Showing posts with label Nusa Tenggara Timur. Show all posts
Showing posts with label Nusa Tenggara Timur. Show all posts

In Nusa Tenggara Timur Travel

Sumba, Surga Kecil yang Jatuh ke Bumi

Keindahan alam Pulau Sumba membuatnya dijuluki sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi. Pulau yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur ini menyimpan sejuta pesona yang menawan dan memikat hati. Tidak heran kalau belakangan Pulau Sumba kerap menjadi primadona wisata Indonesia diantara turis domestik bahkan hingga mancanegara. Kekayaan alam dan budaya Pulau Sumba benar-benar membuatku jatuh hati pada pandangan pertama.
Bukit Wairinding Sumba NTT
Hari itu, tanpa pikir panjang akhirnya aku memutuskan untuk berkunjung ke Sumba, setelah melihat sebuah postingan instagram seorang teman yang memperlihatkan keelokan Bukit Wairinding di Pulau Sumba. Tidak perlu banyak alasan untuk berkunjung ke Sumba, hanya satu, karena aku ingin merasakan surga di bumi Indonesia. Sungguh, aku dan Sumba bagaikan cinta pada pandangan pertama, yang selalu terkenang dan tak terlupakan.

Selain menyimpan pesona alam yang begitu eksotis, Sumba juga menawarkan keindahan budaya yang memukau. Jadi, tidak heran kalau setelah berkunjung ke Sumba, kamu pasti akan berkeinginan untuk kembali lagi suatu hari nanti. Berikut ulasan keindahan alam dan budaya yang pastinya akan membuat kamu ingin segera berlibur ke Sumba:

Deru Ombak di Pesisir Pantai

Pulau Sumba yang dikelilingi oleh lautan ini mempunyai banyak pantai yang sangat indah. Setiap pantai mempunyai ciri khas tersendiri. Sebut saja Pantai Bwana yang khas dengan pesona karang bolong raksasanya. Ada lagi Pantai Mandorak yang katanya adalah pantai terbaik untuk surfing di Pulau Sumba. Fenomena water blow di Pantai Pero juga tidak kalah menarik dan harus kamu nikmati. Kemudian eksotisme senja bersama pepohonan mangrove di Pantai Walakiri yang sangat memukau. Selain itu, kamu juga wajib menjejaki pantai pasir putih di pinggiran padang savana yang dinamankan Pantai Puru Kanbera
Pantai Bwana Sumba
Pantai Bwana
Pantai Mandorak Sumba
Pantai Mandorak
Pantai Pero Sumba
Pantai Pero
Pantai Walakiri Sumba
Pantai Walakiri
Pantai Puru kanbera Sumba
Pantai Puru Kanbera
Deretan pantai tersebut hanyalah sebagian pantai di Sumba yang pernah aku kunjungi. Masih banyak pantai lainnya yang tidak kalah unik dan indah untuk didatangi. Sebagian besar pantai di Sumba masih perawan dan alami, bahkan beberapa ada juga yang masih jarang tersentuh oleh para wisatawan. Jadi, jangan sampai kamu melewatkan deru ombak di pesisir pantai Sumba ya! 

Barisan Bukit Bergelombang

Topografi alam Sumba didominasi oleh rangkaian perbukitan kapur yang tak ayal membuat Sumba dijuluki sebagai Negeri Seribu Bukit. Berkunjung ke Sumba membuatku merasakan kepingan surga yang terhampar diantara perbukitan. Ada Bukit Wairinding yang landscapenya membuatku merinding. Bagaimana tidak, Bukit Wairinding terlihat menakjubkan dengan vegetasi gelombang padang rumput yang sangat luas. 
Bukit Wairinding Sumba NTT
Bukit Wairinding
Bukit lainnya yang tak kalah elok adalah Bukit Lendongara yang letaknya tidak jauh dari Bandara Tambolaka. Walaupun keeksisannya tidak setenar Bukit Wairinding, namun Bukit Lendongara bisa memberikan ketenangan kepada para pengunjungnya, karena memang tidak banyak orang yang memilih bukit ini untuk dikunjungi. Barisan gelombang Bukit Lendongara sangat cocok dijadikan teman untuk menyambut tenggelamnya sang surya.
Bukit Lendongara Sumba
Bukit Lendongara
Sementara untuk menyambut datangnya sang fajar dipagi hari, Bukit Persaudaraan adalah tempat yang paling cocok. Bukit Persaudaraan menawarkan pemandangan berpetak-petak sawah, gundukan perbukitan sampai ke garis laut Pulau Sumba.
Bukit Persaudaraan Sumba
Bukit Persaudaraan

Panorama Padang Savana 

Jangan berpikir bahwa padang savana hanya dapat kamu temui di Benua Afrika. Hey, Sumba punya itu juga loh! Panorama alam bagai padang savana di Benua Afrika dapat kamu temui juga di Sumba. Salah satu padang savana yang terkenal dan harus kamu jelajahi adalah Savana Puru Kanbera. Savana berwarna kuning keemasan dimusim kemarau, dibalut dengan birunya langit dan hembusan angin sejuk akan memanjakan mata dan jiwamu. Pun hamparan hijau padang savana juga dapat kamu temui saat musim penghujan tiba.
Savana Puru Kanbera Sumba
Jalan menuju Savana Puru Kanbera
Bersiaplah juga menikmati uniknya tingkah laku gerombolan kuda liar Sumba yang kerap berlalu-lalang di Savana Puru Kanbera ini. Namun, kamu harus ekstra hati-hati saat ingin mendekat ke gerombolan kuda liar ini, jangan sampai mengganggu aktivitas seru kuda-kuda itu kalau kamu tidak ingin mereka kabur. Fenomena ini hanya dapat kamu nikmati di alam Sumba pada musim kemarau, karena pada musim penghujan kuda-kuda tersebut cenderung menyembunyikan diri mereka. 
Savana Puru Kanbera Sumba
Kuda di Savana Puru Kanbera

Air Terjun dan Laguna Eksotis

Pantai dan bukit kerap menjadi primadona bagi pesona alam Sumba. Namun, disamping itu Sumba juga menyimpan pesona alam lainnya yang tak kalah cantik, yaitu air terjun dan laguna yang masih tersembunyi. Letak Sumba yang dikelilingi garis pantai dan didominasi oleh perbukitan membuat suasana Sumba terasa sangat kering dan terik. Air terjun dan laguna ini hadir bak oase ditengah teriknya matahari Sumba. 

Kamu dapat merasakan surga tersembunyi yang jatuh dihamparan Air Terjun Lapopu. Walaupun akses jalannya cukup ekstrem, namun kejernihan dan dingin airnya dapat menyegarkan ragamu. Adalagi Air Terjun Tanggedu yang bertingkat-tingkat. Untuk dapat mencapainya, kamu harus trekking kurang lebih 45 menit dari akses jalan utamanya melewati lembah dan hamparan savana liar yang menyegarkan mata. 
Air Terjun Lapopu Sumba
Air Terjun Lapopu
Air Terjun Tanggedu
Air Terjun Tanggedu
Selain air terjun, kamu juga bisa menikmati secercah kesegaran berenang di tengah laguna atau danau air asin, yaitu Danau Weekuri. Terjun bebas dari papan loncat dengan ketinggian kurang lebih 5 meter adalah pengalaman paling berkesan yang aku rasakan saat mengunjungi Danau Weekuri. Pemandangan gradasi warna air biru kehijauan menambah keunikan dari Danau Weekuri yang dapat kamu nikmati. 
Danau Weekuri Sumba
Danau Weekuri

Ragam Adat dan Budaya 

Selain pesona alamnya, Sumba juga kaya akan ragam adat dan budayanya. Masyarakat Sumba dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan sangat menghormati adat, terbukti dari banyaknya desa adat yang masih bertahan di tanah Sumba. Kampung Adat Praijing dan Kampung Adat Ratenggaro adalah dua kampung adat yang aku kunjungi saat traveling ke Sumba. 
Kampung Adat Praijing Sumba
Bersama sahabat trip Sumba di Kampung Adat Praijing
Kedua kampung adat ini masih dihuni oleh masyarakat asli Sumba yang tinggal dalam rumat tradisional khas Sumba. Masyarakat masih mempertahankan keaslian rumah tradisional yang mereka huni. Rumah adat tradisonal khas Sumba disebut dengan Uma Bokulu (rumah besar) atau Uma Mbatangu (rumah menara) yang berbentuk rumah panggung dengan atap yang menjulan seperti menara. Keunikan lainnya yang dapat kamu temui di kedua kampung adat ini adalah keberadaan kuburan batu besar megalitikum disekitar kampung tersebut.
Kampung Adat Ratenggaro Sumba
Kampung Adat Ratenggaro
Selain itu, Sumba juga terkenal dengan kerajinan kain tenunnya yang sudah merambah ke kancah perdagangan internasional. Pembuatan kain tenun Sumba ini menjadi mata pencarian masyarakat Sumba yang proses pembuatannya merupakan warisan budaya turun temurun. Dengan kualitas yang sangat baik, kain tenun Sumba dapat dibandrol dengan harga paling mahal mencapai ratusan juta rupiah. 
Kain Tenun khas Sumba
Kain Tenun khas Sumba
Jadi, saat kamu berkesempatan menjelajah tanah Sumba, selain mengunjungi destinasi wisata alamnya, kamu wajib juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke kampung adat khas Sumba dan membeli kain tenun Sumba untuk buah tangan. Saat mampir, jangan lupa juga sekedar ngobrol atau bertukar sapa dengan masyarakat sekitar ya.

Pulau Sumba adalah cerminan surga yang dapat kita nikmati di bumi nusantara Indonesia. Tidak ada salahnya menyisipkan Sumba ke dalam wish list liburan kamu setelah pandemi berakhir nanti. Aku yakin, sekali kamu datang ke Sumba, pasti kamu akan ketagihan dan bercita-cita akan kembali lagi suatu hari nanti. Itulah kesan yang aku rasakan saat pertama kali mengunjungi Sumba di tahun 2018 yang lalu. Semoga suatu saat nanti aku bisa kembali merasakan keindahan Sumba, surga kecil yang jatuh ke bumi.


Baca juga cerita tentang keindahan Danau Weekuri!




Read More

Share Tweet Pin It +1

9 Comments


In Nusa Tenggara Timur Travel

Live On Board di Labuan Bajo (Komodo Island)

Pengalaman baru yang aku dapatkan saat sedang traveling ke Labuan Bajo adalah Live On Board atau disingkat LOB. Kenapa harus LOB? Karena jarak dari satu pulau ke pulau lainnya di daerah ini cukup jauh, bisa 3-4 jam, oleh karena itu LOB adalah solusi yang pas untuk menghemat waktu jalan-jalan kita. Nah, sebelum menjelajah lebih jauh, perlu diketahui bahwasanya Labuan Bajo adalah sebuah kota pelabuhan yang paling dekat untuk menuju Taman Nasional Komodo (Komodo Island) yang terletak di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jadi tidak heran kalau banyak wisatawan yang mulai dari sini untuk mengawali trip menuju Taman Nasional Komodo dan pulau-pulau disekitarnya.



TRIP PLANNING
Persiapkan dengan matang seluruh kebutuhan traveling kamu. Mulai dari waktu berkunjung, tiket pesawat, penginapan, trip organizer, sampai ke itinerary.

Musim
Labuan Bajo punya 2 musim yang keduanya punya view dan feel berbeda namun sama-sama keren.  Awal tahun di Labuan Bajo, kamu akan disuguhkan dengan view padang yang penuh dengan rerumputan hijau, waktu terbaiknya adalah Bulan April-Juni. Sementara tengah tahun sampai dengan akhir tahun view akan berubah menjadi padang rumput yang kering dan kecoklatan, Bulan September-November adalah momen yang pas untuk berkunjung dengan view kecoklatan ini. Tapi jangan sampai failed ya, saranku jangan datang pada saat musim hujan, karena pasti hujan HAHA karena kemungkinan gelombang laut akan tinggi dan rentan terjadi badai. Kali ini, aku memilih musim hijau di Bulan Februari untuk explore Labuan Bajo, dan next time aku pasti akan kembali untuk bertemu dengan musim coklat :)

Tiket Pesawat
Tahun 2018, aku terbang ke Labuan Bajo dengan penerbangan langsung Garuda Indonesia dari Jakarta ke Labuan Bajo (Komodo Airport) dengan tarif yang masih cukup mahal, yaitu Rp 2.200.000,- (PP). Lumayan mahal ya, soalnya saat itu hanya Garuda Indonesia yang menyediakan penerbangan langsung dari Jakarta menuju Labuan Bajo. Tapi menurutku harga tiket yang ku dapat sudah cukup murah karena aku membelinya di Garuda Online Travel Fair, dimana harga normal bisa dua kali lipat dari harga tiket yang ku beli.
Komodo Airport
Penginapan
Sepertinya sekarang ini sudah banyak sekali penginapan dengan berbagai variasi harga. Semuanya tergantung budget yang kamu punya, mau traveling ala backpacker atau traveling mewah yang fancy. Pilihan penginapanku jatuh kepada Danke Lodge Labuan Bajo via Airbnb dengan rate 17,32 USD atau sekitar Rp 250.000,- per malam untuk 3 orang. Murah kan? Aku sangat merekomendasikan penginapan ini karena fasilitas yang sangat lengkap, sarapan pagi, gratis antar-jemput bandara, dan free trip untuk dinner ke Kampung Ujung di hari pertama. Pemiliknya juga super ramah, helpful, dan friendly. Sebenarnya ini adalah penginapan baru yang masih dalam tahap pembangunan saat itu (jadi kurang instagramable) dan lokasinya pun agak jauh dari tempat yang ramai turis, tapi gak masalah karena fasilitasnya lengkap banget.
Danke Lodge (source: booking.com)
Kamar Danke Lodge (source: booking.com) 
Trip Organizer
Banyak sekali jasa trip organizer yang menawarkan paket liburan Labuan Bajo, mulai dari private trip sampai ke open trip, dari yang ekonomis sampai yang mewah, dari kapal kecil sampe kapal pinisi, semua pilihan ada ditanganmu. Ga sempet research sebelum berangkat? Jangan khawatir karena di pelabuhan atau tempat menginapmu pasti akan tersedia banyak paket wisata yang bisa kamu pilih. Kebetulan aku punya teman yang berdinas di Labuan Bajo, jadi aku memanfaatkan temanku untuk membawaku jalan-jalan hehe. Jauh-jauh hari dia juga sudah menyewakan kapal untuk trip LOB kami selama 2 hari 1 malam seharga Rp 6.000.000,- termasuk makan 6 kali, snack 4 kali, guide, dan kamera underwater. Namun harga tersebut belum termasuk alat diving atau snorkeling. Termasuk mahal atau murah sih itu? haha kami pergi bertiga, jadi per orangnya bayar Rp 2.000.000,- deh.
ITINERARY & BUDGET
Trip Labuan Bajo kali ini berlangsung selama 4 hari 3 malam bersama dengan Elisa dan Gita. We did so much fun! Singkatnya kami LOB selama 2 hari dari pulau ke pulau, dan sisanya kami explore darat sekitaran Labuan Bajo. Tapi aku rasa belum cukup, harusnya nambah 3 hari lagi sekalian explore Waerebo dan Danau Kelimutu. Namun apa daya, cuti dan money tidak memadai HAHA.

Day 1 - Bukit Cinta dan Kampung Ujung
Tiba di Bandara Internasional Komodo di siang hari sekitar pukul 14.00 WITA, langsung menuju penginapan Danke Lodge untuk menaruh barang dan bergegas langsung menuju Bukit Cinta untuk menikmati sunset khas Labuan Bajo yang katanya sangat indah dinikmati dari bukit ini. Perjalanannya memakan waktu kurang lebih 30 menit dari Danke Lodge menuju Bukit Cinta, jalannya saat itu sudah diaspal namun masih berbatu. Sesampainya di sana, benar saja, bagus sekali pemandangannya, benar-benar bikin jatuh cinta sama bukit ini. Tapi sayangnya saat itu kami kurang beruntung karena cuaca cukup mendung sehingga sunsetnya tidak terlalu terlihat.
Sea view dari Bukit Cinta Labuan Bajo
Street view dari Buki Cinta Labuan Bajo
Selanjutnya, kami menuju Kampung Ujung untuk menikmati seafood dengan suasana khas Labuan Bajo. Hampir semua warung makan menjajalkan seafood sebagai hidangan utama. Yang khasnya dari Kampung Ujung, kita disuruh milih sendiri ikan-ikan atau makanan laut mana saja yang mau dimakan. Wajib banget sih hukumnya untuk makan seafood di sini karena harganya pun standar, tidak terlalu mahal, namun kita bisa menikmati seafood yang tasty dan segar.
Sunset Kampung Ujung
Kampung Ujung
Day 2 - LOB (Pulau Kelor, Pulau Padar, Pink Beach, dan Pulau Kalong)
LOB started here!!! Karena kami bertiga gak tahan mabok laut, jadi kami memutuskan hanya LOB selama 2 hari 1 malam saja. Cukup! haha. Jam 7 pagi kami harus segera bergegas menuju pelabuhan untuk memulai LOB. Setibanya di Pelabuhan, kami langsung menuju kapal yang sudah disewa sebelumnya, ada sedikit safety breifing dan perkenalan oleh kapten kapal. Setelah itu lanjut dengan sarapan buah-buahan dan roti. Perjalanan pun dimulai, excited  banget rasanya liat laut yang biru banget. Pemandangan selama di kapal tuh bikin mata melek saking bagusnya.
View selama di kapal
Destinasi pertama adalah Pulau Kelor. Perjalanan menuju Pulau Kelor memakan waktu 60-90 menit dari Pelabuhan Labuan Bajo. Pulau ini punya pantai yang biru dengan pasir putih yang lembut. Jangan lupa untuk hiking ke bukit yang berada di sana, walaupun jalurnya sangat sempit dan terjal tapi pemandangannya super bagus dan bikin happy. Spot foto favorit khas Pulau Kelor adalah foto dari atas bukit dengan latar belakang pemandangan pantai dan bukit menggunung pulau seberangnya. Mataharinya benar-benar terik dan gak bisa dikompromi, jadi pastikan memakai sepatu dan baju yang nyaman dan jangan lupa perlindungan untuk kulit dan wajahmu yah. Selesai hiking sempatkan main air sebentar di pantai sambil foto-foto lagi pastinya.
Pemandangan dari atas bukit Pulau Kelor
Turun bukit
Birunya pantai di Pulau Kelor
Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan yang cukup jauh menuju Pulau Padar, sekitar 2-3 jam perjalanan. Pulau Padar merupakan pulau yang paling iconic dalam trip Labuan Bajo. Untuk mencapai puncak Pulau Padar, kita perlu mendaki selama kurang lebih 90-120 menit tergantung dari kecepatan pendakian kita. Treknya sangat jauh, beneran deh, tapi jalannya sudah bagus. Perlu di catat bahwa tidak ada pohon untuk berteduh di pulau ini, jadi kebayang dong siang bolong panasnya gimana. Ada beberapa trip yang menjadikan Pulau Padar sebagai destinasi mengejar sunrise, tapi tidak disarankan untuk sunset ya karena tidak ada penerangan sama sekali saat itu. Sampai di puncak bukit Pulau Padar, satu kata  "AMAZING!!!" sebagus dan seindah itu. Biarlah foto-foto ini yang menyatakan keindahannya.
Kondisi pendakian di Pulau Padar
Pulau Padar
Iconic spot di Pulau Padar
Hidden spot Pulau Padar sebelum pendakian dimulai
Paling asik itu habis panas-panasan di Pulau Padar langsung nyebur dan main air di Pink Beach. Kenapa dibilang Pink Beach? Karena pasirnya pink, benar-benar pink loh, warna pink pada pasir pantai dihasilkan dari terumbu karang berwarna merah yang terbawa ke daratan pesisir pantai. Pink Beach terletak disisi lain Pulau Padar, dimana tidak boleh ada kapal yang bersandar atau menurunkan jangkar di sana. Mau tidak mau harus menggunakan sekoci untuk mencapai bibir pantai, namun kami memilih untuk berenang sambil snorkeling dan mendapati suasana bawah air Pink Beach yang penuh dengan karang warna-warni dan berbagai jenis ikan. 
Gradasi warna biru dan pink di Pink Beach
Tidak terasa hari semakin sore, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Kalong, tempat kapal kami akan bersandar dan bermalam. Pulau Kalong adalah tempat terbaik untuk menyaksikan sunset ditemani dengan sekumpulan kalong yang terbang di langit. Langit jingga kala matahari terbenam, memandang lautan luas tak berujung dan mendengar ombak yang menyapu bergantian, melengkapi sukacita hati yang bersyukur dengan ciptaan semesta dari Yang Kuasa.
Menikmati senja dari kapal di Pulau Kalong
Day 3 - LOB (Pulau Komodo, Gili Lawa Darat, dan Manta Point)
Tiba saatnya di destinasi utama, Taman Nasional Komodo (Komodo Island)! Segera membeli tiket masuk seharga Rp 150.000,- (untuk wisatawan lokal) sudah termasuk asuransi dan jasa ranger yang akan menemani berkeliling. Terdapat short trek, medium trek, dan long trek untuk mengelilingi Pulau Komodo tergantung dari rute dan jaraknya. Ranger sudah mengingatkan sedari awal untuk berhati-hati dengan komodo, jangan terlalu dekat dan jangan main-main. Beruntung sekali saat itu kami bertemu dengan 10 ekor komodo selama perjalanan trekking, dan yang tambah bikin senang adalah kami berhasil berfoto dengan komodo di Pulau Komodo haha :D
Welcome to Komodo National Park
Ranger sedang breifing mengenai jalur trekking
Komodonya mangap haha
Dermaga Taman Nasional Komodo
Trekking dan hiking adalah aktivitas utama dalam trip ini, kembali kami harus hiking untuk mencapai puncak bukit Gili Lawa Darat yang menjadi destinasi selanjutnya. Gili Lawa Darat masih berada di kawasan Taman Nasional Komodo tepatnya di sebelah utara Pulau Komodo. Pulau tidak berpenghuni ini menyuguhkan pemandangan yang sangat indah berupa perbukitan eksotis dengan padang rumput luas berwarna hijau saat itu. Yang terkenal dari lokasi ini adalah pemandangan sebuah selat yang diapit oleh dataran dua pulau, dimana pemandangan ini akan mulai terlihat pada saat trekking menuju ke puncak Gili Lawa Darat.
Padang savana Gili Lawa Darat
Selat iconic yang memisahkan Gili Lawa Darat dengan pulau lainnya
Pemandangan sekitar Gili Lawa Darat dari atas bukit
Satu lagi keunikan yang ditawarkan kawasan Taman Nasional Komodo, yaitu melihat manta berenang-renang ke permukaan laut dari atas kapal di tempat yang bernama Manta Point. Namun sayangnya kondisi cuaca saat itu sedang tidak bersahabat, sehingga kami tidak memungkinkan untuk berenang bersama manta-manta secara langsung di lautan. Hujan badai memaksa kami hanya menikmati manta dari atas kapal, namun hal ini saja sudah membuat kami sangat takjub karena ini adalah kali pertama kami melihat manta. Sayangnya lagi, kami tidak sempat mengabadikan gambar karena memang hujannya cukup deras dan ombak pun cukup besar.

Selesai sudah rangkaian LOB selama 2 hari 1 malam. Perjalan pulang diakhiri dengan drama hujan badai yang sempat bikin jantungan. Aku rasa perjalanan pulang saat itu merupakan 3 jam paling menegangkan dalam hidupku hahaha. Rasanya capek sih memang, tapi semuanya terbayarkan dengan pengalaman baru yang luar biasa. 

Sepulang dari LOB, kami dijemput oleh Jimmy, owner Danke Lodge, untuk diajak menikmati cafe dan bar di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta Labuan Bajo. Eits, ini merupakan fasilitas dan service dari Jimmy secara cuma-cuma loh karena kami sudah menginap di tempatnya, this is why I suggest you to choose Danke Lodge to be you place to stay in Labuan Bajo. Banyak cafe dan bar yang dapat ditemui sepanjang Jalan Soekarno-Hatta, pilihan kami jatuh kepada Labajo Flores Coffee yang ternyata selain ada cafe, mereka punya art and gallery di lantai 2, jadi bisa sambil belanja-belanja deh.  
Labajo Flores Coffee
Day 4 - Goa Batu Cermin and Komodo Airport
The last day in Labuan Bajo was ended by visiting Goa Batu Cermin yang waktu tempuhnya hanya 10 menit dari Danke Lodge. Rencana awal sebenarnya ingin pergi ke Goa Rangko, tapi menurut Jimmy akses ke sana cukup sulit dan jika dipaksakan dia khawatir akan telat ke bandara, mengingat penerbangan pulang kami sekitar pukul 13.00 WITA. Lagi-lagi dengan senang hati Jimmy mengantar kami explore Goa Batu Cermin dan sekalian ke Komodo Airport.

Dinamakan Goa Batu Cermin karena di bagian goa yang paling dalam akan ditemukan suatu titik (batu cermin) dimana sinar cahaya matahari terlihat menembus masuk melalui celah bebatuan di goa dan terlihat tegak lurus. Tiket masuknya hanya Rp 10.000,- (untuk wisatawan lokal) dan Rp 20.000,- untuk guide. Aku menyarankan agar kamu memakai jasa guide agar bisa mengetahui seluk beluk tentang Goa Batu Cermin. Hal yang wajib dilakukan saat memasuki kawasan goa adalah menjaga safety dengan memakai helm dan senter yang telah disediakan.
Pintu masuk Goa Batu Cermin
Cahaya yang masuk melalui celah batu cermin
Safety first wajib memakai helm di Goa Batu Cermin
Sebelum pulang, tidak lupa mampir sebentar ke Exotic Komodo Shop untuk membeli oleh-oleh, letaknya persis di seberang Komodo Airport, jadi bisa jalan kaki sembari killing time menunggu waktu boarding

Budget
Setelah dihitung-hitung ternyata aku menghabiskan dana kurang lebih sekitar Rp 5.000.000,- untuk trip 4 hari 3 malam di Labuan Bajo dengan gaya liburan yang hemat tapi gak hemat-hemat banget tapi gak boros banget juga haha :D
I promise to my self to come back next time in the other season (brownish season), because my heart is keeping here. Seriously, this place was amaze me with its view. See you again, Labuan Bajo please be nice until we meet again :)



Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments