingin naik MRT, turun di Clarke Quay Station dan keluar melalui Exit F dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 3 menit. Kalau bingung, search aja di google maps dan ikuti petunjuknya.

[2] Fort Canning Park Tree Tunnel

Fort Canning Park
Fort Canning Park

Fort Canning Park merupakan taman umum yang sangat luas yang dulunya merupakan suatu benteng. Tapi pernahkan kamu melihat suatu tunnel atau terowongan dengan pemandangan seindah ini? Saat pertama kali aku mencoba mencari tempat ini, aku kesasar hehe. Aku malah sampai ke area utama Fort Canning Park, padahal tunnel itu jauh sekali dari pintu utama Fort Canning Park.

Fort Canning Park Tree Tunnel
Fort Canning Tree Tunel

Berbekal informasi dari Instagram Singapore Guide Book (@singaporeguidebook) akhirnya aku sampai juga. Kebanyakan orang kesulitan mencari tempat ini, karena memang saat itu belum ada di maps. Tapi untung saja aku menemukan info dan bertemu juga dengan sesama orang Indonesia di sana. Jadi, kami bersama-sama deh mencari jalannya. Dan ketemu!!! Terharu :")

Tempat ini dijuluki "the underground crossing of fort canning park" karena memang tempat ini merupakan terowongan penyebrangan pejalan kaki yang menghubungkan Fort Canning Road dengan Penang Road. Jadi, wajar saja kalau tidak terdeteksi di maps hehe. Asiknya lagi, tempat ini gratis dan tidak ada tiket masuknya, tapi siap-siap antri untuk berfoto yah, karena pasti akan ramai sekali.

Fort Canning Park Tree Tunnel
Jalan menuju tunnel

Untuk menuju Fort Canning Park Tree Tunnel kamu bisa naik MRT turun di Stasiun Dhoby Ghaut, keluar melalui Exit B kemudian naik eskalator ke atas dan keluar stasiun. Selanjutnya, menyeberanglah melewati Penang Road hingga bertemu dengan The Park Mall, kemudian belok ke arah kiri dan berjalan lurus sekitar 10 menit.

Lalu carilah "the dragon head pond" yang sebenarnya tidak ada airnya, setelah itu jalan terus sampai kamu menemukan turunan yang mengarahkan kamu ke terowongan untuk pejalan kaki menuju Fort Canning Road. Nah, di ujung terowongan itu, kamu bisa menemukan tangga spiral dengan view pohon yang sangat keren. Hmm, gimana sudah jelas belum? Mending langsung dipraktekin aja guys.

[3] Chijmes

Chijmes SIngapore
Chijmes
Chijmes mulai naik daun dan terkenal sejak dijadikan tempat syuting film Crazy Rich Asia beberapa tahun silam. Udah pernah nonton filmnya belum guys? Nah, Chijmes ini merupakan gereja pada saat adegan pemberkatan pernikahan Nick Young dan Rachel Chu.
Chijmes Singapore
Bangunan depan Chijmes
Sampai saat ini pun Chijmes masih dijadikan tempat untuk pemberkatan pernikahan walaupun tidak lagi digunakan sebagai gereja. Saat aku berkunjung ke sana, aku tidak dapat melihat bagian dalam gedung karena sedang berlangsung acara pernikahan. Akhirnya aku berkeliling menuju area lain di Chijmes. 

BACA JUGA: 
Tempat yang Wajib Kamu Kunjungi di Vientiane, Laos!

Bangunan ini merupakan salah satu tempat bersejarah di Singapura. Dulunya Chijmes merupakan sebuah biara dan sekolah Katolik untuk anak perempuan, sementara bagian depannya adalah kapel makanya bentuknya seperti gereja.

Chijmes Singapore
Bangunan belakang Chijmes

Saat ini Chijmes merupakan tempat hangout warga lokal dan turis Singapura, banyak cafe dan resto hitz di dalamnya, ada yang indoor ada pula yang outdoor. Bangunannya yang memiliki gaya gothic klasik dengan dominan warna putih ini, memancarkan desain arsitektur yang sangat menawan. 

Kalau hanya ingin berfoto, datanglah pagi hingga sore hari saat suasana masih terang dan tentu saja gratis. Namun kalau ingin kongkow, better sore sampai malam hari, karena kebanyakan resto di Chijmes mengusung suasana outdoor dengan live music. Kamu bisa memesan aneka macam makanan dengan harga yang agak pricey.

Chijmes Singapore
Cafe-cafe di area Chijmes

Search aja CHIJMES di maps, maka kamu akan diarahkan untuk menuju ke sini. Gampangnya, naik MRT dan turun di Stasiun City Hall, kemudian berjalan sekitar 3 menit, sampai deh. Chijmes terletak di 30 Victoria Street ya, buka dari jam 9 pagi hingga jam 12 malam guys!

[4] Koon Seng Road

Kong Seng Road Singapore
Kong Seng Road

Deretan rumah warna-warni dengan gaya Peranakan yang elektrik dan sangat estetik ini bisa kamu jadikan tempat foto instagramable juga guys. Dahulu daerah ini dinamakan Lorong East Coast, namun sejak tahun 1934 berubah menjadi Koon Seng Road. Jalan ini cukup terkenal karena terdapat deretan rumah nyentrik berwarna-warni.

Kong Seng Road Singapore
Rumah khas peranakan dengan gaya elektrik berwarna-warni

Kamu bisa mengarahkan petamu diantara Jalan Joo Chiat dan Still Road. Sepanjang jalan Koon Seng Road terdapat jejeran ruko-ruko tiga lantai yang dihiasi keramik khas Peranakan dengan berbagai motif dan warna. Keunikan tempat ini membuat banyak turis mampir untuk sekedar mengambil foto dan berkeliling sepanjang Koon Seng Road.

Untuk mencapainya, kamu tentu saja bisa menggunakan transportasi umum, walau rutenya agak panjang. Kamu bisa menggunakan MRT, kemudian turun di Stasiun Dakota dan berjalanlah menuju halte bus Old Airport Road. Selanjutnya Naik bus nomor 33 dan turun di Flora East, Joo Chiat Place. Sampai deh, kamu bisa berjalan kaki menyusuri Koon Seng Road.

[5] Bugis Colorful Spiral Staircases

Colorful Spiral Staircase Bugis
Colorful Spiral Staircase

Sebenarnya ini bukanlah tempat wisata, hanya hidden gem yang kebetulan warna-warni dan instagramable. Aku juga bingung menamakan tempat ini apa, karena di sumber lain juga tidak ada nama khusus untuk tempat ini. Sudah sering aku melihat beberapa traveler berfoto di tempat ini, tadinya ku pikir ini adalah suatu tempat wisata, ternyata salah.

Tangga-tangga spiral ini adalah rumah tinggal yang terletak di daerah Bugis, tepatnya dekat sekali dengan Bugis Junction, suatu pusat perbelanjaan yang terkenal dengan international branded berharga miring. Boleh juga melipir sebentar sembari borong belanjaan.

Bugis Colorful Spiral Staircases
Spot foto instragramable di daerah Bugis hasil jepretan stranger hehe

Sebut saja Bugis Colorful Spiral Staircases yah hehe, letaknya terselip di sebuah lorong diantara pertokoan, tepatnya di bagian belakang ruko-ruko di daerah Bugis Village. Karena letaknya di lorong, jadi memungkinkan keadaannya kurang kondusif untuk berfoto. Banyak mobil parkir, orang lalu lalang, dan aroma sampah yang sangat mengganggu.

Awalnya aku sempat kesulitan mencari lokasinya, namun akhirnya secara tidak sengaja i found that hidden gem. Alamatnya di 233 Victoria Street, Bugis Village. Saat itu aku naik bis dan turun di Bugis Junction. Nah, kamu juga bisa menggunakan MRT dan turun di Stasiun Bugis. Kemudian kamu bisa berjalan sembari mencari lokasinya.
***

Beruntunglah solo traveling ke Singapura kemarin, semua foto ootd lumayan bagus-bagus hehe. Muka tebal aja deh pokoknya minta tolong sama stranger yang sekiranya anak baik-baik. Dan percayalah masih banyak hidden gem lainnya yang bisa kamu jadikan spot foto instagramable di Singapura. 

Semua yang aku rekomendasikan tentu saja gratis tis tis hehe. Tempat lainnya akan aku tulis di postingan selanjutnya ya! Jadi, jangan sampai kelewatan! Yuk, mulai rencanakan liburanmu dari sekarang, setelah pandemi berakhir kamu bisa langsung traveling deh :)


Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments


In Malaysia Travel

Transit di Kuala Lumpur, Jangan Mati Gaya! Kunjungi Tempat Ini Sambil Tamasya!

Kuala Lumpur International Airport (KLIA) sering menjadi tujuan transit sebelum penerbangan menuju negara lain. Rasanya saking seringnya transit di KLIA, aku sampai hapal letak posisi tidur untuk bermalam di KLIA, mungkin nanti akan aku bahas di postingan selanjutnya ya. 
Menara Kembar Petronas
Buat kebanyakan orang, transit berjam-jam adalah hal yang membosankan, namun ada juga yang menganggap itu hal yang menyenangkan. Hayooo, kamu tim yang mana? Kalau aku sih tim yang kadang bahkan sengaja pilih penerbangan yang transitnya agak lama, supaya bisa explore bandara atau bahkan keluar bandara dan sejenak mampir ke beberapa destinasi di sana.


Nah, kalau transit sampai lebih dari 5 jam, masa sih cuma keliling bandara doang? Ya enggak dong, tentunya aku akan memanfaatkan waktu untuk explore beberapa tempat yang mudah dijangkau dari bandara. Kalau kamu transit di Kuala Lumpur, jangan sampai mati gaya, coba deh kunjungi beberapa tempat ini!

Beli Garrett Popcorn di KLIA 2

Garrett popcorn
Garrett popcorn (Source: website klia info)
Udah pernah coba Garrett Popcorn belum? Ini termasuk salah satu popcorn terenak sih menurutku. Official store Garrett Popcorn ASEAN kayaknya baru ada di Singapore dan Malaysia deh, cmiiw ya. Jadi, setiap aku mampir transit di Singapore atau Malaysia, gak akan pernah lupa buat mampir beli popcorn ini untuk oleh-oleh.

Nah, kalau kamu kebetulan transit dalam waktu yang lama, misalnya di atas 5 jam, coba deh keluar dulu dari imigrasi buat cuci mata. Buat yang langganan Air Asia kayak aku, udah paham pasti kalau arrival Air Asia itu di KLIA 2 guys. KLIA 2 ini banyak banget store barang branded dan berbagai macam makanan juga.

Pertama yang harus kamu lakukan adalah keluar dari imigrasi dan customs check. Hal selanjutnya setelah keluar dari imigrasi adalah langsung berburu Garrett Popcorn. Letaknya satu lantai dengan arrival hall KLIA 2, yaitu di Gateway@KLIA2 Lot L2-112, Level 2. 
Garrett popcorn
Store Garrett Popcorn (Source: website klia info)
Saranku, sebaiknya kalau kamu ingin mampir membeli popcorn ini, belilah saat arrival time karena letaknya dekat sekali dengan arrival hall. Kalau kamu membeli saat keberangkatan, sepertinya agak repot ya, mengingat kamu juga harus mengejar jadwal penerbangan selanjutnya.

Kenapa sampai segitunya sama Garrett Popcorn? Percayalah guys, rasanya super enak. Favorit aku sih chicago mix ya, campuran antara popcorn caramel dengan popcorn keju. Walaupun harganya pricey untuk ukuran popcorn, tapi serius kamu gak akan nyesel karena rasanya beeeuuuh endolita guys!

Batu Caves

Setelah kamu selesai berburu Garrett Popcorn di KLIA, lanjut yuk keluar bandara dulu untuk explore Batu Caves. Rutenya mudah kok, pertama kamu harus membeli tiket bus tujuan KL Sentral, ada banyak pilihan provider bus dan jadwal keberangkatannya, biasanya 30 menit sekali. Ada Skybus dan Aerobus, juga bisa naik kereta KLIA Express.
Arrival hall klia 2
Arrival hall KLIA 2 (Source: website klia info)
Kamu bisa membeli tiket di KLIA 2 Transit yang terletak di Gateway@KLIA2, tinggal lurus saja dari arrival hall atau ikuti petunjuk arahnya. Harga tiket Skybus RM 11, Aerobus RM 12, dan KLIA Express RM 55. Kamu juga bisa membelinya secara online di website masing-masing provider. Perjalanan dari KLIA 2 menuju KL Sentral kurang lebih memakan waktu sekitar 30-45 menit.
KLIA 2
Tempat pembelian tiket bis di KLIA 2 (Source: website klia info)
Setibanya di KL Sentral, ikuti petunjuk arah menuju loket pembelian tiket. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan KTM Komuter Line tujuan Batu Caves-Pulau Sebang. KL Sentral itu semacam stasiun besar yang terintegrasi dengan berbagai moda transportasi, jadi tidak perlu khawatir karena petunjuk arahnya sangat jelas. Perjalanan memakan waktu sekitar 40 menit dengan tarif RM 2,6. Setibanya di Stasiun Batu Caves, kamu tinggal jalan deh menuju destinasi utama. 

Batu Caves adalah wisata alam bernuansa religi, disini kamu akan merasakan nuansa Hindu yang kental dan bertemu dengan beberapa orang warga lokal yang melakukan ibadah. Selain itu, kamu juga akan menemui sebuah patung emas raksasa yang diyakini adalah Dewa Kartikaya atau Dewa Murugan, pelindung bagi bangsa Tamil.
Batu Caves malaysia
Pintu masuk Batu Caves menuju stasiun
Sebenarnya kamu juga bisa mendaki dan menjelajahi gua yang terletak di atas bukit. Perlu effort tenaga dan waktu jika mau masuk ke sana. Tapi ingat yah, barang bawaanmu pasti cukup banyak (kalau kamu tim anti bagasi kayak aku hehe) dan juga waktu transit yang tidak panjang. Jadi, menurutku cukup untuk sekedar berfoto di area utama saja dan tidak perlu menjelajah gua.
batu caves tahun 2017
Batu Caves tahun 2017
Batu caves malaysia
Batu Caves tahun 2019
Pertama ke Batu Caves tahun 2017, kemudian kembali lagi di akhir tahun 2019 yang lalu. Ternyata banyak perubahan signifikan yang membuat Batu Caves jadi lebih terawat dan berwarna. Tangga-tangga menuju gua dicat warna-warni, begitu juga dengan pilar-pilar disekitarnya. So, colorful!
Waktu terbaik mengunjungi Batu Caves adalah pagi hari saat masih sepi pengunjung dan matahari tidak terlalu terik. Destinasi ini gratis alias tidak dipungut tiket masuk dan sepertinya terbuka setiap saat untuk dikunjungi. Jangan terlalu lama menghabiskan waktu, karena masih ada destinasi selanjutnya.

Menara Kembar Petronas 

Menara Kembar Petronas
Menara Kembar Petronas
Selanjutnya mari melanjutkan perjalanan menuju Menara Petronas, sebuah landmark yang menjadi simbol negara jiran, Malaysia. Tidak sah ke Malaysia kalau tidak mampir ke Menara Petronas ini ya kan? Makanya, yuk sempatkan diri mampir sebentar ke menara ini!

Sangat mudah menuju lokasi ini dari Batu Caves, kamu perlu kembali ke KL Sentral dengan menggunakan transportasi yang sama, KTM Komuter Line tujuan Batu Caves-Pulau Sebang dan turun di KL Sentral. Lama waktu dan tarif perjalanan masih sama seperti sebelumnya.
Petronas twin tower kuala lumpur
Spot foto wajib di Menara Petronas
Tiba di KL Sentral, kamu harus berganti moda transportasi dengan LRT Kelana Jaya Line lalu turun di KLCC, stasiun yang paling dekat dengan Menara Kembar Petronas dengan tarif RM 1,2. selama kurang lebih 10-15 menit. Stasiun KLCC langsung terintegrasi dengan Suria KLCC Mall yang terletak persis di bawah menara kembar, jadi silahkan kalau mau mampir keliling mall terlebih dahulu.

Tapi kalau kamu mau langsung berfoto dengan latar belakang menara kembar, dari stasiun KLCC keluarlah melalui Exit Jalan Ampang. Kemudian kamu harus berjalan kaki menuju spot foto dengan background Petronas Twin Tower. Gampang kan? Tapi saat pertama kali, aku kesulitan mencari spot tersebut, sehingga harus bertanya dulu ke beberapa petugas mall haha.
KL Sentral
Bus stop KL Sentral ke KLIA (Source: website klia info)
Kalau sudah puas berfoto dan ingin kembali menuju KLIA 2, kamu bisa mengikuti rute yang sama, dari KLCC menuju KL Sentral dengan LRT Kelana Jaya Line. Kemudian lanjut dengan Aerobus, Skybus, atau KLIA Express menuju KLIA 2. Oh iya, perhatikan jadwal penerbanganmu selanjutnya, apakah dari KLIA 1 atau KLIA 2, karena kalau nyasar jaraknya cukup jauh.

Cuci Mata di Duty Free KLIA

Kuala Lumpur international airport
Shopping di KLIA (Source: website klia info)
Anyway
 jangan sampai terlena ya, karena waktumu terbatas. Kamu harus sampai bandara minimal 1,5 -2 jam sebelum boarding. Tidak apa terlalu lama, karena kamu masih bisa cuci mata di duty free yang ada di bandara atau mencoba kuliner khas Malaysia di beberapa restaurant bandara.

Salah satu hal yang wajib kamu lakukan saat transit di bandara apapun adalah mencoba mengunjungi toko duty free yang ada di bandara. Kamu juga bisa membeli berbagai barang branded dan oleh-oleh. Kalau dari segi harga, memang harga di bandara jauh lebih mahal dibanding dengan harga di toko biasa, walaupun duty free tetap saja lebih mahal.

Tapi buat kamu yang gak bisa diam saat transit, boleh dicoba mengunjungi satu per satu toko duty free di bandara. KLIA sendiri terbilang modern dengan banyak sekali toko-toko yang bisa kamu kunjungi. Bandaranya udah kayak mall deh, jadi buat anak mall dijamin gak akan bosen untuk killing time sejam dua jamlah hehe.

Hal yang harus diperhatikan saat transit adalah waktu. Jangan terlalu lama menghabiskan waktu di satu tempat pun jangan dipaksakan pergi ke banyak tempat jika waktunya tidak memungkinkan. Pertimbangkan juga waktu perjalanannya, kalau mau cepat dan ringkas, kamu bisa langsung naik Grab atau taksi tapi tentu saja tarifnya lebih mahal.

Itulah caraku menghabiskan waktu transit yang panjang di Kuala Lumpur. Kalau kamu bagaimana? Sudah pernah mencobanya? Boleh banget loh share pengalamanmu di kolom comment hehe. Semoga postinganku kali ini bisa membantu kamu saat bosan menghadapi waktu transit yang sama di KLIA ya!

 

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments


In Laos Travel

Vientiane Day Trip

Vientiane merupakan ibu kota negara Laos, satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) yang tidak memiliki pantai atau tidak berbatasan langsung dengan laut. Laos dikenal juga dengan sebutan Lao People's Democratic Republis (Lao PDR). Seperti yang telah aku ceritakan dipostingan sebelumnya, aku berkunjung ke Vientiane dari Bangkok menggunakan bis malam selama kurang lebih 8-10 jam perjalanan.
buddha park laos
Nong Khai
Nong Khai boundary post
BACA JUGA: 
Perjalanan Bangkok ke Vientiane Pulang Pergi Naik Bis Penuh Drama

Tidak sampai 24 jam aku menjajaki negara yang menganut ideologi komunis tersebut. Namun, pengalaman yang aku dapat luar biasa mengesankan dengan berbagai bumbu drama didalamnya. Nah, Vientiane day trip kali ini, aku hanya sempat mengunjungi 3 tempat wisata dan mampir 'ngadem' disalah satu mallnya (teteup dong anak mall haha). Yuk, intip keseruan perjalananku menjelajah tempat wisata di Vientiane!

Sai-bai-dee!

Hello dalam bahasa Lao, dibaca "Sabaidi". Lumayan banyak drama yang aku alami saat traveling ke Vientiane. Setibanya di imigrasi Lao, langsung aja ada drama dimana tidak ada satu pun money changer yang buka, padahal sudah hampir pukul 8 pagi. 

Belum lagi drama pelayanan imigrasinya. Jadi, jam kerja petugas imigrasi dan bea cukai di Lao mulai pukul 8 pagi sampai 4 sore. Nah, ketika kalian ingin masuk ke Lao di luar jam kerja tersebut, kalian harus bayar extra time fee sebesar 10.000 Kip sekitar Rp 16.000 karena menyebabkan petugas bekerja di luar jam kerja.

Drama ATM ada lagi guys, jadi dari 3 mesin ATM di kantor imigrasi, hanya 1 ATM saja yang bisa digunakan, itu pun loadingnya cukup lama dan harus diulang beberapa kali. Kan lumayan banget kena potong biaya penggunaan kartu huhu. Tapi untungnya nilai tukarnya lebih rendah dibanding Indonesia, jadi berasa orang kaya banget deh jalan-jalan di Laos wkwk.

Paling drama adalah BAHASA haha, sulit sekali berkomunikasi dengan masyarakat karena tidak ada yang mengerti bahasa Inggris. Akhirnya bermodalkan bahasa isyarat dan google translate deh. Perkara mencari kendaraan umum menuju destinasi pertama, sudah menghabiskan waktu 30 menit sendiri karena kesulitan tanya sana sini.

Transportasi di Vientiane sangat terbatas, belum ada MRT, LRT, atau kereta. Tidak ada juga bis terintegrasi, hanya bis umum yang bentuknya cukup usang. Ada juga tuk-tuk dan mobil bak semacam angkot. Gojek atau Grab saat itu juga belum ada. Sepanjang mata memandang, aku juga tidak menemukan ada taksi di sekitar kantor imigrasi.

Buddha Park

buddha park laos
Buddha Park
Setelah selesai pengecekan imigrasi, aku menuju keluar kantor imigrasi untuk mencari bis menuju Buddha Park. For your information, di luar kantor imigrasi banyak bis umum dengan jurusan yang bervariasi. Jujur, aku lupa waktu itu naik bis nomor berapa, namun di bis ada tulisan "via Buddha Park". Supaya tidak salah, sebaiknya bertanyalah terlebih dahulu dengan warga sekitar.

Perjalanan dari kantor imigrasi perbatasan menuju Buddha Park hanya sekitar 15 menit dengan tarif 8.000 Kip setara Rp 13.000. Bisnya mirip dengan bis umum di Jakarta yang tidak jelas tempat pemberhentiannya. Jadi, kamu harus nyalakan maps dan sering-sering bertanya kepada supir. 

Bis berhenti tepat di depan pintu masuk Buddha Park. Kemudian aku membeli tiket masuk seharga 15.000 Kip atau setara dengan Rp 25.000. Beruntungnya saat itu pas sekali Buddha Park baru saja buka, sehingga masih sepi dan belum ada pengunjung lainnya. Anti cendol-cendol club deh hihi asik!

Buddha Park terkenal dengan sebutan Xieng Khuan atau Spirit City. Tempat ini merupakan taman patung yang dibangun sejak tahun 1958 oleh seorang seniman spiritual bernama Luang Pu Bunleua Sulilat. Letaknya persis bersebelahan dengan Sungai Mekong.
Buddha park laos
Patung buddha tidur
Jumlah patung yang terdapat di taman ini mencapai 200 patung dengan sentuhan Hindu dan Buddha. Bentuknya bermacam-macam dan serba unik, ada patung buddha tidur raksasa sepanjang 40 meter, patung bermuka tiga, patung buddha berdiri, patung berbentuk seperti pumpkin dan masih banyak lagi.

Kamu bisa menikmati pemandangan seluruh patung di Buddha Park dari ketinggian lho! Jika melihat sebuah patung berbentuk menyerupai pumkin, masuklah dari sana. Pintu masuknya melalui mulut sebuah patung yang terbuka lebar. Tapi hati-hati ya karena tangganya sempit dan curam. 
Buddha Park
Pintu masuk untuk melihat view Buddha Park dari atas
Bagian belakang Buddha Park terdapat taman bunga yang sangat luas, terdiri dari berbagai macam bunga warna-warni yang sedang bermekaran. Ada juga patung dekat dengan sebuah pohon raksasa yang bisa kamu panjat.

Kemudian aku beristirahat sejenak di kantin yang terdapat di area Buddha Park. Cuaca siang itu sangat panas sekali padahal waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi. Terdapat banyak penjual makanan dan minuman 

Perjuangan komunikasi terjadi lagi saat aku ingin memesan makanan haha bermodalkan tunjuk gambar makanan dimenu, akhirnya aku memesan papaya salad yang katanya menjadi makanan khas Laos, vegetable seafood semacam capcay, dan udang goreng haha standar banget menunya. Tapi yang penting udah coba papaya salad yang super segar ditengah terik matahari.
Lao foodLao food
Laos food: papaya salad dan nasi ketan

Vientiane Center Lao Mall

Drama selanjutnya terjadi lagi ketika mencari transportasi menuju pusat kota Vientiane. Berhubung Buddha Park terletak sekitar 25 km dari pusat kota Vientiane, jadi bisa memakan waktu cukup lama. Sementara beberapa bis yang lewat Buddha Park tidak sampai ke pusat kota. Kalau pun ada internal waktu bis lewat sangat lama, bisa satu jam sekali.

Taksi pun tak terlihat sama sekali. Tuktuk? Bukan ide yang bagus, pasti tarifnya mahal banget karena jaraknya jauh. Akhirnya setelah tanya sana sini berbekal google translate, aku naik sebuah mobil pick up beratap, ya semacam angkot gitu. Katanya akan diantar sampai ke terminal di kota dekat Patuxai, destinasi keduaku.

Seru sih naik angkot ini, anginnya sepoi-sepoi haha dan berdampingan dengan warga lokal. Fix deh jadi bahan tatapan setiap warga lokal yang naik, mentang-mentang turis hehe. Tarifnya murah, hanya 10.000 Kip atau Rp 16.000 dan gak bisa ditawar guys haha maklum hobiku nawar :")

Sayangnya aku tidak diturunkan di Patuxai, tetapi di tempat semacam terminal. Katanya tinggal jalan saja sebentar, langsung sampai. Gimana caranya tau arah jalan, internet pun aku tak punya. Drama selanjutnya terjadi lagi, tidak tahu arah dan tujuan karena tidak punya internet.

Kartu SIM yang aku pakai, masih kartu SIM Thailand, secara setelah selesai menapaki Vientiane aku akan kembali ke Bangkok. Jadi tidak terpikir untuk membeli internet. Sebenarnya di Buddha Park, internet masih bisa digunakan, namun memasuki pusat kota, zonk, sinyal internet terputus dan tidak ada public wifi sama sekali.

Hopeless gitu kan karena nyasar, panas, gak ada internet, gerah, susah ngomong, plus ditawarin tuktuk terus menerus sama supir-supir disana. Keliatan banget kali ya turis kebingungan. Tapi secercah harapan muncul ketika aku melihat sebuah bangunan megah di depan mata, Vientiane Center Lao Mall. Baiklah, ngadem dulu guys, mari kita ngemall sambil mencari wifi.

Vientiane Center Lao Mall siang itu terbilang sangat sepi, beberapa toko masih tutup. Aku iseng mengunjungi beberapa toko untuk mencuci mata. Sekilas harga barang branded di mall ini lebih murah dibandingkan di Indonesia. Tapi karena tidak ada niat belanja, ya cukup sampai memanjakan mata saja.

Mallnya biasa aja, menurutku jauh lebih bagus Grand Metropolitan Mall Bekasi sih (yuhuuu anak Bekasi mana suaranya?). Cukup random sih, sempat-sempatnya ngemall di Vientiane haha. Sebenarnya ini tidak ada di itinerary tapi ya karena drama jadilah akhirnya ngemall. Tapi lumayan, bisa dapat wifi untuk mencari akses menuju destinasi selanjutnya.

Patuxai/ Patuxay Monument

Patuxai Monument Vientiane
Patuxai Monument
Akhirnya memutuskan untuk naik tuktuk menuju Patuxai, karena menurut maps jaraknya sekitar 1,5 km. Jompo banget kalau harus jalan kaki. Serius, nawar tuktuk di Vientiane harus tebal muka dan pake urat. Nawarnya modal kalkulator aja, ketik aja harga yang kita tawar lalu perlihatkan kepada supir tuktuk. Kalau ikutin maunya supir tuktuk, mahal banget, rugi. Jadi harus ditawar ya!

Patuxai Monument artinya Victory Gate atau Gate of Triumph. Monumen ini merupakan adaptasi dari  Arc de Triomphe yang ada di Paris. Patuxai Monument adalah lambang dari kota Vientiane yang menjadi simbol perjuangan rakyat Laos atas jajahan Perancis selama lebih dari 50 tahun.

Dekorasinya merupakan gabungan dari unsur desain Laos dan Perancis. Jika dilihat lebih dekat, lukisan yang menghiasi dindingnya sangatlah detail dengan ukiran dan paduan warna yang indah. Patuxai dibangun pada tahun 1957 sampai 1968 oleh arsitek bernama Mr. Tham Sayasthsena. 
Patuxai Monument Vientiane
Detail ukiran pada bangunan Patuxai
Tidak ada biaya tiket masuk saat mengunjungi Patuxai Monument. Namun, jika kamu ingin melihat landmark kota Vientiane dari puncak Patuxai, kamu cukup membayar tiket seharga 5.000 Kip atau Rp 8.000 saja. Sayangnya, aku sudah terlalu lelah untuk menapaki satu per satu anak tangganya, jadi aku tidak menyempatkan diri sampai ke puncak.

Letaknya yang persis di tengah kota Vientiane, membuat Patuxai menjadi tempat wisata yang ramai dikunjungi. Pengunjungnya bukan hanya turis saja, namun juga warga lokal yang sekedar ingin bersantai. Area sekitar Patuxai cukup luas, dikelilingi taman yang terawat, serta terdapat sebuah kolam air mancur. Terdapat banyak bangku taman yang tersedia, jadi bisa bersantai sembari menghabiskan hari.
Patuxai Monument Vientiane
Area sekitar Patuxai
Namun, aku menyarankan untuk bersantai di pagi atau sore hari saat matahari belum terik bersinar. Matahari Laos sangatlah panas dan menusuk sampai ke pori-pori, terlebih sepanjang jalan yang aku tapaki di Vientiane sangat jarang ditemui pohon-pohon besar. Gersang sekali rasanya dan banyak debu berterbangan.

Pha That Luang

Pha That Luang
Pha That Luang
Nah, masih ingat kan kalau masyarakat Laos itu tidak paham bahasa Inggris sama sekali? Beruntungnya, aku bertemu dengan seorang supir tuktuk baik hati yang cukup fasih berbahasa Inggris. Ceritanya, aku mencari tuktuk untuk mengantarkanku ke destinasi selanjutnya, Pha That Luang. Tetapi kebanyakan supir tuktuk yang aku tanya malah kabur haha mungkin karena mereka tidak mengerti bahasaku.


Akhirnya aku secara tidak sengaja bertemu dengan supir tuktuk yang bersedia mengantarkanku ke Pha That Luang, bahkan menawarkan dirinya untuk menjadi guide tanpa biaya yang mahal. Baik banget. Setelah deal harga akhirnya supir tuktuk mengantarkan ku ke Pha That Luang, lalu kami janjian untuk bertemu lagi di tempat yang sama setelah 2 jam aku berkeliling.

Hanya modal kepercayaan dan janjian saja, karena aku tidak punya internet dan pulsa untuk menghubungi si supir tersebut. Sementara, supir tuktuk tidak mau stay, karena katanya terlalu lama menungguku. Dia bilang, bahwa dia masih mau mengambil penumpang lain, sembari menungguku selesai berkeliling. 

Area Pha That Luang sangat luas sekali, terdapat beberapa tempat yang bisa dikunjungi. Namun, karena keterbatasan waktu dan lagi-lagi karena jompo dan kepanasan, aku hanya menapaki 3 tempat saja. Tapi yang jelas, kamu wajib mengunjungi stupa emas That Luang yang menjadi candi utama di area ini.

Ketika memasuki area, terdapat sebuah bangunan megah berwarna merah keemasan di sisi sebelah kiri dari arah kedatangan. Entah itu bangunan apa, karena tulisannya menggunakan aksara Laos, mohon maaf tidak paham haha. Namun, bangunan tersebut dibangun atas hubungan Laos dan Perancis karena terdapat simbol kedua negara tersebut dalam papan pengenalnya.
Pha That Luang Laos
Bangunan di area Pha That Luang
Pha That Luang atau Great Stupa merupakan stupa Buddha berlapis emas yang dinilai sakral oleh masyarakat Laos. Konon katanya di dalam stupa ini terdapat rongga yang menyimpan sebuah benda keramat berupa patung Buddha yang terbuat dari logam mulia. 

Pha That Luang merupakan monumen penting yang menjadi simbol nasional negara Laos, dibangun pada abad ke-3 dengan beberapa kali tahapan pembangunan. Saat aku ke sana, banyak sekali warga lokal yang memenuhi area Pha That Luang, banyak juga penjual makanan, minuman, serta souvenir

Sepertinya masuk ke candi utama Pha That Luang dikenakan tiket masuk, tapi entah kenapa saat itu aku dan teman-teman travelingku dengan mudahnya dipersilahkan masuk tanpa harus membayar tiket. Lumayan gratis hehe. Namun, turis dilarang masuk ke area candi, mungkin karena area tersebut sakral dan digunakan warga lokal untuk beribadah.
Lao kid
Lao kid was cute :)
Tidak jauh dari area candi utama, terdapat patung Buddha tidur berwarna emas berukuran sangat besar, namanya Va That Khao. Selain itu juga terdapat monumen Setthathirath atau Xaysettha yang merupakan patung dari salah satu pemimpin besar dalam cerita sejarah Laos (Great King of Laos). Jangan lupa mampir ya ke beberapa bangunan lain dalam area ini.

Saatnya kembali menemui supir tuktuk untuk mengantarkanku ke suatu hotel yang menjadi titik penjemputan travel bis sebelum kembali menuju Bangkok. Puji Tuhan, supir tuktuk menepati janjinya dan mengantarkanku dengan selamat. Bahkan diperjalanan, beliau mengenalkan beberapa bangunan terkenal di Vientiane.

Sayangnya aku tidak meminta kontak sang supir untuk bisa aku rekomendasikan ke teman-teman pembaca. Aku pun lupa berapa harga yang ditawarkan untuk mengantar jemput kami. Khop Jai aku ucapkan kepada supir tuktuk sang penyelamatku yang fasih berbahas Inggris. Semoga lancar terus rezekinya, Pak!

Berpisah dengan supir tuktuk, eh lagi-lagi aku malah bertemu dengan drama saat menunggu bis pulang haha, baca deh kisahku saat drama menunggu bis menuju Bangkok di postingan sebelumnya yah!

Khop Jai!

Thank you, Laos for a day great experience! I promise to see you later, meet the other side of your great treasure! Sejujurnya masih penasaran sama Kuang Si Waterfall dan jelajah Luang Prabang. Semoga masih ada kesempatan ya. Amin! Gimana, kamu tertarik traveling ke Laos?


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments


In Laos Thailand Travel

Perjalanan Bangkok ke Vientiane Pulang Pergi Naik Bis

Pengalaman jalan-jalan dari Bangkok (Thailand) ke Vientiane (Laos) kali ini melewati jalur darat menggunakan bis. Perjalanan dilakukan pulang pergi, tepatnya bermalam di bis. Tidak sampai 24 jam aku menjelajahi Vientiane. Kesan pertama mendengar Vientiane, seperti tidak ada yang menarik. Apakah kamu memikirkan hal serupa? Hmm, ternyata keliling Vientiane seharian merupakan hal yang sangat mengesankan.
Nong Khai Boundary Post

Perjalanan Bangkok ke Vientiane

Sebenarnya banyak cara yang dapat ditempuh dari Bangkok menuju Vientiane. Selain menggunakan biss jurusan Bangkok-Viantiane, kamu juga bisa naik bis jurusan Bangkok-Nong Khai atau Bangkok-Udon Tani. Kamu juga bisa naik kereta atau kalau kamu punya budget lebih langsung saja naik pesawat.

BACA JUGA: 
Itinerary Keliling Vientiane dalam Satu Hari tanpa Tour Guide

Berhubung budget terbatas, aku memilih naik jurusan Bangkok-Nong Khai. Perjalanan dimulai pukul 9 malam dari Stasiun Mo Chit, Bangkok, Thailand. Ini adalah kali pertama aku bersama dengan 4 orang lainnya traveling melewati perbatasan negara melalui jalur darat menggunakan bis malam.

Sebelumnya, aku telah membeli tiket bis pergi Bangkok-Nong Khai secara online. Dari awal memang berniat hanya satu hari menjelajahi negara komunis tersebut. Jadi diputuskan untuk berangkat malam dari Bangkok dan kembali sore keesokan harinya. Jujur, jompo sekali rasanya :")

Keadaan bis pergi sangat nyaman dengan fasilitas lcd kecil, wifi, selimut, snack, dan air mineral. Kursi bis bisa diatur sedemikian hingga, jadi membuat tidurmu lebih nyaman. Harga tiket bis sekitar 300 ribu rupiah. Mahal? Iya, karena aku kehabisan tiket kelas ekonomi. Padahal sebenarnya semua kursi dan fasilitas terlihat sama saja.

Perjalanan dari Bangkok menuju Vientiane memakan waktu sekitar 8-10 jam. Dari Bangkok, bis melaju melewati jalur Northeast Thailand menuju Nong Khai, sebuah kota kecil yang berbatasan langsung dengan Sungai Mekong. 

Jalur darat ini merupakan jalur yang biasa dilewati oleh masyarakat yang rutin melakukan kegiatan baik wisata atau pun bisnis. Terdapat kantor imigrasi Thailand di Nong Khai yang berbatasan langsung dengan Laos, hanya dipisahkan dengan Friendship Bridge yang dibangun sebagai penghubung kedua negara tersebut.

Setibanya di Terminal Bis Nong Khai, banyak sekali supir tuk-tuk yang menawarkan jasa perjalanan menuju kantor imigrasi Nong Khai. Harga yang ditawarkan cukup fantastis, mungkin karena turis asing kali ya. Setelah melakukan tawar menawar dengan pakai urat, akhirnya kami dikenakan biaya sebesar 100 bath untuk 5 orang, lumayan hehe.

Imigrasi dan Bea Cukai Thailand-Laos

Nong Khai Boundary Post
Gerbang utama kantor perbatasan Nong Khai
Sampai di kantor imigrasi sekitar pukul 6 pagi, aku menyempatkan diri untuk bersih-bersih diri sejenak, sekedar gosok gigi dan mencuci muka seadanya, maklum semalam hanya tidur di bis. Fasilitas kamar mandi di kantor imigrasi Ngong Khai cukup baik, sehingga memungkinkan untuk mandi dan bersih-bersih.

Setelah itu aku mulai antri untuk pemeriksaan imigrasi. Siapkan paspor dan isi kartu keberangkatan yang disediakan di sana.  Kantor imigrasi ini cukup bagus dari sisi bangunannya dan sangat teratur. Saat itu banyak sekali warga yang mengantri masuk untuk immigration check.

Sepenglihatanku, kebanyakan warga yang saat itu ikut antri di imigrasi bergaya santai, seperti yang sudah terbiasa bolak balik Thailand-Laos. Ada juga beberapa orang turis dengan grup-grup kecil. Beberapa orang anak sekolah juga terlihat mengantri. Cukup padat namun pelayanannya cepat.

Tidak banyak yang ditanyakan petugas imigrasi saat memeriksa pasporku. Hanya bertanya, berapa lama tinggal di Laos, tujuannya apa, dan kapan kembali. Oh iya, turis Indonesia tidak memerlukan visa saat mengunjungi negara ASEAN selama masih dalam jangka waktu 30 hari kunjungan. Sementara itu, tidak ada pemeriksaan bea cukai, karena memang aku tidak membawa barang apapun hanya ransel saja.

Selesai pemeriksaan imigrasi, kamu harus menyeberang Friendship Bridge, yaitu jembatan penghubung Thailand dan Laos yang melintasi Sungai Mekong. Kamu bisa menaiki shuttle bus yang melintas setiap 15 menit sekali dengan tarif 20 bath per orang, atau menggunakan mini van dengan harga yang lebih mahal. Jalan kaki juga bisa hehe jaraknya berkisar 2 km. 

Imigrasi dan Bea Cukai Laos-Thailand

Tiba di imigrasi Laos sekitar pukul 7 pagi, tadinya aku mau langsung menukar uang Lao Kip di money changer. Pikiranku, namanya imigrasi pasti ada dong money changer. Eh ternyata, semua money changer tutup dan baru buka kembali pukul 9 atau 10 pagi. Oh, barbara tidak punya banyak waktu untuk menunggu!

Sebenarnya bisa juga menggunakan bath di Laos, tetapi cukup repot karena harus konversi ke kip terlebih dahulu. Akhirnya aku memutuskan untuk menarik uang dari ATM, untung saja bisa.

Lucunya, saat itu bukan hanya money changer dan toko-toko saja yang tutup, namun layanan imigrasi dan bea cukai pun tutup. Baru kali ini, aku menemui layanan perbatasan yang tidak 24 jam. Sebagai informasi, layanan normal dimulai dari pukul 08.00-16.00. 

Layanan imigrasi dan bea cukai sebenarnya sudah mulai buka sejak pukul 7 pagi, namun karena buka diluar jam layanan normal, maka setiap pengunjung diwajibkan membayar extra time fee sebesar 10.000 Kip. Jadi, semacam kita bayarin uang lembur mereka, karena mereka harus bekerja diluar jam kerja normal.

Ada aja yaaaaaa haha. Untung saja di Indonesia tidak sampai seperti itu, disatu sisi bersyukur layanan imigrasi dan bea cukai di Indonesia sangat maksimal hingga 24 jam tanpa ada embel-embel biaya tambahan.

Pemeriksaan imigrasi dan bea cukai berlangsung seperti biasa dengan pertanyaan yang sama. Siapkan paspor dan jawaban-jawaban pertanyaan yang meyakinkan. Usahakan tetap tenang dan jangan gugup saat menjawab pertanyaan. Sekali lagi, untuk turis Indonesia yang mengunjungi Laos atau negara ASEAN lainnya, tidak diperlukan visa ya.

Perjalanan Vientiane ke Bangkok

Setelah seharian puas keliling Vientiane, mengunjungi Buddha Park, Vientiane Center Lao Mall, Patuxay, dan Pha Tat Luang, sore hari aku berniat kembali menuju Bangkok dengan menggunakan bis. Perjalanan pulang kali ini, aku membeli tiket bis jurusan Vientiane-Bangkok, berbeda dengan saat pergi, harganya pun lebih mahal, sekitar 400ribuan.

Terjadi sekiti drama saat perjalanan pulang. Traveling tuh gak akan sempurna tanpa bumbu-bumbu drama deh kayaknya. Jadi, aku membeli tiket bis Vientiane-Bangkok dari travel agent secara online. Travel agent ini menyediakan jasa jemput di beberapa titik penjemputan di Vientiane.

Saat itu, sesuai dengan jadwal tiket yang sudah aku beli sebelumnya, aku sudah siap menunggu di salah satu hotel di Vientinae yang menjadi titik penjemputan travel. Selain rombonganku, ada juga beberapa rombongan turis yang menunggu penjemputan dengan travel yang sama. Namun, pihak hotel mengatakan bahwa terjadi keterlambatan penjemputan, aku pun akhirnya harus menunggu hampir 2 jam di hotel itu.

Tapi untungnya pihak hotel memperbolehkan aku untuk menggunakan fasilitas toilet dan kamar mandi untuk bersih-bersih, maklum udah dua hari gak mandi hehe. Akhirnya tiba saatnya kami dijemput oleh pihak travel menuju Talat Sao atau terminal bis. Yang bikin syok adalah, kami dijemput dengan menggunakan tuk-tuk haha padahal udah berharap naik mobil ber-AC, karena cuaca Vientiane sangat gerah dan panas.

Belum selesai drama penjemputan, ternyata sesampainya di tempat pemberhentian agen bis, aku dikagetkan dengan bentuk bis yang sangat diluar dugaan haha. Jauh lebih bagus bis pergi dibandingkan dengan bis pulang. Padahal dari segi harga, harga bis pulang lebih mahal dengan fasilitas yang sama dengan bis pergi. Memang sih, bis pergi dan bis pulang ini beda operator. Dan lagi-lagi harus drama menunggu bis kurang lebih 1 jam sebelum keberangkatan. Huft.

Sekitar pukul 6 sore, akhirnya perjalanan Vientiane-Bangkok dimulai. Berbeda dengan perjalanan pergi, karena bis kali ini jurusan Vientiane-Bangkok, jadi saat tiba di imigrasi, aku tidak perlu berganti bis. Hanya perlu turun untuk pengecekan imigrasi dan bea cukai, lalu setelah pemeriksaan selesai, kembali lagi naik bis yang sama.

Imigrasi dan Bea Cukai Laos-Thailand

Jadi, pertama turun untuk pemeriksaan imigrasi dan bea cukai di Laos, kemudian setelah selesai aku kembali naik ke bis. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan melewati friendship bridge menuju perbatasan Laos-Thailand. Aku turun kembali dari bis untuk pemeriksaan imigrasi dan bea cukai Thailand. Setelah selesai, naik lagi ke bis dan melanjutkan perjalanan sampai Bangkok.

Proses pemeriksaan imigrasi dan bea cukai sama seperti saat pergi. Lagi-lagi karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, aku harus membayar extra time fee untuk layanan pemeriksaan di Laos. Namun, untuk layanan imigrasi dan bea cukai Thailand, tidak dikenakan biaya apapun.

Oh iya, hati-hati dengan barang bawaan dan jaga paspor kamu jangan sampai hilang atau tertinggal. Karena proses pemeriksaan cukup panjang dan mengharuskan untuk berkali-kali naik turun bis. Bisa saja barang tertinggal atau hilang.

Selama proses cek imigrasi, supir bis selalu menghimbau untuk bergerak cepat dan jangan terpisah dari rombongan. Selalu ingat nomor bis yang kamu tumpangi, jangan sampai kamu salah naik bis yah, karena banyak juga bis lain yang melewati perbatasan.
***

Traveling seharian keliling Vientiane, bisa dicoba untuk kamu yang hanya mempunyai sedikit waktu untuk berlibur. Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa kamu explore di Laos, seperti Kuang Si Waterfall yang sangat terkenal dan menjadi landmark pariwisata andalan Laos. Sayangnya belum sempat explore sudut lain dari Laos, maybe next time yuk yang mau ajak aku keliling Laos!

Kurang lebih begitulah kisah pengalaman perjalanan Bangkok ke Vientiane pulang pergi dengan menggunakan bis melalu jalur perbatasan darat. Apa saja yang aku explore di Vientiane selama seharian? Baca di postinganku selanjutnya yah hihi. 


Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments


In Sulawesi Selatan Travel

Appalarang Bulukumba Pancarkan Keindahan Penuh Pesona

Sulawesi Selatan memang memiliki keindahan bahari yang begitu memukau. Satu lagi pesona alam yang dimiliki Sulawesi Selatan, wisata Tebing Appalarang. Siapa yang sudah pernah mampir? Atau jangan-jangan kamu belum pernah mendengarnya? Aku mau ajak kamu untuk mengintip keindahan wisata Appalarang Bulukumba dengan pemandangan yang sangat mempesona.
Tebing Appalarang Bulukumba
Wisata Tebing Appalarang merupakan spot destinasi tersembunyi yang menawarkan keindahan tebing dengan pemandangan laut lepas berwarna biru kehijauan. Sekilas mirip dengan Nusa Penida, Bali, tapi menurutku Appalarang punya pesonanya tersendiri. Walaupun belum cukup terkenal dimata wisatawan, tetapi pesona alam Appalarang sungguh menghipnotis mata dan hati dalam kesan pertama.
Tebing Appalarang Bulukumba
Keindahan Tebing Appalarang
Surga tersembunyi ini terletak di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Jarak tebing ini sekitar 40 km dari pusat kota Bulukumba, sementara Kabupaten Bulukumba sendiri berjarak 200 km dari Kota Makassar. Cukup jauh memang, butuh 6 jam berkendara dari Makassar menuju Tebing Appalarang.

BACA JUGA:

Walaupun rutenya masih belum populer, tetapi sudah banyak petunjuk jalan yang jelas. Tetapi perlu diwaspadai karena jalan yang dilalui cukup kecil. Apalagi jika berpapasan dengan mobil lain, sepertinya akan sedikit merepotkan. Tidak ada angkutan umum yang melewati lokasi wisata ini, jadi mau tidak mau, kamu harus menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan.

Menurut cerita warga lokal, sebelum dibuka menjadi tempat wisata, dulu lokasi Appalarang adalah rimbunan hutan yang sangat sepi. Tidak banyak orang mengetahuinya, hanya warga sekitar yang tinggal dekat lokasi. Kemudian setelah ditemukan salah seorang warga, lokasi ini mulai dibangung secara gotong royong oleh masyarakat untuk dijadikan tempat wisata. Masyarakat menilai tebing ini punya potensi untuk dijadikan destinasi wisata.
Tebing Appalarang Bulukumba
Keindahan Tebing Appalarang
Berdasarkan informasi, Appalarang berasal dari Bahasa Konjo, terdiri dari kata Appa yang berarti ujung dan Ralang yang berarti curam. Sesuai namanya, kondisi sekitar Appalarang memang dikelilingi tebing yang tinggi curam dan masih alami. Meski curam dan menegangkan, objek wisata ini justru sangat menarik hati banyak wisatawan. Jangan khawatir, kawasan sekitar Tebing Appalarang sudah dikondisikan dengan aman. Terdapat jalan setapak sepanjang tebing, sehingga kamu bisa menikmati keindahan birunya laut Bulukumba dari atas tebing sambil berjalan menyusuri bibir tebing.

Angin disana sangat kencang, menambah sedikit ketegangan saat kamu sedang berdiri disalah satu ujung tebing. Namun, kencangnya angin tidak menyurutkan niatku untuk berfoto di spot kayu yang terletak di salah satu ujung tebing. Wow, menakjubkan! Pemandangan birunya laut lepas dengan tebing menjulang disisi lain ditambah hembusan angin membuat aku takjub dengan pesona Tebing Appalarang.

Terdapat sebuah dermaga kayu yang terletak di bawah tebing. Untuk menuju dermaga ini, kamu harus melewati tangga kayu setinggi kurang lebih 7 meter. Hati-hati karena tangganya cukup terjal dan hanya bisa dilewati satu orang saja. Kalau pun berapapasan dengan orang lain, pastikan hati-hati dan berpegangan yah. Spot ini adalah tempat wajib yang harus kamu kunjungi saat mampir ke Tebing Appalarang.
Tebing Appalarang Bulukumba
Tangga menuju dermaga kayu
Dari dermaga kayu, kamu bisa mendengar desir ombak yang menghantam tebing dengan kerasnya. Anginnya pun lebih kencang jika dibandingkan dengan kondisi di atas tebing. Rasanya kagum sekali dengan Sang Pencipta yang menciptakan semesta begitu indah seperti Tebing Appalarang ini.

Sekedar duduk menatap luasnya lautan, mendengar deru ombak, dan merasakan hembusan angin di Appalarang terasa begitu menenangkan. Rasanya tidak ingin beranjak dari tempat ini. Hati sangat damai dan bebas dari semua beban pikiran dan kepenatan hiruk pikuk ibu kota.

Oh iya, kamu juga bisa berenang dan snorkeling di Pantai Appalarang. Saat itu aku belum sepat mencobanya karena sedikit takut melihat ombaknya sangat besar. Ya, memang benar, berenang di Pantai Appalarang butuh perhatian ekstra. Kamu hanya diizinkan turun ke air jika memang kondisinya sedang tenang. Beberapa sumber menyebutkan bahwa keindahan bawah laut Appalarang tidak kalau memukaunya, dihiasi dengan batu karang dan hewan laut warna-warni.
Tebing Appalarang Bulukumba
Ombak menerjang muka tebing
Saat aku berkunjung, Tebing Appalarang masih didominasi oleh warga lokal yang berkunjung sembari berfoto. Ada juga beberapa kelompok anak-anak warga sekitar yang memancing di pinggir dermaga kayu. Belum ada aku temui turis asing saat itu, entah karena aku masih terlalu pagi berkunjung atau memang tempat ini sama sekali belum terjamah.

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari, saat hawanya masih sejuk dan belum terik. Berkunjung sore hari sambil menunggu matahari terbenam bisa menjadi pilihan lainnya. Tebing Appalarang sendiri buka setiap hari dan sepertinya tidak ada batasan waktunya. Saat itu aku aku berkunjung sekitar pukul 8 pagi. Belum ada petugas yang berjaga, jadi aku tidak dipungut tiket masuk, hanya membayar parkir saja.

Fasilitas di sekitar lokasi wisata ini sudah cukup memadai. Lahan parkir yang disediakan sangat luas. Terdapat fasilitas toilet umum dan beberapa kedai tempat berjualan makanan. Ada pula penjual yang menjajalkan jualan seperti souvenir untuk oleh-oleh. Yang membuat senang adalah kebersihan daerah ini masih sangat terjaga. Keasrian alamnya sangat terasa karena masih banyak pohon tinggi yang tumbuh di sana.
Tebing Appalarang Bulukumba
Jalan sepanjang Tebing Appalarang
Pengelolaan wisata Tebing Appalarang saat aku berkunjung dipertengahan tahun 2017, sepertinya masih belum teroganisir dengan baik. Mungkin sebagian besar pengelolaannya diserahkan kepada warga sekitar dan masih minim campur tangan pemerintah. Semoga semakin hari, pengelolaan wisata Apparalarang bisa lebih berkembang lagi, bukan hanya bagi wisatawan domestik tetapi juga sampai memancing kedatangan wisatawan asing.

Hanya berjarak 30 menit dari Pantai Tanjung Bira, kamu bisa menyaksikan keindahan laut lepas dari tebing tinggi yang curam. Mengesankan sekali rasanya. Jadi, jangan lupa mampir ke wisata Tebing Appalarang Bulukumba ya saat kamu sedang berlibur ke Sulawesi Selatan!
Tebing Appalarang Bulukumba
Teman impulsifku keliling Sulawesi Selatan


Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments