Showing posts with label Profesional. Show all posts
Showing posts with label Profesional. Show all posts

In Profesional

Kualitas Kesehatan adalah Impian Daerah Pedalaman

Kesehatan kian menjadi isu yang tak henti dibicarakan sepanjang tahun ini khususnya oleh masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena pandemi COVID-19, pun juga ramai membicarakan tentang pelayanan kesehatan di daerah terpencil Indonesia. Sejatinya peningkatan kualitas kesehatan adalah impian masyarakat di daerah pedalaman, yang dapat terwujud dengan kontribusi nyata untuk menjawab segala permasalahan kesehatan yang ada. Seperti apakah kondisi kesehatan di daerah terpencil Indonesia? 
Kualitas Kesehatan Daerah Pedalaman
Dokter Liber Siahaan, mengabdikan dirinya untuk melayani sebagai tenaga kesehatan di Desa Mahak Baru, Kecamatan Sungai Boh, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara. Bersama dengan istri tercinta, Juwita Rashi Sihombing, sudah lebih dari 5 tahun bertugas memperjuangkan kesehatan di tanah Kalimantan. Sejak 2015, Dokter Liber membantu masyarakat Desa Mahak Baru dalam mengatasi masalah kesehatan. 

Berangkat dari kisah pengabdian Dokter Liber, saya jadi mengerti betapa kesehatan di tanah pedalaman belum sepenuhnya baik. Minimnya tenaga kesehatan, membuat Dokter Liber harus menjadi satu-satunya dokter yang melayani 6 desa yang jaraknya saling berjauhan. Bukan hanya tenaga kesehatan, pelayanan Dokter Liber juga terhambat dengan keterbatasan obat dan alat kesehatan yang tersedia di Puskesmas Sungai Boh. 
Kualitas Kesehatan daerah terpencil
Pelayanan kesehatan dr. Liber di daerah Sungai Boh
Bukannya tidak ada bantuan pemerintah, namun peran aktif pemerintah pusat maupun daerah dinilai kurang gesit. Bersyukur puskesmas sudah dilengkapi dengan gedung yang cukup baik, walaupun letaknya jauh dari pedesaan dengan instalasi listrik yang sangat terbatas. Sudah cukup sering Dokter Liber kewalahan menangani pasien emergency saat malam hari dengan kondisi tidak ada obat dan alat kesehatan yang dapat membantu pelayanannya.

Menurut hasil perbincangan saya dengan Dokter Liber, selain upaya peningkatan kualitas kesehatan daerah terpencil, edukasi masyarakat tentang kesehatan pun harus digalakkan. Minimnya keinginan dan pengembangan diri masyarakat pedalaman, menjadi faktor utama yang menyebabkan kurangnya edukasi kesehatan. Masih banyak masyarakat daerah terpencil yang tidak paham akan gaya hidup sehat, pentingnya sanitasi, dan lain sebagainya. 

Namun jangan salah, dibalik kisah perjuangan Dokter Liber, ternyata pengalaman sukacita lebih banyak dirasakan dibanding dengan kisah sedihnya. Sambutan masyarakat yang hangat dan terbuka, membuat 5 tahun berasa begitu singkat. Dokter Liber percaya bahwa hati yang gembira adalah obat yang sempurna.

Permasalahan Kesehatan Daerah Pedalaman 

Masalah isu kesehatan sepertinya bukan hanya terjadi di Desa Mahak Baru, tetapi juga di seluruh daerah tertinggal, pedalaman, bahkan perbatasan. Padahal, kesehatan adalah hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Bukan hanya untuk daerah perkotaan, namun juga mencakup seluruh daerah di wilayah Indonesia. 

Seperti yang tertuang dalam Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, kesehatan didefinisikan sebagai keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. 

Masalah kesehatan ini tidak lepas dari tanggung jawab pemerintah Indonesia dalam merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat. 

Asian Development Bank (ADB) mengungkapkan bahwa indeks kesehatan (wellness index) Indonesia pada September 2020 berada pada angka 57,70. Angka ini jauh dibawah Vietnam sebesar 65,83, Malaysia sebesar 69,12, dan Singapura sebesar 78,96. Kendati demikian, indeks kesehatan Indonesia lebih baik dibandingkan dengan Kamboja, Laos, Myanmar, dan Filipina. 

Masalah kesehatan lain yang banyak ditemui di Indonesia adalah terkait gizi. Banyak kasus obesitas merebak belakangan ini, juga kasus gizi buruk yang diderita anak-anak di daerah pedalaman. Selain keterbatasan pangan di daerah pedalaman, pengetahuan dasar masyarakat terkait gizi juga masih rendah. 

Kita lihat saja, tahun 2017 terdapat sekitar 37% anak Indonesia yang mengalami stunting. Angka tersebut masih jauh di bawah standar yang ditetapkan World Health Organization (WHO), yaitu minimum 20%. Bayangkan jika banyak anak Indonesia mengalami stunting, terhambat pertumbuhan fisik dan otaknya, bagaimana nasib sumber daya manusia Indonesia di masa depan? 

Buruknya kualitas kesehatan Indonesia dipengaruhi oleh ketidakmerataan kesehatan di berbagai daerah. Kesehatan daerah kota mungkin saja sudah baik dan memadai, namun tidak dapat dipungkiri bahwasanya kualitas kesehatan daerah pedalaman masih butuh perhatian lebih. 

Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas kesehatan di daerah pedalaman, mulai dari kurangnya perhatian pemerintah, keterbatasan fasilitas dan alat kesehatan, penyebaran tenaga kesehatan yang belum merata, akses transportasi sulit, dan kurangnya kesadaran masyarakat setempat. 

#1 
Kurangnya Perhatian Pemerintah 

Peran pemerintah dalam bidang kesehatan
Peran pemerintah dalam bidang kesehatan
Pemerintah bukannya tidak memperhatikan masalah kesehatan di daerah terpencil, namun pemerintah dinilai kurang gesit dalam penanganannya. Baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sepertinya belum maksimal dalam pemerataan kesehatan Indonesia. 

Upaya percepatan pembangunan daerah sebenarnya telah lama digalakkan, pemerintah pusat telah menetapkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 131 tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019. Dalam hal ini daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) ditetapkan sebagai sasaran utama pembangunan, yang terdiri dari 143 kabupaten/kota yang terletak di 27 provinsi. Bahkan pemerintah juga telah mengeluarkan Perpres Nomor 63 tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2020-2024.

Pemenuhan kualitas kesehatan pada daerah 3T bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat tetapi juga dibutuhkan peran dinas kesehatan daerah setempat guna menganalisis kebutuhan kesehatan daerahnya dan mengajukannya kepada pemerintah pusat. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah diharapkan mampu mempercepat pembangunan daerah dan mengatasi berbagai permasalahan kesehatan terutama di daerah 3T. 

Menurut pengalaman Dokter Liber, selama 5 tahun mengabdi di daerah pedalaman, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dinilai masih sangat kurang. Hal ini terlihat dari pemenuhan kebutuhan obat dan alat kesehatan yang memakan waktu sangat lama. 

#2 
Fasilitas Kesehatan yang Terbatas 

fasilitas kesehatan daerah pedalaman
Pentingnya fasilitas kesehatan
Keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah terpencil menjadi faktor penyebab rendahnya kualitas kesehatan di sana. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa terjadi peningkatan jumlah Puskesmas dari tahun 2018 sebanyak 9.993 menjadi 10.134 tahun 2019. 

Pemerintah sudah berupaya dalam pemenuhan akses pelayanan kesehatan dibuktikan dengan meningkatnya jumlah puskesmas di Indonesia. Namun sayangnya, penyebarannya belum merata dan hanya berpusat di kota besar saja. 

Keterbatasan puskesmas di daerah pedalaman dipengaruhi oleh kondisi geografis daerah yang sulit dan rendahnya tingkat sosial ekonomi masyarakat di daerah pedalaman. Hal ini menjadi catatan agar akses terhadap pelayanan kesehatan perlu ditingkatkan lagi ke depannya. 

Bukan hanya puskesmas saja, namun ketersediaan obat dan alat kesehatan juga belum terpenuhi secara merata. Akses transportasi dan keadaan geografis daerah terpencil membuat sulitnya pengadaan obat dan alat kesehatan di daerah tersebut. Padahal obat dan alat kesehatan merupakan amunisi utama para dokter untuk dapat mengobati pasiennya. 

Tak jarang dokter berinisiatif untuk pemenuhan obat emergency dengan merogoh kocek pribadinya, seperti yang dilakukan oleh Dokter Liber. Hal ini dilakukan karena pengadaan obat dan alat kesehatan di tempatnya bekerja sangat lambat, sementara penanganan terhadap pasien tidak dapat ditunda demi keselamatan nyawa pasien. 

Dengan segala keterbatasan fasilitas kesehatan, obat, alat kesehatan serta terkendala akses transportasi yang sulit, maka tidak heran jika kualitas kesehatan di daerah pedalaman masih sangat rendah. Apabila semua hal tersebut telah memadai, maka saya yakin kualitas kesehatan di daerah pedalaman akan semakin baik ke depannya. 

#3 
Penyebaran Tenaga Kesehatan Tidak Merata 

Tenaga kesehatan daerah pedalaman
Pentingnya peran tenaga kesehatan
Tenaga kesehatan memegang peranan penting dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan. Dokter, perawat, bidan, ahli gizi, tenaga kesehatan tradisional, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya punya andil yang sangat penting dalam perkembangan dunia kesehatan. Bayangkan jika alokasi tenaga kesehatan tidak terpenuhi, kita sudah bisa menebak pasti akan banyak masalah kesehatan yang timbul. 

Bertugas di daerah pedalaman merupakan suatu tantangan tersendiri bagi para tenaga kesehatan. Satu sisi, mungkin mereka siap mengabdi, namun bagaimana dengan fasilitas kesehatannya? Apakah mendukung? Tenaga kesehatan yang tidak dilengkapi dengan fasilitas kesehatan memadai sama seperti bertarung tanpa amunisi. 

Penyebaran tenaga kesehatan di wilayah perkotaan bisa dipastikan sudah sangat memadai, berbeda dengan daerah pedalaman. Mengangkat kembali kisah Dokter Liber yang merupakan satu-satunya dokter untuk 6 desa di pedalaman Kalimantan Utara, menjadi bukti bahwa penyebaran tenaga kesehatan di daerah pedalaman masih sangat kurang. 

Data Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa Provinsi Papua Barat merupakan provinsi paling kekurangan dokter yang bertugas di puskesmas, 63,27% puskesmas di Papua Barat sangat kekurangan dokter. Begitu pula dengan Provinsi Papua sebanyak 58,22%, dan Maluku sebanyak 51,66% puskesmas masih kekurangan dokter. Sebaliknya, Provinsi DKI Jakarta hanya mencatat 0,3% puskesmas yang kekurangan dokter. Hal ini membuktikan belum meratanya penyebaran dokter di seluruh wilayah Indonesia. 

Tenaga kesehatan di daerah pedalaman harus dibekali dengan kompetensi dan mental yang baik. Pemberian insentif tenaga kesehatan, pengangkatan tenaga kesehatan honorer, kemudahan fasilitas kesehatan, serta penjaminan kesejahteraan dan keamanan para tenaga medis merupakan upaya yang dapat dilakukan pemerintah untuk menarik minat tenaga medis agar tergerak melayani di daerah pedalaman. 

Pelayanan mereka tentu saja harus mendapat dukungan penuh baik dari pemerintah maupun masyarakat sekitar. Masyarakat daerah terpencil juga harus terbuka menerima layanan kesehatan modern demi mengupayakan peningkatan kualitas kesehatan di daerahnya. 

#4 
Kurangnya Kesadaran Masyarakat 

Kesadaran masyarakat daerah pedalaman
Kesadaran masyarakat menjadi faktor penting
Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan bahwa angka kebijakan perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat Indonesia belum mencapai 100%. Daerah timur Indonesia menjadi yang terendah, Provinsi Papua tercatat hanya 10,34%, Nusa Tenggara Timur sebesar 27,27%, dan Papua Barat 38,46%. Perilaku hidup bersi dan sehat berangkat dari kesadaran individu guna mencegah permasalahan kesehatan. 

Begitu pula dengan angka kualitas kesehatan lingkungan di wilayah timur Indonesia, masih terbilang rendah. Provinsi Papua hanya mencapai 13,79% angka kualitas kesehatan lingkungan, paling rendah diantara provinsi lainnya. Diikuti oleh Provinsi Sulawesi Utara pada angka 26,67% dan Sulawesi Tenggara pada angka 41,18%. 

Berdasarkan data yang disajikan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia, terkhusus Provinsi Papua, masih sangat rendah untuk menjaga kualitas kesehatan diri dan lingkungannya. 

Perlunya edukasi kesehatan terhadap masyarakat daerah terpencil guna menciptakan kesadaran akan pentingnya kualitas kesehatan. Dengan adanya kesadaran masyarakat, maka dipastikan akan berkontribusi dalam peningkatan kualitas kesehatan. 

Bagaimana Cara Mengatasinya? 

Pemerintah sudah berupaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan Indonesia, khususnya di daerah pedalaman. Tahun 2020, Kementerian Kesehatan berfokus pada 5 masalah kesehatan, diantaranya penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi (AKI/AKB), Pengendalian Stunting (gagal pertumbuhan), Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), dan Tata Kelola Sistem Kesehatan. 

Harapannya fokus tersebut menjadi perhatian untuk seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah pedalaman. Seperti yang kita ketahui, Papua menjadi salah satu daerah yang berdasarkan data menjadi provinsi dengan tingkat kualitas kesehatan yang paling rendah. 

Kasus gizi buruk di Papua beberapa tahun belakangan menjadi perhatian khusus. Kemudian tingginya AKI/AKB di Papua juga membuat Papua menjadi salah satu wilayah dengan kualitas kesehatan yang rendah. Tentu saja tidak boleh berdiam diri melihat kondisi yang memprihatinkan ini. Penyediaan anggaran kesehatan dan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan swasta sangat diperlukan dalam memperbaiki keadaan tersebut. 

Penyediaan Anggaran Kesehatan

Anggaran kesehatan
Keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah pedalaman selain disebabkan karena letak geografis daerah pedalaman yang sulit dijangkau, secara tidak langsung juga karena kurangnya anggaran kesehatan yang dikhususkan untuk pembangunan kualitas kesehatan di daerah pedalaman. 

Semua tentu saja harus dianggarkan, mulai dari pembangunan sarana dan prasarana kesehatan sampai ke akses transportasi menuju daerah pedalaman. Jika tidak serius dianggarkan, maka semuanya akan jalan ditempat dan tidak menunjukan suatu peningkatan. 

Berdasarkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2021, Kementerian Kesehatan mendapat alokasi pagu indikatif sebesar Rp84,3 triliun, meningkat dari tahun 2020 sebesar Rp78,5 triliun. Peningkatan ini tentu saja diharapkan mengentaskan segala permasalahan kesehatan di Indonesia juga memulihkan bidang kesehatan akibat pandemi COVID-19. 

Pemerintah cukup serius merencanakan perbaikan dan pemerataan kesehatan Indonesia, namun bagaimana realisasinya? Mampukah anggaran yang besar itu menyelesaikan masalah kesehatan Indonesia terutama di daerah pedalaman? 

Sinergi Pemerintah, Masyarakat, dan Swasta 

sinergi pemerintah dan swasta
Pemerintah dengan anggaran yang melimpah tentu tidak dapat bekerja sendiri. Perlu jalinan sinergi dengan masyarakat juga pihak swasta, agar peningkatan kualitas kesehatan di daerah pedalaman bisa terlaksana dengan segera. Dengan begitu maka dapat dipastikan akan membawa semangat untuk sama-sama berjuang meningkatkan kualitas kesehatan Indonesia. 

Mari kita lihat kasus nyata di Provinsi Papua, Papua kerap dicatat sebagai salah satu provinsi yang memiliki akses pelayanan kesehatan yang rendah. Letak geografisnya, sebagai provinsi paling timur Indonesia yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini, memiliki infrastruktur yang belum memadai sehingga menyebabkan terbatasnya akses pelayanan kesehatan masyarakat. 

Dalam rangka memperbaiki kualitas kesehatan di Papua, pemerintah hendaknya menggandeng pihak swasta yang beroperasi di daerah sekitar untuk turut campur tangan berjibaku menata kondisi kesehatan Papua. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab sosial pihak swasta untuk membantu menyejahterakan masyarakat daerah sekitar tempat usahanya dengan berbagai program yang positif dan bermanfaat, salah satunya dibidang kesehatan. 

Inisiatif yang baik telah dilakukan oleh KORINDO GROUP, sebagai kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di Kabupaten Boven Digoel, Papua. Bagaimana peran Korindo Group dalam upaya mencapai kesehatan yang baik untuk sesama di wilayah Papua? 

Berkenalan dengan Korindo Group 

Korindo Group merupakan perusahaan Indonesia yang telah hadir selama 50 tahun sejak 1969 dan terbukti menjadi perusahaan terdepan di pasar Asia Tenggara. Selama ini Korindo hadir memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia serta memperhatikan praktik kerja ramah lingkungan dengan orientasi pada masa depan. 

Fokus utama Korindo pada awalnya adalah pengembangan hardwood, kemudian pada tahun 1979 beralih ke produk plywood atau veneer, kemudian tahun 1984 mengembangkan kertas koran. Tidak berhenti sampai disitu, tahun 1993 Korindo berfokus pada perkebunan kayu dan sejak tahun 1995 hingga sekarang mengembangkan perkebunan kelapa sawit. 

Korindo telah berhasil mewujudkan industri ramah lingkungan dengan nilai ekonomi langsung diperoleh dari hasil hutan. Sejak awal Korindo berkomitmen mengembangkan usahanya di daerah tertinggal Indonesia. Korindo membangun jalan serta tempat tinggal, pun berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur utama yang termasuk dalam usaha pengembangan daerah. 

Berbekal visi dan filosofi perusahaan Korindo selalu berusaha memberikan kontribusi terbaik untuk Indonesia. 
Korindo Group

Kontribusi Nyata Korindo Group

Pemberian Asrama untuk Para Pelajar Merauke

Kontribusi Korindo Group
Korindo Group melalui PT Tunas Sawa Erma (PT TSE), salah satu unit bisnisnya yang bergerak di perkebunan kelapa sawit di Papua, mendirikan asrama putera dan puteri seluas 130 meter persegi di Merauke. Tujuan didirikan asrama ini untuk meningkatkan sumber daya manusia, khususnya para pelajat di Merauke. Asrama ini dilengkapi dengan fasilitas seperti kulkas, televisi, lemari pakaian, dan meja belajar. 

Penyaluran Bantuan Honor Guru Pedalaman

Kontribusi Korindo Group
Sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan di daerah pedalaman, PT TSE menyalurkan bantuan honor untuk guru di Camp 19, Kabupaten Boven Digoel, Papua. Penerima bantuan ini adalah 23 guru yang terdiri atas 5 orang guru TK, 6 orang guru SD, dan 12 orang guru SMP. 

Bantu Ribuan APD dan Masker untuk Papua 

Kontribusi Korindo Group
Guna mencegah penyebaran wabah COVID-19 di Papua, Korindo Group berinisiatif untuk memberikan 3.500 Alat Pelindung Diri (APD) kepada tenaga kesehatan di RSUD Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Selain itu, Korindo juga memberi bantuan 120.000 masker kepada masyarakat Papua. Masker tersebut didistribusikan ke 3 wilayah yang meliputi, 50.000 lembar masker untuk Merauke, 50.000 lembar untuk Boven Digoel, dan 20.000 lembar untuk Kabupaten Mappi. 

Suplai 420 kg Beras untuk Masyarakat 

Kontribusi Korindo Group
PT TSE berinisiatif untuk membantu masyarakat ditengah masa pandemi. Mereka memberikan sembako berupa: beras seberat 420 kg, mie instan sebanyak 40 box, kopi sebanyak 20 box, teh celup sebanyak 20 box, dan minyak goreng sebanyak 50 liter. 

Klinik Asiki

Klinik Asiki Korindo Group
Menjawab kegelisahan akan kurangnya kualitas kesehatan di Papua, Klinik Asiki hadir menjawab segala masalah kesehatan di tanah Papua. Berdirinya Klinik Asiki merupakan bentuk Korindo Group berkontribusi dalam peningkatan kualitas kesehatan di daerah terpencil. 

Korindo Group bekerja sama dengan Korea International Coorporation Agency (KOICA) membangun sebuah klinik modern di pedalaman Papua, tepatnya di Kampung Asiki yang berbatasan dengan Papua Nugini. Klinik gratis ini dipersembahkan bagi masyarakat daerah Papua yang tidak mampu dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan di sana. 

Klinik Asiki diresmikan pada tanggal 2 September 2017 oleh Chairman Korindo Group, Mr. Eun Ho Seung dan dihadiri oleh Para Pejabat Pemerintahan Daerah. Setelah diresmikan, Klinik Asiki langsung menjadi andalan masyarakat dalam pelayanan kesehatan. 

Klinik Asiki berdiri di atas lahan seluas 2.929 meter persegi. Fasilitas yang disediakan cukup lengkap dan modern, dilengkapi dengan ruang rawat jalan, rawat inap, ruang bersalin, IGD, ruang bedah minor, perawatan bayi/perinatologi, alat USG, instalasi farmasi, dan fasilitas lainnya hingga penyediaan kendaraan mobil ambulans. 
Klinik Asiki Korindo GroupKlinik Asiki Korindo Group

Klinik Asiki Korindo Group
Keberadaan Klinik Asiki diharapkan mampu meningkatkan kualitas kesehatan daerah terpencil, khususnya Papua. Daerah terpencil ini menjadi tantangan tersendiri bagi Klinik Asiki dalam pelayanan kesehatan. Salah satu tantangannya adalah menurunkan Angka Kematian Ibu dan Anak di Papua.

Upaya penurunan Angka Kematian Ibu dan Anak merupakan satu dari delapan program prioritas Klinik Asiki. Banyak hal yang telah dilakukan Klinik Asiki guna menangani kasus ini, mulai dari tim medis yang langsung turun ke masyarakat, menjangkau para ibu di pelosok desa untuk memberikan penyuluhan, hingga bekerja sama dengan Puskesmas setempat dalam menggalakkan program Mobile Service

Menurut sejarahnya, penyebab tingginya angka kematian ibu dan anak disebabkan oleh faktor budaya dan kepercayaan masyarakat. Masyarakat adat percaya bahwa melahirkan di tenda atau hutan jauh lebih baik dibanding dengan puskesmas atau klinik. Tidak adanya ketersediaan alat medis di hutan, tentu saja membahayakan kondisi ibu dan anak saat proses persalinan. Sedih rasanya membayangkan seorang ibu melalui proses persalinan di hutan tanpa bantuan medis. 

Selain memperjuangkan kesehatan guna menyejahterakan masyarakat, Klinik Asiki juga berupaya mengedukasi masyarakat dengan cara mengubah perlahan pola pikir dan kepercayaan masyarakat adat tentang dunia kesehatan. Kemudian melakukan sosialisasi agar para ibu dapat melahirkan di Klinik Asiki yang sudah dilengkapi dengan berbagai alat medis serta didukung dengan tenaga medis yang berpengalaman, tanpa dikenakan biaya sepeser pun.

Mengutip data yang disajikan Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, terjadi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Papua pada tahun 2019 sebanyak 66 kasus. Sementara pada tahun 2018 terdapat 75 kasus. Hal ini tentu membuktikan bahwa Klinik Asiki turut berperan dalam menurunkan AKI di Provinsi Papua. 
Senyum Papua
Senyum anak Papua
Komitmen dan kontribusi Klinik Asiki untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat pedalaman diapresiasi dengan penghargaan Klinik Terbaik Tingkat Nasional sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) oleh BPJS Kesehatan berturut-turut tahun 2017, 2018, dan 2019. Dengan begitu Korindo Group melalui Klinik Asiki telah berperan aktif dan berkontribusi nyata dalam peningkatan kualitas kesehatan di daerah Papua. 

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut tentang Klinik Asiki dan program kesehatan lainnya dari Korindo Group, silahkan kunjungi website Korindo Group https://korindonews.com/ atau ikuti media sosialnya!

Kualitas kesehatan yang baik untuk sesama selayaknya dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat yang tinggal di wilayah Indonesia, termasuk daerah pedalaman. Letak geografis, kondisi masyarakat adat, penyebaran tenaga kesehatan yang tidak merata, merupakan beberapa dari banyak faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas kesehatan di daerah pedalaman. 

Peningkatan kualitas kesehatan adalah impian daerah pedalaman. Guna mencapainya, pemerintah harus menyediakan anggaran yang cukup untuk pengadaan fasilitas kesehatan dan pendukungnya. Selain itu sinergi antara pemerintah, masyarakat serta pihak swasta sangat dibutuhkan untuk mendukung pelayanan kesehatan yang lebih baik. Indonesia pasti bisa! 



Sumber:
- Interview bersama dr. Liber Siahaan dan istri
- Website Sehat Negeriku Kementerian Kesehatan: 5 Fokus Masalah Kesehatan Tahun 2020 (2020)
- Profil Kesehatan Indonesia 2019

Media gambar dan desain:
- Media Gambar: Website Korindo Group, FreepikIcons8, dan Canva.
- Desain: Dewi Lestari Natalia Marpaung.


Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments


In Profesional Review Thoughts

Mengawal Potensi Ekspor Produk Lokal di Pasar Global

"Betapa kita tidak bersyukur, 
Bertanah air kaya dan subur, 
Lautnya luas, gunungnya megah, 
Menghijau padang, bukit, dan lembah"
-Subronto Kusumo Atmodjo, 1979-
Potensi ekspor indonesia
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia sangat beragam, mulai dari hutan, laut, gas alam, minyak bumi, serta batu bara. Bukan main-main, sumber daya alam Indonesia sangatlah berlimpah ruah, dari Sabang sampai Merauke. 

Tidak heran jika Indonesia dapat menghasilkan banyak hasil alam yang mampu dipasarkan secara nasional hingga ke kancah internasional. Pemasaran produk Indonesia ke luar negeri telah membuktikan bahwa produk Indonesia mampu bersaing dan tidak kalah dengan produk negara lain. 
Produk ekspor Indonesia
Produk ekspor Indonesia
Indonesia bisa dibilang sebagai salah satu negara penggerak ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Hal ini dibuktikan salah satunya dengan adanya pemasaran produk Indonesia ke luar negeri. Pengiriman barang ke luar negeri atau biasa disebut ekspor, dapat menjadi dongkrak penghasil devisa negara. 

Menurut Undang-Undang nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan, ekspor merupakan kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean. Daerah pabean sendiri merupakan wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang udara di atasnya, serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan landas kontinen yang di dalamnya. 

Ekspor merupakan salah satu roda penggerak perekonomian suatu negara. Selain menjadi penggerak ekonomi, ekspor juga memberikan sumber penghidupan kepada para pelaku usahanya dan terlebih berdampak pada pemasukan negara. Oleh sebab itulah potensi ekspor Indonesia harus terus didorong agar kegiatan ekspor Indonesia semakin meningkat. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor Indonesia didominasi oleh ekspor non-migas dengan nilai ekspor mencapai US$13.025,1 pada Juli 2020, sementara ekspor migas sebanyak US$704,7. Kemudian dapat dilihat bahwa yang menjadi andalan ekspor non-migas adalah lemak dan minyak hewan/nabati dengan nilai ekspor mencapai US$1.677,2 pada Juli 2020. Apa saja komoditi yang berpotensi untuk diekspor? Nah, berikut adalah data nilai ekspor komoditi yang bisa dijadikan potensi ekspor Indonesia: 
nilai ekspor Indonesia
Tabel nilai ekspor Indonesia (Sumber: BPS)
Namun, sayangnya perekonomian Indonesia bahkan dunia terguncang dengan adanya pandemi virus COVID-19 yang tentu saja berpengaruh terhadap proses bisnis ekspor di Indonesia. Dilansir dari data Badan Pusat Statistik, memang ekspor Indonesia meningkat pada bulan Juli 2020 sebesar 14,33% dibandingkan dengan Juni 2020, yaitu mencapai US$13.73 juta. Namun jika dibandingkan dengan Juli 2019, ekspor Indonesia mengalami penurunan sebanyak 9,90%. 

Pemerintah sangat gencar mendorong ekspor baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya terkhusus dimasa pandemi ini. Mulai dari olahan hasil hutan, laut, pertanian sampai dengan produk kerajinan tangan. Bukan hanya pengusaha besar, pemerintah dengan sigap juga mendorong UMKM untuk menjadi pelecut guna mendorong ekspor Indonesia. 

Pandemi covid-19 ini menjadi tantangan baru bagi perekonomian UMKM Indonesia. Agar tidak terpuruk lebih jauh, maka diperlukan terobosan serta stimulus dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah sendiri telah menyusun beberapa strategi dan kebijakan untuk meningkatkan potensi ekspor Indonesia. Apa saja sih langkah yang sudah diambil pemerintah? Yuk, kita simak ulasan berikut ini:

Strategi dan Kebijakan Pemerintah

Strategi meningkatkan ekspor indonesia

1. Menyederhanakan Larangan dan Pembatasan Ekspor 

Dalam rangka meningkatkan kelancaran ekspor dan daya saing produk Indonesia di pasar global, pemerintah perlu melakukan suatu stimulus perdagangan ditengah-tengah situasi pandemi ini. Salah satu langkah yang diambil pemerintah adalah melakukan simplifikasi lanjutan dalam bentuk pengurangan atau penyederhanaan jumlah perizinan ekspor, seperti larangan dan pembatasan (lartas). 

Pemerintah telah mengambil langkah mengurangi lartas ekspor untuk 749 kode Harmonized System (HS) dari total lartas ekspor sebanyak 1357 kode HS, atau sebesar 55,19%. Jika dibandingkan dengan seluruh kode HS pada Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI) 2017, telah dilakukan simplifikasi perizinan lartas sebanyak 6,91%. 

Adapun 749 kode HS tersebut terdiri dari 443 kode HS untuk komoditi ikan dan produk ikan terkait Health Certificate dan 306 kode HS untuk komoditi produk industri kehutanan terkait V-Legal. Artinya dokumen perizinan Health Certificate dan V-Legal tidak lagi menjadi dokumen persyaratan ekspor, namun perlu diperhatikan apakah negara tujuan ekspor membutuhkan dokumen tersebut, jika membutuhkan eksportir harus tetap mengurusnya. 

2. Memaksimalkan Perwakilan Perdagangan Indonesia di Luar Negeri 

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menyampaikan bahwa peningkatan dan potensi ekspor dapat dilakukan dengan penguatan merek lokal di pasar global. Menteri Perdagangan mendorong eksportir, baik UMKM dan pelaku usaha besar, untuk meningkatkan kualitas dan terus melakukan inovasi terhadap produk lokal. 

Dalam mendukung kiprah merek produk lokal di pasar global, Kementerian Perdagangan telah berupaya melakukan promosi produk, diantaranya dengan memaksimalkan misi dagang dan pameran internasional. Hal ini tentu saja melalui peran perwakilan perdagangan di luar negeri (atase perdagangan) dan juga Indonesia Trade Promotion Center (ITPC). 

Perwakilan Indonesia ini merupakan agen pemasaran yang turut berkontribusi terhadap kelancaran perdagangan produk lokal di luar negeri. Bukan hanya itu, perwakilan Indonesia juga diharapkan juga merupakan agen komunikasi yang dapat menjalin komunikasi yang baik dengan instansi di negara terkait untuk menggali informasi terkini sehingga promosi dapat terintegrasi dengan baik dan membuka gerbang untuk masuknya produk Indonesia. 

3. Mengadakan Pelatihan Ekspor

Bukan hanya berfokus kepada pemasaran, namun Menteri Perdagangan menyampaikan bahwa pengembangan sumber daya manusia juga menjadi faktor yang penting dalam peningkatan potensi ekspor Indonesia. Sumber daya manusia yang berkembang dapat memicu eksportir untuk lebih kreatif dan inovatif. 

Strategi peningkatan ekspor yang diangkat oleh Menteri Perdagangan yaitu pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan ekspor, coaching clinic, promosi dan kerja sama diklat ekspor, pengembangan kurikulum dan metode diklat. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan kreativitas dan inovasi eksportir dapat dibangun guna meningkatkan keuntungan dan produktivitas dalam peningkatan usahanya. 

4. Memberikan Insentif Ekspor 

Berbagai jenis insentif telah dikeluarkan pemerintah untuk menunjang perekonomian Indonesia. Kebijakan ini khususnya dapat dimanfaatkan eksportir untuk menjadi stimulus pergerakan ekspor produk Indonesia. 

Pemerintah menyediakan insentif sebagai bentuk dukungan kepada UMKM. Pelaku UMKM yang melakukan ekspor akan mendapatkan insentif berupa dukungan modal kerja. Insentif fiskal ini diberikan bagi kegiatan usaha menengah dengan harapan mampu meningkatkan ekspor dan memulihkan perekonomian. 

Insentif dilakukan melalui pengalokasian dana PKE, dimana Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebagai lembaga penyalur insentif tersebut. Selain itu, Menteri Perdagangan juga mengusulkan pemberian insentif berupa kredit ekspor dan asuransi bagi para eksportir yang terkena dampak Covid-19. 

Insentif bidang kepabeanan juga dapat dinikmati eksportir atau UMKM yang melakukan kegiatan ekspor, berupa perlakuan kepabeanan atas selisih berat dan/atau volume terhadap barang ekspor curah seperti gandum, gula, minyak dan lainnya yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 26/PMK.04/2020. 

5. Membentuk Klinik Ekspor 

Salah satu layanan ekspor yang sedang dikembangkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai adalah pembentukan Klinik Ekspor pada setiap Kantor Pelayanan Bea dan Cukai khususnya yang menangani kegiatan ekspor. Berangkat dari berbagai kendala dan tantangan ekspor yang selama ini terjadi, ditambah dengan situasi pandemi yang kian marak, maka muncul inisiatif pembentukan layanan dan fasilitas berupa Klinik Ekspor. 

Dalam rangka optimalisasi fasilitas kepabeanan, dipandang perlu menciptakan suatu wadah komunikasi yang memudahkan eksportir dalam memahami seluk beluk ekspor. Klinik Ekspor sendiri merupakan kegiatan “one on one meeting” untuk menampung dan menyelesaikan permasalahan terkait ekspor pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai. 

Harapannya dengan terbentuknya Klinik Ekspor akan memudahkan eksportir khususnya UMKM dalam melakukan kegiatan ekspor. Sehingga, stigma ekspor itu mudah makin melekat dibenak masyarakat dan mendorong eksportir tidak ragu untuk melakukan kegiatan ekspor ditengah pandemi. 

Peningkatan Potensi Ekspor Indonesia

Berbagai stimulus dan kebijakan terkait ekspor telah dirancang oleh pemerintah guna meningkatkan potensi ekspor Indonesia ditengah masa pandemi ini. Namun, pada kenyataannya belum banyak UMKM yang memanfaatkan stimulus dan kebijakan tersebut. Padahal menurut data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2018, UMKM mampu menyumbang 61,07% dari total PDB nasional juga 60,42% dari total investasi bila dibandingkan dengan usaha besar. 

Sayangnya, kontribusi UMKM terhadap ekspor dinilai menurun, dari 18,50% tahun 2005 menjadi 14,37% tahun 2020. Mungkin pandemi menjadi salah satu faktornya. Namun melihat potensi sumber daya alam Indonesia serta kemampuan SDM yang kian berkembang, saya yakin bahwa UMKM Indonesia mampu kembali menggiatkan ekspor yang kian lesu. 

Bersaing dikancah internasional sembari mengumandangkan produk lokal di pasar global, bukanlah suatu hambatan yang berarti. Bersumber dari berbagai bahan literasi, saya mencoba merangkum beberapa cara yang dapat dilakukan UMKM untuk meningkatkan potensi ekspor Indonesia. Caranya tidak sulit, namun butuh kedisiplinan dan semangat yang tinggi dalam menjalaninya.
Strategi meningkatkan ekspor indonesia

1. Meningkatkan Kualitas, Kuantitas, dan Kontinuitas

Guna meningkatkan ekspor Indonesia, eksportir harus kreatif dalam mengembangkan ide menciptakan produk yang sesuai dengan pasar luar negeri. Selanjutnya, inovasi tidak boleh terlupakan agar tidak tergerus dengan kemajuan teknologi. Yang tak kalah penting adalah konsistensi dalam menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produk ekspor. Berpegang pada prinsip tersebut, maka eksportir akan mampu menembus pasar ekspor dan tidak kalah bersaing di pasar global. Dengan begitu ekspor Indonesia diharapkan mampu terus melaju lebih baik ke depannya. 

2. Memasarkan Produk Secara Online 

Perkembangan teknologi menuntut pasar untuk dikelola secara maya melalui bantuan internet. Berbagai marketplace sudah tersedia untuk dimanfaatkan sebagai wadah berjualan. Selain itu ada juga media sosial yang kerap digunakan menawarkan produk. Jika ingin terlihat profesional, buatlah website resmi untuk menjajalkan jualanmu secara online. Berbagai cara pemasaran produk secara online ini dapat memudahkan eksportir bertemu dengan pembeli di luar negeri. Kemudahan ini diharapkan mampu mendorong peningkatan ekspor Indonesia dan membantu UMKM meraih pasar global. 

3. Mengikuti Pameran di Luar Negeri 

Tidak ada salahnya sesekali menjemput bola langsung ke calon pembeli di luar negeri. Jika ada kesempatan menghadiri pameran produk di luar negeri, cobalah beranikan diri untuk bergabung dan memasarkan produk secara langsung di luar negeri. Jalinlah relasi dan koneksi dengan rekanan bisnis, pelajari pasarnya, dan telusuri regulasi di negara tujuan ekspor. Pengalaman mengikuti pameran di luar negeri seperti ini dapat membantu menemukan calon pembeli yang potensial. 

4. Memanfaatkan Dukungan Pemerintah

Seperti yang telah dijabarkan di atas, dukungan pemerintah untuk mendorong UMKM melakukan ekspor sangatlah besar. Hal tersebut dapat dimanfaatkan sebagai stimulus untuk mendorong ekspor, apalagi dimasa pandemi seperti sekarang. Instansi pemerintah sangat terbuka dan mendukung ekspor secara penuh demi meningkatkan surplus neraca perdagangan di Indonesia. Kolaborasi antara eksportir, UMKM, dan pemerintah diharapkan mampu menjadi terobosan guna memacu kestabilan pertumbuhan ekonomi, yaitu dengan bersama-sama memperkuat produk lokal di pasar global. 

5. Menggunakan Jasa Pengiriman Barang 

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat pengiriman barang ke luar negeri atau ekspor. Pertama pahami dulu peraturan tata laksana ekspor dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 145/PMK.04/2007 sebagaimana telah diubah dengan PMK No. 21/PMK.04/2019 tentang Ketentuan Kepabeanan di Bidang Ekspor. Kemudian lengkapi dokumen dan ikuti ketentuannya.

Eksportir atau UMKM yang ingin melakukan ekspor bisa juga menggunakan jasa pengiriman barang yang profesional, berpengalaman, dan siap membantu, salah satunya adalah Mister Exportir. Sebelum lebih jauh, mari berkenalan dahulu dengan Mister Exportir:

Mister Exportir

PT. Triton Nusantara Tangguh atau biasa dikenal dengan Mister Exportir merupakan perusahaan yang menawarkan berbagai jasa untuk kegiatan ekspor dan impor. Secara khusus, Mister Exportir membuka layanan jasa ekspor terhadap produk berkualitas serta menjalin kerja sama dengan UMKM di seluruh Indonesia. Selain UMKM, Mister Exportir juga berelasi dengan supplier pabrik yang melakukan kegiatan ekspor.

Layanan yang diberikan oleh Mister Exportir antara lain:
  1. Undername Service
  2. Custom Clearence
  3. Find Out Suppliers
  4. Contract Sales Export
  5. Domestic Supply
  6. Project Shipment
  7. Door to Port Service
  8. Door to Door Service
  9. Land Transportation
  10. Sea & Air Freight

Kenapa memilih Mister Exportir?

Bantuan Finance

Mister exportir
Mister Exportir memberikan layanan terbaik untuk setiap pelangganya, salah satunya adalah sebagai funder. Apa itu funder? Mister Exportir akan menyediakan biaya operasional kepada penjual (eksportir) yang sebelumnya sudah deal dengan pihak pembeli, namun memiliki kendala pendanaan. Tenang saja, Mister Exportir akan hadir sebagai pendana (funder) dalam project tersebut sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Lebih Aman

Mister exportir
Tidak ingin mengecewakan setiap pelanggannya, Mister Exportir menjamin keamanan layanan yang disediakan. Berbekal pengalaman yang kemampuan yang mumpuni, Mister Exportir hadir secara profesional baik dari segi ekspor maupun impor barang. Jadi, sudah pasti aman dan terjamin.

Jaringan Luas

Mister exportir
Keunggulan lainnya yang dimiliki Mister Exportir adalah jaringan yang luas. Agen yang dimiliki Mister Exportir hadir di lebih dari 80 negara dengan jalinan kerja sama yang baik dalam bidang perdagangan, baik ekspor mau pun impor.


Berangkat dari prinsip yang dipegang oleh Mister Exportir, "It is about time, everybody can export their products easily", Mister Exportir siap menjadi partner dalam perdagangan komoditi Indonesia ke pasar internasional. Jangan banyak mikir, serahkan semua urusan ekspor kepada Mister Exportir, dijamin bukan amatir!

Kalau mau tau lebih lengkapnya, silahkan kunjungi website Mister Exportir di https://misterexportir.com/ dan follow media sosialnya!
Mister exportir

Bunga mawar sangat indah,
Harum semerbak wanginya,
Mau tau cara ekspor mudah?
Mister Exportir solusinya!

Ekspor itu Mudah

***

Ekspor berkontribusi sebagai roda penggerak yang dapat dijadikan amunisi untuk menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia yang saat ini sedang terpuruk. Memang pandemi covid-19 membuat perekonomian Indonesia bahkan dunia menjadi terguncang, namun hal tersebut tidak patut dijadikan alasan untuk menyerah. 

Indonesia memiliki segudang potensi ekspor, baik dari sumber daya alam, produk olahan, mesin, mineral, dan banyak lainnya. Patutnya kita berbangga dan terus berupaya untuk mengembangkan produk lokal di pasar global. Sinergi antara eksportir, UMKM, dan pemerintah harus tercipta demi mendukung peningkatan ekspor Indonesia. Yuk, bisa yuk! Ekspor itu mudah :)

Sumber:
- Website Mister Exportir 
- Artikel pada website UKM Indonesia: Melihat Potensi Ekspor bagi UKM Indonesia (2020)
- Artikel pada website Jurnal Entrepreneur: 4 Stimulus Non-Fiskal Sektor Ekspor-Impor Dari Pemerintah Akibat Corona (2020)
- Berita Resmi Statistik, Badan Pusat Statistik: Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia Juli 2020

Media gambar dan desain:
- Media Gambar: FreepikIcons8, dan Canva.
- Desain: Dewi Lestari Natalia Marpaung.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments


In Life Profesional

Perpisahan dalam Pertemuan

"Nama saya Dewi Lestari Natalia, dari Dit. Teknis Kepabeanan" seruku saat awal pertemuan itu dimulai.

Tidak terasa hampir sepuluh minggu berlalu sejak pertemuan itu. Pertemuan yang terjadi (sebenarnya) tanpa direncanakan tapi sudah direncanakan cukup lama. Pertemuan ini tersirat cukup panjang namun ternyata sangat singkat ketika dilalui. Delapan puluh sembilan orang dipertemukan dalam satu atap bangunan asrama selama sepuluh minggu kehidupan yang sama. Dua puluh sembilan orang diantaranya dipertemukan dalam satu kelas kecil yang selama lima hari dalam seminggu berada dalam ritme kegiatan yang sama. 

Kesan mendalam terjalin seiring dengan berjalannya waktu. Bagaimana tidak? Mereka hanya bertatap muka dan saling mengucap dengan orang yang sama dalam rentang waktu yang tersirat cukup panjang tadi. Unik. Karena tidak ada satu orang pun yang memiliki karakter identik. 

Sebut saja awal dari sepuluh minggu itu adalah pertemuan pertama mereka. Kecanggungan pasti terjadi, ketidakterbukaan itu masih ada, kecemburuan mungkin juga tersirat, dan tentu saja keingintahuan untuk mengenal satu sama lain itu pasti tumbuh perlahan. Sampai akhirnya pertemuan itu membuahkan puncak rasa nyaman yang sayangnya tercipta dipenghujung waktu. 

Atap bangunan asrama tidak dapat kami tumpangi selamanya. Keharusan kembali kepada 'rumah' masing-masing adalah kewajiban kami yang harus dihadapi. Pertemuan ini akan segera berakhir. Sekali tarikan nafas memang terasa begitu cepat, namun dapat meninggalkan makna yang mendalam. Hidup yang berarti. Ya, aku merasa salah satu bagian hidupku yang berarti adalah pertemuan ini. 

Pertemuan yang terjadi diawal itu akan segera terganti. Diganti dengan perpisahan yang mungkin akan diawali dengan pertemuan-pertemuan baru lainnya. Terima kasih. Hanya dua penggal kata itu yang dapat aku ucapkan. Atas pengalaman berharga yang telah dibagikan bersama, tawa canda kebahagiaan, kekecewaan, kesedihan, haru, semangat, dan harapan di masa depan. Perpisahan sudah di depan mata. Bukan penyesalan yang aku dapat dari perpisahan dalam pertemuan ini, tapi kebahagiaan yang tidak dapat digantikan dan tidak dapat diulang.



DTSD Kepabeanan dan Cukai Angkatan II TA 2016
Pusdiklat Bea dan Cukai Jakarta, 2 April 2016 - 9 Juni 2016
Kelas A sebagai patokan!!!




Siswa!!!
Dewi Lestari Natalia.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments


In Life Profesional

DTU Kesampataan DJBC Angkatan VI Tahun 2015

Setelah menghilang selama lima minggu terhitung dari 3 Agustus 2015 sampai dengan 4 September 2015, akhirnya gue kembali ke peradaban dunia orang normal. DTU Kesamaptaan adalah salah satu diklat wajib yang harus diikuti oleh seluruh pegawai baru di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
samapta /sa·map·ta /v siap siaga
kesamaptaan /ke·sa·map·ta·an /n perihal samapta; kesiapsiagaan
Seminggu pertama ditempa dalam DTU Kesamaptaan di Pusdiklat Bea dan Cukai, semua siswa dan siswi mengalami masa-masa yang disebut Minggu Penyegaran (Minggar). Itulah yang katanya adalah masa-masa terberat dalam DTU Kesamaptaan. Dari mulai di suruh masuk got belakang kantor (yang terkenal dengan nama Sungai Gangga) sambil guling-guling, merayap dan berendam bagaikan sedang berada di perendaman air lumpur plus bau-bau selokan yang gak bisa diceritakan bagaimana rasanya saking gue muak mengingatnya iyuuuhhh. Ada lagi yang namanya long march yaitu jalan kaki berkelompok pada area yang cukup panjang sambil bernyanyi-nyanyi yel-yel ala samapta. Gempor banget ini kaki sumpah. Selain berendam di Sungai Gangga ada juga yang namanya Kolam Sukun, letaknya di lapangan hijau Pusdiklat Bea dan Cukai. Jangan ditanya isinya Kolam Sukun apa aja, gue bahkan pernah menemukan bangkai kodok mengambang di air kolam. Rutenya singkatnya begini, bangun pagi sebelum pukul 04.00 WIB karena pada tersebut akan dilaksanakan senam pagi di lapangan hitam (jangan sampai telat, karena satu orang telat resikonya akan ditanggung oleh semuanya). Setelah senam dipersilahkan untuk pembersihan baik itu mandi, solat subuh atau tidur lagi haha yang penting pukul 06.00 WIB sudah berkumpul untuk sarapan pagi dan segera dilanjutkan dengan berbagai kegiatan minggar. Hal ini berlangsung sampai lima hari ke depan.

Minggu kedua, para siswa dan siswi diberikan "teman" yang harus dijaga dan dibawa kemana pun kita pergi, yaitu Senapan Laras Panjang "Velvet" yang mirip bentuknya dengan AK. Senjata ini beratnya hampir 5 kg. Selain harus membawa Velvet, siswa dan siswi diberikan hadiah berupa bungkusan pasir seberat 5 kg (untuk siswa) dan 3 kg (untuk siswi) yang disimpan di dalam ransel dan harus dibawa kemana pun bersanding dengan Velvet. Kebayang gak beratnya kaya apa huhu. Hal ini bertujuan untuk melatih kekuatan siswa dan siswi ketika nanti diminggu keempat akan melaksanakan kegiatan luar di Ciampea, Bogor. 

Lagi asik-asik tidur terus ditembakin, diserine, dibangunkan secara paksa untuk kumpul dilapangan (kegiatan ini namanya stealling) dengan berpakaian lengkap dengan segala perkakas (baju PDL, senjata, topi, kaos kaki, sepatu, kopel, veples, dan ransel) dalam waktu kurang dari tiga menit. Gimana coba?? Dan bagi siapa yang tidak berpakaian lengkap akan dikenakan sanksi yang sangat memalukan. Contohnya, tidak membawa senjata, akan diberikan batang pohon besar sebagai senjata pengganti yang harus dibawa kemana-mana, jadi double senjata gitu wkwk kasian. Tidak membawa veples (tempat minum) diganti dengan dirigen karbol tanpa tutup ukuran satu liter yang diisi sedikit air dimana airnya tidak boleh tumpah (ini hukuman buat gue huhu). Ada juga yang waktu tidur lagi maskeran (siswi pastinya) tiba-tiba di stealling mati gak? haha lucu-lucu deh. 

Minggu ketiga ini cukup membosankan karena sudah mulai jenuh dengan kegiatan-kegiatan yang ada haha. Kecuali kegiatan hot plate, dimana siswa dan siswi dijemur di lapangan hitam dengan telanjang kaki tengah hari bolong sambil senam senjata brrr. Yang siswa malah disuruh sambil buka baju, kebakar semua deh kulitnya. Minggu ketiga mulai ada latihan bersama untuk demo penampilan pada saat penutupan nanti. Lanjut ke minggu keempat dimana siswa dan siswi diboyong untuk latihan luar di daerah Ciampea, Bogor. Disana diberikan kesempatan untuk latihan menembak dengan senapan laras panjang yang bernama Senapan Bea dan Cukai (SBC) dan juga dengan pistol. Ini merupakan pengalaman yang luar biasa selama hidup gue (noraaaaakkk). Di Ciampea juga dilatih Patroli Penyamaran ala-ala Kopassus. Satu kata yang menceritakan masa-masa samapta saat di Ciampea, SERU!!!

Minggu kelima tibalah saat sibuk berlatih untuk demo penampilan dan kreativitas siswa dan siswi DTU Kesamaptaan Angkatan VI Tahun 2015 (yang dikenal dengan julukan angkatan SEBLAK wkwk). Ada demo bela diri karate, bongkar pasang senjata (ini demo yang gue ikuti), dan kolone senjata. Semua siswa siswi berlatih untuk menampilkan yang terbaik pada saat upacara penutupan nanti. So, far minggu-minggu terakhir atmosfernya sudah tidak seseram minggu-minggu sebelumnya, malah lebih fun dan asik. Tapi tetap harus waspada karena bisa jadi pelatih iseng dan setiap pelatih iseng ada aja caranya yang bikin semua siswa siswi kesal. Huaa jadi kangen samapta nih (kangen orang-orangnya tapinya, bukan kangen kegiatannya). Satu sisi merasa beruntung bisa menjalankan diklat DTU Kesamaptaan ini, benar-benar dapat melatih mental dan fisik (setelah samapta gue jadi berotot dong, gokil yee. Gimana engga, tiap subuh senamnya disuruh push up dan sit-up hampir 100 kali sehari). Tujuan DTU Kesamaptaan sendiri antara lain menyiapkan mental dan fisik pegawai DJBC dalam menjalankan tugas dimana saja ditempatkan.


Tips and Trick:
  1. Pastikan semua barang bawaan wajib sudah dibawa. Jangan lupa juga barang "wajib" tambahan seperti Minyak Tawon, Autan, dan plastik kecil untuk menyembunyikan daleman atau alat mandi selama minggar wkwkw karena sewaktu minggar semua siswa dan siswi tidak boleh mandi dan berganti pakaian dalam sama sekali.
  2. Bawa uang cash yang banyak berjaga-jaga kalau selama samapta ada barang atau makanan yang ingin dibeli. Tidak boleh jajan atau membeli barang dari luar sih, tapi secara diam-diam kita bisa minta titip ke CS barak wkwkw.
  3. Pintar-pintar membuang sampah sehabis jajan. Jangan sampai ketahuan kalau kamu habis jajan sama pelatih atau penyelenggara, bisa-bisa nanti seangkatanmu dihukum wkwk kayak angkatan VI ini yang ketahuan jajan seblak sampai Rp. 200.000,- makanya disebut angkatan SEBLAK wkwk.
  4. Jaga kesehatan. Makan apa saja yang disuruh makan. Ampuh deh bisa membantu jaga stamina juga. Ingat kata pelatih yang membuat diri kita sakit itu, ya kita sendiri. Makanya dinikmatin aja jangan dibawa susah atau mengeluh.
  5. Diminggu-minggu waspada, pakailah PDL pada saat tidur, guna mempercepat pergerakan pada saat ada stealling.
  6. Jangan baper. Ini yang paling penting, kalau kamu baper sedikit aja, bisa-bisa makan hati sendiri atau dongkol sewaktu di'kerjain' sama pelatih. Bawa fun aja dan nikmatin semuanya, seolah-olah lagi outbond gratis.
  7. Pothographer pertanda akan ada kegiatan yang "sesuatu" banget. Nanti analisa sendiri ya. Kurang seru kalau gue kasih tau tanda-tandanya haha.
  8. Sebelum samapta lebih baik tanya senior, apa saja yang harus disiapkan. Dan tanya juga gimana pengalaman dia saat samapta, karena tiap angkatan pasti berbeda-beda momen berkesannya.
  9. Salah satu siswa DTU Kesamaptaan Angkatan VI Tahun Anggaran 2015 membuat Ultimate Guide Samapta, silahkan dibaca-baca di sini.

DTU Kesamaptaan DJBC Angkatan VI Tahun Anggaran 2015




Salam siswa,
Dewi Lestari Natalia.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments


In Life Profesional

Doing Nothing... Why is This Very Hard?

Have I told you that I have ever been a super busy woman? Yessss, I'm sure that I have told you. Being a kind of busy woman is very drain your time, spend too over your energy, even drop out your healthy life. You will ask for more time, more energy, more sleep, because you have not too much time to spent that all the things in over your day. You will ask for holiday or maybe just a second for take your breathe. It's very difficult to get that in the middle of your countless busyness. It's hard.

Have you ever dream about very long sleep without concerning your busyness? Have you ever think to go out so far away from your place just for screaming out? Or have your ever think of doing nothing? Honestly, for me "yess", I have ever think about all of that things. In the top of my disgust over my busyness, even I have ever think to resign from my office (and it was happened haha) and doing nothing. 

Now, I'm in the new office with new 'busyness' things. Am I still busy? NOPE!!! All of my imagination of doing nothing was happened here. (It must be a) Congratulation!!! But....

After you aparted from your bustles, you got what you want of doing nothing, a little time for holiday, even you could breathe all the time you want because there were not something disgust you anymore. You (feel that you) had enough time, no, more than enough, you have so much much much time to relax, to breathe. Did you still feel it's hard? HARD? HARD? YES? NO??? The answer is NO. I didn't feel it's hard anymore. BUT I FEEL HARDER, VERY HARD!!! Arrghhh...

For hyperactive woman like me, it's like a hell if I just sit quitely and do nothing. For easy-to-feel-sleepy woman like me, it's like a comfort bed to be slept if I just shake my legs and do nothing. For orang-yang-terbiasa-sibuk like me, it's like a cake without sugar or a soup without salt if I just do nothing. IT'S VERY HARD!!!

But, that's me with my new job. New employee in my new office has no special task or jobdesk to do. We just help the others employees to do their job. And if they didn't have any job to help by us. Here we are and DOING NOTHING!! Even, I wrote this post in the middle of my doing-nothing-activity haha. And now, I still try to enjoy my new job, because it will never make me asking for more time anymore. 




Cheers,
Dewi Lestari Natalia.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments