In Sumatera Utara Travel

Pulau Samosir Memancarkan Keindahan Panorama Danau Toba

Danau Toba

HORASSS!!! Welcome to Tano Batak! Selamat datang di Tanah Batak! Kali ini aku akan bercerita tentang keindahan kampung halamanku. Sebenarnya kampung halamanku di Narumonda, Porsea dan Sidulang, Laguboti, tapi karena masih dalam satu daerah Tapanuli Utara, tak apa lah yah, ku sebut juga sebagai kampung halaman hehe. 

Siapa yang tak kenal Danau Toba? Danau yang terletak di Provinsi Sumatera Utara dan juga terkenal sebagai danau terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Semua pasti tahu kan? Tapi tahu gak sih ternyata Danau Toba seindah itu lho!

Kali ini, aku berkesempatan menikmati keindahan Danau Toba dan Pulau Samosir, walau hanya sehari saja pada tanggal 20 Februari 2021. Setidaknya butuh waktu seminggu supaya bisa puas mengexplore seluruh sudut Danau Toba. Tapi berhubung keterbatasan waktu, aku hanya sempat berkunjung satu hari saja. Artinya, next time aku harus lebih lama keliling-keliling nih. Yuk, kita keliling bareng!

Perjalanan

Perjalananku dimulai dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional Kuala Namu (KNO), Deli Serdang menggunakan maskapai Air Asia, tiket unlimited pass. Sebelumnya aku sudah memesan mobil beserta dengan driver untuk mengantarkanku berkeliling. Sebelum menuju Pulau Samosir, aku sempat berkunjung ke Berastagi dan menjelajahi Air Terjun Sipiso-piso, nanti akan aku ceritakan detailnya di blog post selanjutnya yah! Jangan sampai ketinggalan, lho!

Baca: Jelajah Lombok Gratis? Gimana Caranya?

Oh ya, untuk menyeberang ke Pulau Samosir terdapat dua alternatif perjalanan. Pertama, bisa menyeberang danau menggunakan kapal atau melalui jalur darat. Jika kamu mau menyeberang danau menggunakan kapal, harap perhatikan jalur dan jadwal keberangkatan kapal ya. Ada banyak jalur penyeberangan menuju Pulau Samosir dengan berbagai jadwal, namun semejak pandemi ada sedikit perubahan jadwal keberangkatan kapal, tidak ada lagi kapal yang menyeberang pada malam hari saat weekdays.

Nah, karena aku sempat mampir ke beberapa tempat sebelumnya, alhasil aku tidak bisa mengejar jadwal keberangkatan kapal penyeberangan. Akhirnya aku menuju Pulau Samosir melalui jalur darat, yaitu melewati Tele yang ternyata cukup jauh. Jalurnya berkelok dan sempit, hanya muat untuk dua mobil saja, penerangan sangat minim sekali, dan suasananya sangat sepi. Jujur, seram sekali perjalanan malam itu. 

Penginapan

Awalnya aku memesan penginapan di daerah Tuk-Tuk, yaitu Toba Village Inn, namun karena jaraknya cukup jauh dari jalur Tele dan saat itu sudah terlalu larut malam, akhirnya terpaksa menginap di daerah Pangururan yang lebih dekat. Daerah Pangururan tidak ada hotel besar, hanya terdapat beberapa hotel kecil saja. 

Aku menginap semalam di Raja Hotel, Pangururan. Lokasinya tepat di pinggir Pantai Pasir Putih Parbaba. Rate kamar standard non-AC per malam sekitar Rp 300.000,- dan extra bed Rp 75.000,-. Namun, karena aku sampai tengah malam, akhirnya bisa dinego menjadi Rp 300.000,- termasuk extra bed.

Ekspektasiku tidak terlalu tinggi, yang penting bisa rebahan dan tidur, ada air panas, dan bersih. Aku kasih nilai 6,5 dari 10 deh hehe ketolong sama view pantai pagi hari saat buka pintu hotel, bagus bangeeeettttt asli beneran! Ketika pagi hari, lalu buka pintu hotel, wow pemandangan pasir putih dipadu dengan birunya air danau toba serta latar belakang perbukitan yang berlapis-lapis. Kebayang ga sih?

Seperti yang aku bilang sebelumnya, kalau mau mencari penginapan sekelas hotel besar, mungkin bisa di daerah TukTuk yang dekat juga dengan dermaga penyeberangan dan beberapa wisata alam. Tapi berhubung tempat yang ingin aku kunjungi letaknya tidak jauh dari Pangururan, jadi aku memutuskan untuk menginap di daerah ini.

Pantai Pasir Putih Parbaba

Kebetulan Raja Hotel terletak dekat dengan tempat wisata Pantai Pasir Putih Parbaba, dimana banyak wahana air yang bisa dicoba, mulai dari banana boat, perahu, speed boat dan pastinya wahana foto-foto buatan berbentuk love wkwkwk. Sebenernya wahana foto kayak begini sedikit mengganggu pemandangan sih tapi cukup kreatif untuk memancing perhatian ibu-ibu yang doyan selfie haha.

Pantai Pasir Putih Parbaba
Pasir Putih Parbaba Samosir
Pantai Pasir Putih Parbaba
Sensasi berenang di Danau Toba

Mau merasakan sensasi berenang di Danau Toba, nah bisa banget disini. Sensasi dinginnya air danau di pagi hari tidak mematahkan semangat berenang karena viewnya luar biasa. Burung-burung berwarna putih berterbangan di atas danau, barisan perbukitan menghiasi panorama yang sangat menyegarkan mata. Ada juga barisan kapal yang terparkir disisi yang lainnya. Perfecto!

Bukit Holbung

Selesai bercengkrama langsung dengan air Danau Toba, aku berkemas untuk mengunjungi destinasi selanjutnya, yaitu Bukit Holbung. Berdasarkan maps, jaraknya sekitar 1 jam dari Raja Hotel, lumayan juga. Jalurnya cukup sempit, berkelok, dan menanjak, pun juga masih ada beberapa ruas jalan yang berbatu. Kemampuan menyetirmu cukup diuji saat melakukan perjalanan ini.

Bukit Holbung Pulau Samosir
Dari atas Bukit Holbung kita dapat melihat landscape Danau Toba

Bukit Holbung terletak di Desa Holbung, Kabupaten Samosir, dimana sinyal internet masih belum stabil jadi aku sarankan untuk mengunduh offline maps untuk panduan perjalananmu yah. Semua tempat wisata di daerah sekitar Danau Toba sudah terdapat di maps, jadi hal ini memudahkan kamu dalam melakukan perjalanan. 

Bukit Holbung Pulau Samosir
Bukit Holbung
Bukit Holbung Pulau Samosir
Pemandangan Danau Toba dari atas Bukit Holbung

Walau kondisi jalannya tidak sempurna, namun pemandangan menuju Bukit Holbung sangatlah indah.  Disatu sisi, kamu akan melewati barisan perkampungan warga yang masih tinggal di rumah adat khas suku batak, dimana disekitar rumah masih banyak dijumpai kuburan yang megah. Disisi lain, pemandangan Danau Toba yang diapit oleh barisan perbukitan akan menemani perjalananmu menuju Bukit Holbung. Jadi tidak ada salahnya berhenti sejenak untuk mengabadikannya, percayalah semua sisinya bisa dijadikan konten instagram karena memang seindah itu alamnya.

Bukit Holbung Pulau Samosir
View Bukit Holbung
Bukit Holbung Pulau Samosir
Bukit Holbung Pulau Samosir

Tiket masuk Bukit Holbung sebesar Rp 5.000,- per orang dan Rp 5.000,- per mobil. Lumayan ramai orang yang berkunjung saat itu, mengingat hari itu adalah hari Sabtu. Ada pula yang sengaja berkemah disana, seru sih kayaknya. Tertarik untuk mencobanya?

Seindah itu pemandangan dari atas Bukit Holbung, kita bisa melihat barisan perbukitan hijau yang mengelilingi Danau Toba. Siapkan fisik untuk trekking kurang lebih 10-15 menit untuk mencapai puncak Bukit Holbung. Selain bisa melihat barisan perbukitan dan petak-petak sawah, kamu juga bisa memandang keeksotisan Danau Toba dari atas Bukit Holbung.

Air Terjun Efrata

Sekilas aku melihat ada bus wisata umum yang dapat dinaiki untuk menuju Bukit Holbung, Air Terjun Efrata, dan mungkin tempat wisata lain. Namun, aku belum mencari tahu informasi detailnya. Air Terjun Efrata dapat ditempuh kurang lebih 15 menit dari Bukit Holbung. Letaknya agak tersembunyi, sehingga kita harus memperhatikan jalannya.

Air Terjun Efrata Samosir
Air Terjun Efrata

Belum sampai di lokasi, tapi air tejunnya sudah terlihat mengintip dari balik bukit, jadi tidak sabar ingin cepat-cepat menuju ke sana. Sepanjang perjalanan, mata kita akan dimanjakan dengan hijaunya sawah disisi kanan dan kiri jalan. Karena terletak tersembunyi dibalik perkampungan warga, jalan menuju Air Terjun Efrata bukanlah jalan utama yang mulus, melainkan cukup berbatu dan tidak terlalu lebar.

Air Terjun Efrata Samosir
Keindahan air terjun dibalik bukit di tengah Pulau Samosir

Tiket masuk Air Terjun Efrata sebesar Rp 7.000,- per orang dan Rp 10.000,- untuk parkir kendaraan. Ya, wisata di sekitar Danau Toba memang murah meriah dan masih sangat alami, bersih, dan terjaga keasriannya. Senang sekali rasanya berkunjung ke sini hihihi.

Air Terjun Efrata Samosir
Air Terjun Efrata

Air Terjun Efrata memiliki ketinggian kurang lebih 20 meter dan dikelilingi oleh pepohonan hijau yang membuat suasana begitu sejuk. Air terjun ini dikenal juga dengan sebutan Sampuran Efrata yang berarti taman indah dan suci, pas sekali ya dengan namanya. Jangan lewatkan untuk merasakan kesegaran berenang di air terjun efrata! Dingin sekali airnya, padahal saat itu sedang siang bolong dan terik matahari.

Danau Sidihoni

Danau Sidihoni terletak di Desa Sabungan Nihuta, Kecamatan Ronggur Nihuta, Kabupaten Samosir, sekitar 30 menit dari Pangururan. Belum banyak yang tahu tentang wisata ini. Uniknya, Danau Sidihoni kerap mendapat julukan "danau di atas danau" karena letaknya di Pulau Samosir yang berada tepat di tengah Danau Toba.

Danau Sidihoni dikelilingi oleh padang rumput hijau yang menyerupai savana. Tak jarang juga ditemui beberapa ekor kerbau yang berkeliaran di sekitar danau. Danau dengan luas kurang lebih 5 hektar ini tidak memungut tiket masuk alias gratis. Pemandangan alamnya sangatlah alami dan indah.

Danau Sidihoni Samosir
Danau Sidihoni Samosir (sumber: https://medanbisnisdaily.com/)

Sayangnya aku tidak sempat berfoto di Danau Sidihoni, karena saat perjalanan menuju Danau Sidihoni, rombongan kami tidak sengaja mendapati sebuah mobil terguling dijalan. Akhirnya aku dan rekan traveling ku memutuskan untuk menolong korban dan mengantarkannya ke Puskesmas terdekat. Selalu ada cerita disetiap perjalanan :")

Aku merasa bersyukur, walau tidak sempat mampir dan merasakan langsung keindahan Danau Sidihoni, namun aku masih bisa menikmati keindahannya dari dalam mobil sembari menolong korban kecelakaan yang memang sangat membutuhkan bantuan. 

Sekilas memandang ke sekitar Danau Sidihoni, terdapat sebuah gereja yang terletak diatas bukit kecil dengan view jalur yang berkelok dan diapit oleh beberapa tiang listrik. Estetik sekali pemandangannya, kalau lain waktu kesini, sempatkan foto belatarkan gereja tersebut ya. Letaknya tidak jauh dari Danau Sidihoni, hanya berjarak beberapa meter saja.

Wisata Makam Raja Sidabutar

Makam Raja Sidabutar terletak tidak jauh dari Dermaga Tomok, Kabupaten Samosir. Uniknya makan bersejarah ini dijadikan tempat wisata dan pertunjukan budaya. Tidak jauh dari Pasar Tomok, kamu akan menemui arah menuju Makan Raja Sidabutar yang khas dengan barisan rumah adat khas Batak dan menampilkan Pertunjukan Si Gale-Gale.

Si Gale-Gale sendiri merupakan boneka kayu yang didandani seperti manusia, menggunakan ulos (kain tradisional batak) dan bisa menari diiringi dengan gondang batak, digerakkan oleh seorang dalang. Tarian Si Gale-Gale merupakan kesenian tradisional suku batak yang masih menarik perhatian wisatawan. 

Sebelum pandemi, pertunjukan tarian Si Gale-Gale rutin dilakukan, bahkan ada juga pertunjukan tari tor-tor, tarian tradisional batak. Wisatawan bisa ikut menari dan mencoba memakai ulos sambil manortor (menari tor-tor) mengikuti irama musik. Sayangnya, sejak pandemi melanda, pertunjukan jarang ditampilkan karena memang wisatawan yang datang sangat dikit sekali.

Bisa dibilang wisata ini adalah destinasi last minute kami. Gimana ceritanya? Jadi, setelah mengantarkan korban kecelakaan di dekat Danau Sidihoni, aku bergegas mendatangi Pelabuhan Tomok, untuk mengetahui jadwal keberangkatan kapal fery. Ternyata kapal akan berangkat pukul 16.00 dimana saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 15.30, dan kapal selanjutnya berangkat pukul 20.00 yang tentu saja bukan menjadi pilihan karena sudah terlalu malam.

Akhirnya setelah membeli tiket, aku berlari (serius lari-larian hehe) menuju Makam Raja Sidabutar untuk menyempatkan diri mampir dan melihat keunikan rumah adat dan tentu saja Si Gale-Gale. Untung saja lokasinya berdekatan sehingga masih bisa disempatkan untuk berkunjung. Sekilas melihat patung Si Gale-Gale dekat dengan makam, namun seperti tidak diurus. Aku pun bergegas menuju rumah adat dan berharap dapat menyaksikan pertunjukan.

Makan Raja Sidabutar Tomok
Rumah Adat Batak di Makan Raja Sidabutar Tomok

Entah memang sepertinya tidak berjodoh, ternyata saat itu terdapat acara adat untuk orang meninggal, rupanya salah satu warga ada yang meninggal, banyak karangan bunga dukacita berjejer di depan rumah adat. Tidak ada pertunjukan, tidak ada wisatawan, aku pun kikuk, namun mencuri-curi untuk bisa mengambil momen sedikit di salah satu rumah adat yang sedikit jauh dari lokasi acara.

Pelabuhan Tomok

Dengan terburu-buru setelah gagal melihat pertunjukan Si Gale-Gale, akhirnya aku kembali mengerjar waktu menuju Pelabuhan Tomok. Aku membeli tiket penyeberangan dari Pelabuhan Tomok menuju Pelabuhan Ajibata, Parapat  untuk 4 orang dan 1 mobil sekitar Rp 160.000,- keberangkatan pukul 16.00. Pejalanan yang ditempuh kurang lebih 1 jam lamanya.

Pelabuhan Tomok Samosir
Pelabuhan Tomok Samosir dari atas kapal ferry

Setelah lelah lari-larian, aku beristirahat sejenak di kedai makanan dekat pelabuhan dan mencicipi semangkuk mie gomak, makanan khas batak. Mie nya seperti spageti dengan kuah santan kuning, lumayanlah mengisi tenaga setelah lari-larian haha. 

Budget

Itinerary Medan Samosir
*Biaya per orang belum termasuk biaya di Medan

Ya, begitulah uniknya cerita dibalik jalan-jalanku menyusuri Pulau Samosir dan Danau Toba. Tidak ada yang menduga bahwa rencana yang sudah matang pun bisa diputarkan oleh rencana Tuhan yang tidak kita tahu. Tapi kesimpulannya, rencana Tuhan adalah yang paling indah. Terbukti, akhirnya aku bisa terkejar naik kapal pukul 16.00 dan melanjutkan perjalanan menuju Medan.

Perjalanan mengitari keindahan Pulau Samosir, Danau Toba tidaklah cukup hanya satu hari saja. Lain waktu aku pasti akan kembali dan menyapa lagi kenangan yang tertoreh dihari itu. Yakin, kamu gak mau kesini? Yuk, kita explore bareng! :)

Pulau Samosir Danau Toba
@shdmnasution, @deenataliaa, @andro_made





Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments