In Profesional

Kualitas Kesehatan adalah Impian Daerah Pedalaman

Kesehatan kian menjadi isu yang tak henti dibicarakan sepanjang tahun ini khususnya oleh masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena pandemi COVID-19, pun juga ramai membicarakan tentang pelayanan kesehatan di daerah terpencil Indonesia. Sejatinya peningkatan kualitas kesehatan adalah impian masyarakat di daerah pedalaman, yang dapat terwujud dengan kontribusi nyata untuk menjawab segala permasalahan kesehatan yang ada. Seperti apakah kondisi kesehatan di daerah terpencil Indonesia? 
Kualitas Kesehatan Daerah Pedalaman
Dokter Liber Siahaan, mengabdikan dirinya untuk melayani sebagai tenaga kesehatan di Desa Mahak Baru, Kecamatan Sungai Boh, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara. Bersama dengan istri tercinta, Juwita Rashi Sihombing, sudah lebih dari 5 tahun bertugas memperjuangkan kesehatan di tanah Kalimantan. Sejak 2015, Dokter Liber membantu masyarakat Desa Mahak Baru dalam mengatasi masalah kesehatan. 

Berangkat dari kisah pengabdian Dokter Liber, saya jadi mengerti betapa kesehatan di tanah pedalaman belum sepenuhnya baik. Minimnya tenaga kesehatan, membuat Dokter Liber harus menjadi satu-satunya dokter yang melayani 6 desa yang jaraknya saling berjauhan. Bukan hanya tenaga kesehatan, pelayanan Dokter Liber juga terhambat dengan keterbatasan obat dan alat kesehatan yang tersedia di Puskesmas Sungai Boh. 
Kualitas Kesehatan daerah terpencil
Pelayanan kesehatan dr. Liber di daerah Sungai Boh
Bukannya tidak ada bantuan pemerintah, namun peran aktif pemerintah pusat maupun daerah dinilai kurang gesit. Bersyukur puskesmas sudah dilengkapi dengan gedung yang cukup baik, walaupun letaknya jauh dari pedesaan dengan instalasi listrik yang sangat terbatas. Sudah cukup sering Dokter Liber kewalahan menangani pasien emergency saat malam hari dengan kondisi tidak ada obat dan alat kesehatan yang dapat membantu pelayanannya.

Menurut hasil perbincangan saya dengan Dokter Liber, selain upaya peningkatan kualitas kesehatan daerah terpencil, edukasi masyarakat tentang kesehatan pun harus digalakkan. Minimnya keinginan dan pengembangan diri masyarakat pedalaman, menjadi faktor utama yang menyebabkan kurangnya edukasi kesehatan. Masih banyak masyarakat daerah terpencil yang tidak paham akan gaya hidup sehat, pentingnya sanitasi, dan lain sebagainya. 

Namun jangan salah, dibalik kisah perjuangan Dokter Liber, ternyata pengalaman sukacita lebih banyak dirasakan dibanding dengan kisah sedihnya. Sambutan masyarakat yang hangat dan terbuka, membuat 5 tahun berasa begitu singkat. Dokter Liber percaya bahwa hati yang gembira adalah obat yang sempurna.

Permasalahan Kesehatan Daerah Pedalaman 

Masalah isu kesehatan sepertinya bukan hanya terjadi di Desa Mahak Baru, tetapi juga di seluruh daerah tertinggal, pedalaman, bahkan perbatasan. Padahal, kesehatan adalah hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Bukan hanya untuk daerah perkotaan, namun juga mencakup seluruh daerah di wilayah Indonesia. 

Seperti yang tertuang dalam Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, kesehatan didefinisikan sebagai keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. 

Masalah kesehatan ini tidak lepas dari tanggung jawab pemerintah Indonesia dalam merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat. 

Asian Development Bank (ADB) mengungkapkan bahwa indeks kesehatan (wellness index) Indonesia pada September 2020 berada pada angka 57,70. Angka ini jauh dibawah Vietnam sebesar 65,83, Malaysia sebesar 69,12, dan Singapura sebesar 78,96. Kendati demikian, indeks kesehatan Indonesia lebih baik dibandingkan dengan Kamboja, Laos, Myanmar, dan Filipina. 

Masalah kesehatan lain yang banyak ditemui di Indonesia adalah terkait gizi. Banyak kasus obesitas merebak belakangan ini, juga kasus gizi buruk yang diderita anak-anak di daerah pedalaman. Selain keterbatasan pangan di daerah pedalaman, pengetahuan dasar masyarakat terkait gizi juga masih rendah. 

Kita lihat saja, tahun 2017 terdapat sekitar 37% anak Indonesia yang mengalami stunting. Angka tersebut masih jauh di bawah standar yang ditetapkan World Health Organization (WHO), yaitu minimum 20%. Bayangkan jika banyak anak Indonesia mengalami stunting, terhambat pertumbuhan fisik dan otaknya, bagaimana nasib sumber daya manusia Indonesia di masa depan? 

Buruknya kualitas kesehatan Indonesia dipengaruhi oleh ketidakmerataan kesehatan di berbagai daerah. Kesehatan daerah kota mungkin saja sudah baik dan memadai, namun tidak dapat dipungkiri bahwasanya kualitas kesehatan daerah pedalaman masih butuh perhatian lebih. 

Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas kesehatan di daerah pedalaman, mulai dari kurangnya perhatian pemerintah, keterbatasan fasilitas dan alat kesehatan, penyebaran tenaga kesehatan yang belum merata, akses transportasi sulit, dan kurangnya kesadaran masyarakat setempat. 

#1 
Kurangnya Perhatian Pemerintah 

Peran pemerintah dalam bidang kesehatan
Peran pemerintah dalam bidang kesehatan
Pemerintah bukannya tidak memperhatikan masalah kesehatan di daerah terpencil, namun pemerintah dinilai kurang gesit dalam penanganannya. Baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sepertinya belum maksimal dalam pemerataan kesehatan Indonesia. 

Upaya percepatan pembangunan daerah sebenarnya telah lama digalakkan, pemerintah pusat telah menetapkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 131 tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019. Dalam hal ini daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) ditetapkan sebagai sasaran utama pembangunan, yang terdiri dari 143 kabupaten/kota yang terletak di 27 provinsi. Bahkan pemerintah juga telah mengeluarkan Perpres Nomor 63 tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2020-2024.

Pemenuhan kualitas kesehatan pada daerah 3T bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat tetapi juga dibutuhkan peran dinas kesehatan daerah setempat guna menganalisis kebutuhan kesehatan daerahnya dan mengajukannya kepada pemerintah pusat. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah diharapkan mampu mempercepat pembangunan daerah dan mengatasi berbagai permasalahan kesehatan terutama di daerah 3T. 

Menurut pengalaman Dokter Liber, selama 5 tahun mengabdi di daerah pedalaman, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dinilai masih sangat kurang. Hal ini terlihat dari pemenuhan kebutuhan obat dan alat kesehatan yang memakan waktu sangat lama. 

#2 
Fasilitas Kesehatan yang Terbatas 

fasilitas kesehatan daerah pedalaman
Pentingnya fasilitas kesehatan
Keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah terpencil menjadi faktor penyebab rendahnya kualitas kesehatan di sana. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa terjadi peningkatan jumlah Puskesmas dari tahun 2018 sebanyak 9.993 menjadi 10.134 tahun 2019. 

Pemerintah sudah berupaya dalam pemenuhan akses pelayanan kesehatan dibuktikan dengan meningkatnya jumlah puskesmas di Indonesia. Namun sayangnya, penyebarannya belum merata dan hanya berpusat di kota besar saja. 

Keterbatasan puskesmas di daerah pedalaman dipengaruhi oleh kondisi geografis daerah yang sulit dan rendahnya tingkat sosial ekonomi masyarakat di daerah pedalaman. Hal ini menjadi catatan agar akses terhadap pelayanan kesehatan perlu ditingkatkan lagi ke depannya. 

Bukan hanya puskesmas saja, namun ketersediaan obat dan alat kesehatan juga belum terpenuhi secara merata. Akses transportasi dan keadaan geografis daerah terpencil membuat sulitnya pengadaan obat dan alat kesehatan di daerah tersebut. Padahal obat dan alat kesehatan merupakan amunisi utama para dokter untuk dapat mengobati pasiennya. 

Tak jarang dokter berinisiatif untuk pemenuhan obat emergency dengan merogoh kocek pribadinya, seperti yang dilakukan oleh Dokter Liber. Hal ini dilakukan karena pengadaan obat dan alat kesehatan di tempatnya bekerja sangat lambat, sementara penanganan terhadap pasien tidak dapat ditunda demi keselamatan nyawa pasien. 

Dengan segala keterbatasan fasilitas kesehatan, obat, alat kesehatan serta terkendala akses transportasi yang sulit, maka tidak heran jika kualitas kesehatan di daerah pedalaman masih sangat rendah. Apabila semua hal tersebut telah memadai, maka saya yakin kualitas kesehatan di daerah pedalaman akan semakin baik ke depannya. 

#3 
Penyebaran Tenaga Kesehatan Tidak Merata 

Tenaga kesehatan daerah pedalaman
Pentingnya peran tenaga kesehatan
Tenaga kesehatan memegang peranan penting dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan. Dokter, perawat, bidan, ahli gizi, tenaga kesehatan tradisional, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya punya andil yang sangat penting dalam perkembangan dunia kesehatan. Bayangkan jika alokasi tenaga kesehatan tidak terpenuhi, kita sudah bisa menebak pasti akan banyak masalah kesehatan yang timbul. 

Bertugas di daerah pedalaman merupakan suatu tantangan tersendiri bagi para tenaga kesehatan. Satu sisi, mungkin mereka siap mengabdi, namun bagaimana dengan fasilitas kesehatannya? Apakah mendukung? Tenaga kesehatan yang tidak dilengkapi dengan fasilitas kesehatan memadai sama seperti bertarung tanpa amunisi. 

Penyebaran tenaga kesehatan di wilayah perkotaan bisa dipastikan sudah sangat memadai, berbeda dengan daerah pedalaman. Mengangkat kembali kisah Dokter Liber yang merupakan satu-satunya dokter untuk 6 desa di pedalaman Kalimantan Utara, menjadi bukti bahwa penyebaran tenaga kesehatan di daerah pedalaman masih sangat kurang. 

Data Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa Provinsi Papua Barat merupakan provinsi paling kekurangan dokter yang bertugas di puskesmas, 63,27% puskesmas di Papua Barat sangat kekurangan dokter. Begitu pula dengan Provinsi Papua sebanyak 58,22%, dan Maluku sebanyak 51,66% puskesmas masih kekurangan dokter. Sebaliknya, Provinsi DKI Jakarta hanya mencatat 0,3% puskesmas yang kekurangan dokter. Hal ini membuktikan belum meratanya penyebaran dokter di seluruh wilayah Indonesia. 

Tenaga kesehatan di daerah pedalaman harus dibekali dengan kompetensi dan mental yang baik. Pemberian insentif tenaga kesehatan, pengangkatan tenaga kesehatan honorer, kemudahan fasilitas kesehatan, serta penjaminan kesejahteraan dan keamanan para tenaga medis merupakan upaya yang dapat dilakukan pemerintah untuk menarik minat tenaga medis agar tergerak melayani di daerah pedalaman. 

Pelayanan mereka tentu saja harus mendapat dukungan penuh baik dari pemerintah maupun masyarakat sekitar. Masyarakat daerah terpencil juga harus terbuka menerima layanan kesehatan modern demi mengupayakan peningkatan kualitas kesehatan di daerahnya. 

#4 
Kurangnya Kesadaran Masyarakat 

Kesadaran masyarakat daerah pedalaman
Kesadaran masyarakat menjadi faktor penting
Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan bahwa angka kebijakan perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat Indonesia belum mencapai 100%. Daerah timur Indonesia menjadi yang terendah, Provinsi Papua tercatat hanya 10,34%, Nusa Tenggara Timur sebesar 27,27%, dan Papua Barat 38,46%. Perilaku hidup bersi dan sehat berangkat dari kesadaran individu guna mencegah permasalahan kesehatan. 

Begitu pula dengan angka kualitas kesehatan lingkungan di wilayah timur Indonesia, masih terbilang rendah. Provinsi Papua hanya mencapai 13,79% angka kualitas kesehatan lingkungan, paling rendah diantara provinsi lainnya. Diikuti oleh Provinsi Sulawesi Utara pada angka 26,67% dan Sulawesi Tenggara pada angka 41,18%. 

Berdasarkan data yang disajikan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia, terkhusus Provinsi Papua, masih sangat rendah untuk menjaga kualitas kesehatan diri dan lingkungannya. 

Perlunya edukasi kesehatan terhadap masyarakat daerah terpencil guna menciptakan kesadaran akan pentingnya kualitas kesehatan. Dengan adanya kesadaran masyarakat, maka dipastikan akan berkontribusi dalam peningkatan kualitas kesehatan. 

Bagaimana Cara Mengatasinya? 

Pemerintah sudah berupaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan Indonesia, khususnya di daerah pedalaman. Tahun 2020, Kementerian Kesehatan berfokus pada 5 masalah kesehatan, diantaranya penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi (AKI/AKB), Pengendalian Stunting (gagal pertumbuhan), Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), dan Tata Kelola Sistem Kesehatan. 

Harapannya fokus tersebut menjadi perhatian untuk seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah pedalaman. Seperti yang kita ketahui, Papua menjadi salah satu daerah yang berdasarkan data menjadi provinsi dengan tingkat kualitas kesehatan yang paling rendah. 

Kasus gizi buruk di Papua beberapa tahun belakangan menjadi perhatian khusus. Kemudian tingginya AKI/AKB di Papua juga membuat Papua menjadi salah satu wilayah dengan kualitas kesehatan yang rendah. Tentu saja tidak boleh berdiam diri melihat kondisi yang memprihatinkan ini. Penyediaan anggaran kesehatan dan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan swasta sangat diperlukan dalam memperbaiki keadaan tersebut. 

Penyediaan Anggaran Kesehatan

Anggaran kesehatan
Keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah pedalaman selain disebabkan karena letak geografis daerah pedalaman yang sulit dijangkau, secara tidak langsung juga karena kurangnya anggaran kesehatan yang dikhususkan untuk pembangunan kualitas kesehatan di daerah pedalaman. 

Semua tentu saja harus dianggarkan, mulai dari pembangunan sarana dan prasarana kesehatan sampai ke akses transportasi menuju daerah pedalaman. Jika tidak serius dianggarkan, maka semuanya akan jalan ditempat dan tidak menunjukan suatu peningkatan. 

Berdasarkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2021, Kementerian Kesehatan mendapat alokasi pagu indikatif sebesar Rp84,3 triliun, meningkat dari tahun 2020 sebesar Rp78,5 triliun. Peningkatan ini tentu saja diharapkan mengentaskan segala permasalahan kesehatan di Indonesia juga memulihkan bidang kesehatan akibat pandemi COVID-19. 

Pemerintah cukup serius merencanakan perbaikan dan pemerataan kesehatan Indonesia, namun bagaimana realisasinya? Mampukah anggaran yang besar itu menyelesaikan masalah kesehatan Indonesia terutama di daerah pedalaman? 

Sinergi Pemerintah, Masyarakat, dan Swasta 

sinergi pemerintah dan swasta
Pemerintah dengan anggaran yang melimpah tentu tidak dapat bekerja sendiri. Perlu jalinan sinergi dengan masyarakat juga pihak swasta, agar peningkatan kualitas kesehatan di daerah pedalaman bisa terlaksana dengan segera. Dengan begitu maka dapat dipastikan akan membawa semangat untuk sama-sama berjuang meningkatkan kualitas kesehatan Indonesia. 

Mari kita lihat kasus nyata di Provinsi Papua, Papua kerap dicatat sebagai salah satu provinsi yang memiliki akses pelayanan kesehatan yang rendah. Letak geografisnya, sebagai provinsi paling timur Indonesia yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini, memiliki infrastruktur yang belum memadai sehingga menyebabkan terbatasnya akses pelayanan kesehatan masyarakat. 

Dalam rangka memperbaiki kualitas kesehatan di Papua, pemerintah hendaknya menggandeng pihak swasta yang beroperasi di daerah sekitar untuk turut campur tangan berjibaku menata kondisi kesehatan Papua. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab sosial pihak swasta untuk membantu menyejahterakan masyarakat daerah sekitar tempat usahanya dengan berbagai program yang positif dan bermanfaat, salah satunya dibidang kesehatan. 

Inisiatif yang baik telah dilakukan oleh KORINDO GROUP, sebagai kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di Kabupaten Boven Digoel, Papua. Bagaimana peran Korindo Group dalam upaya mencapai kesehatan yang baik untuk sesama di wilayah Papua? 

Berkenalan dengan Korindo Group 

Korindo Group merupakan perusahaan Indonesia yang telah hadir selama 50 tahun sejak 1969 dan terbukti menjadi perusahaan terdepan di pasar Asia Tenggara. Selama ini Korindo hadir memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia serta memperhatikan praktik kerja ramah lingkungan dengan orientasi pada masa depan. 

Fokus utama Korindo pada awalnya adalah pengembangan hardwood, kemudian pada tahun 1979 beralih ke produk plywood atau veneer, kemudian tahun 1984 mengembangkan kertas koran. Tidak berhenti sampai disitu, tahun 1993 Korindo berfokus pada perkebunan kayu dan sejak tahun 1995 hingga sekarang mengembangkan perkebunan kelapa sawit. 

Korindo telah berhasil mewujudkan industri ramah lingkungan dengan nilai ekonomi langsung diperoleh dari hasil hutan. Sejak awal Korindo berkomitmen mengembangkan usahanya di daerah tertinggal Indonesia. Korindo membangun jalan serta tempat tinggal, pun berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur utama yang termasuk dalam usaha pengembangan daerah. 

Berbekal visi dan filosofi perusahaan Korindo selalu berusaha memberikan kontribusi terbaik untuk Indonesia. 
Korindo Group

Kontribusi Nyata Korindo Group

Pemberian Asrama untuk Para Pelajar Merauke

Kontribusi Korindo Group
Korindo Group melalui PT Tunas Sawa Erma (PT TSE), salah satu unit bisnisnya yang bergerak di perkebunan kelapa sawit di Papua, mendirikan asrama putera dan puteri seluas 130 meter persegi di Merauke. Tujuan didirikan asrama ini untuk meningkatkan sumber daya manusia, khususnya para pelajat di Merauke. Asrama ini dilengkapi dengan fasilitas seperti kulkas, televisi, lemari pakaian, dan meja belajar. 

Penyaluran Bantuan Honor Guru Pedalaman

Kontribusi Korindo Group
Sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan di daerah pedalaman, PT TSE menyalurkan bantuan honor untuk guru di Camp 19, Kabupaten Boven Digoel, Papua. Penerima bantuan ini adalah 23 guru yang terdiri atas 5 orang guru TK, 6 orang guru SD, dan 12 orang guru SMP. 

Bantu Ribuan APD dan Masker untuk Papua 

Kontribusi Korindo Group
Guna mencegah penyebaran wabah COVID-19 di Papua, Korindo Group berinisiatif untuk memberikan 3.500 Alat Pelindung Diri (APD) kepada tenaga kesehatan di RSUD Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Selain itu, Korindo juga memberi bantuan 120.000 masker kepada masyarakat Papua. Masker tersebut didistribusikan ke 3 wilayah yang meliputi, 50.000 lembar masker untuk Merauke, 50.000 lembar untuk Boven Digoel, dan 20.000 lembar untuk Kabupaten Mappi. 

Suplai 420 kg Beras untuk Masyarakat 

Kontribusi Korindo Group
PT TSE berinisiatif untuk membantu masyarakat ditengah masa pandemi. Mereka memberikan sembako berupa: beras seberat 420 kg, mie instan sebanyak 40 box, kopi sebanyak 20 box, teh celup sebanyak 20 box, dan minyak goreng sebanyak 50 liter. 

Klinik Asiki

Klinik Asiki Korindo Group
Menjawab kegelisahan akan kurangnya kualitas kesehatan di Papua, Klinik Asiki hadir menjawab segala masalah kesehatan di tanah Papua. Berdirinya Klinik Asiki merupakan bentuk Korindo Group berkontribusi dalam peningkatan kualitas kesehatan di daerah terpencil. 

Korindo Group bekerja sama dengan Korea International Coorporation Agency (KOICA) membangun sebuah klinik modern di pedalaman Papua, tepatnya di Kampung Asiki yang berbatasan dengan Papua Nugini. Klinik gratis ini dipersembahkan bagi masyarakat daerah Papua yang tidak mampu dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan di sana. 

Klinik Asiki diresmikan pada tanggal 2 September 2017 oleh Chairman Korindo Group, Mr. Eun Ho Seung dan dihadiri oleh Para Pejabat Pemerintahan Daerah. Setelah diresmikan, Klinik Asiki langsung menjadi andalan masyarakat dalam pelayanan kesehatan. 

Klinik Asiki berdiri di atas lahan seluas 2.929 meter persegi. Fasilitas yang disediakan cukup lengkap dan modern, dilengkapi dengan ruang rawat jalan, rawat inap, ruang bersalin, IGD, ruang bedah minor, perawatan bayi/perinatologi, alat USG, instalasi farmasi, dan fasilitas lainnya hingga penyediaan kendaraan mobil ambulans. 
Klinik Asiki Korindo GroupKlinik Asiki Korindo Group

Klinik Asiki Korindo Group
Keberadaan Klinik Asiki diharapkan mampu meningkatkan kualitas kesehatan daerah terpencil, khususnya Papua. Daerah terpencil ini menjadi tantangan tersendiri bagi Klinik Asiki dalam pelayanan kesehatan. Salah satu tantangannya adalah menurunkan Angka Kematian Ibu dan Anak di Papua.

Upaya penurunan Angka Kematian Ibu dan Anak merupakan satu dari delapan program prioritas Klinik Asiki. Banyak hal yang telah dilakukan Klinik Asiki guna menangani kasus ini, mulai dari tim medis yang langsung turun ke masyarakat, menjangkau para ibu di pelosok desa untuk memberikan penyuluhan, hingga bekerja sama dengan Puskesmas setempat dalam menggalakkan program Mobile Service

Menurut sejarahnya, penyebab tingginya angka kematian ibu dan anak disebabkan oleh faktor budaya dan kepercayaan masyarakat. Masyarakat adat percaya bahwa melahirkan di tenda atau hutan jauh lebih baik dibanding dengan puskesmas atau klinik. Tidak adanya ketersediaan alat medis di hutan, tentu saja membahayakan kondisi ibu dan anak saat proses persalinan. Sedih rasanya membayangkan seorang ibu melalui proses persalinan di hutan tanpa bantuan medis. 

Selain memperjuangkan kesehatan guna menyejahterakan masyarakat, Klinik Asiki juga berupaya mengedukasi masyarakat dengan cara mengubah perlahan pola pikir dan kepercayaan masyarakat adat tentang dunia kesehatan. Kemudian melakukan sosialisasi agar para ibu dapat melahirkan di Klinik Asiki yang sudah dilengkapi dengan berbagai alat medis serta didukung dengan tenaga medis yang berpengalaman, tanpa dikenakan biaya sepeser pun.

Mengutip data yang disajikan Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, terjadi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Papua pada tahun 2019 sebanyak 66 kasus. Sementara pada tahun 2018 terdapat 75 kasus. Hal ini tentu membuktikan bahwa Klinik Asiki turut berperan dalam menurunkan AKI di Provinsi Papua. 
Senyum Papua
Senyum anak Papua
Komitmen dan kontribusi Klinik Asiki untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat pedalaman diapresiasi dengan penghargaan Klinik Terbaik Tingkat Nasional sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) oleh BPJS Kesehatan berturut-turut tahun 2017, 2018, dan 2019. Dengan begitu Korindo Group melalui Klinik Asiki telah berperan aktif dan berkontribusi nyata dalam peningkatan kualitas kesehatan di daerah Papua. 

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut tentang Klinik Asiki dan program kesehatan lainnya dari Korindo Group, silahkan kunjungi website Korindo Group https://korindonews.com/ atau ikuti media sosialnya!

Kualitas kesehatan yang baik untuk sesama selayaknya dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat yang tinggal di wilayah Indonesia, termasuk daerah pedalaman. Letak geografis, kondisi masyarakat adat, penyebaran tenaga kesehatan yang tidak merata, merupakan beberapa dari banyak faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas kesehatan di daerah pedalaman. 

Peningkatan kualitas kesehatan adalah impian daerah pedalaman. Guna mencapainya, pemerintah harus menyediakan anggaran yang cukup untuk pengadaan fasilitas kesehatan dan pendukungnya. Selain itu sinergi antara pemerintah, masyarakat serta pihak swasta sangat dibutuhkan untuk mendukung pelayanan kesehatan yang lebih baik. Indonesia pasti bisa! 



Sumber:
- Interview bersama dr. Liber Siahaan dan istri
- Website Sehat Negeriku Kementerian Kesehatan: 5 Fokus Masalah Kesehatan Tahun 2020 (2020)
- Profil Kesehatan Indonesia 2019

Media gambar dan desain:
- Media Gambar: Website Korindo Group, FreepikIcons8, dan Canva.
- Desain: Dewi Lestari Natalia Marpaung.


Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments


In Laos Thailand Travel

Perjalanan Bangkok ke Vientiane Pulang Pergi Naik Bis

Pengalaman jalan-jalan dari Bangkok (Thailand) ke Vientiane (Laos) kali ini melewati jalur darat menggunakan bis. Perjalanan dilakukan pulang pergi, tepatnya bermalam di bis. Tidak sampai 24 jam aku menjelajahi Vientiane. Kesan pertama mendengar Vientiane, seperti tidak ada yang menarik. Apakah kamu memikirkan hal serupa? Hmm, ternyata keliling Vientiane seharian merupakan hal yang sangat mengesankan.
Nong Khai Boundary Post

Perjalanan Bangkok ke Vientiane

Sebenarnya banyak cara yang dapat ditempuh dari Bangkok menuju Vientiane. Selain menggunakan biss jurusan Bangkok-Viantiane, kamu juga bisa naik bis jurusan Bangkok-Nong Khai atau Bangkok-Udon Tani. Kamu juga bisa naik kereta atau kalau kamu punya budget lebih langsung saja naik pesawat.

BACA JUGA: 
Itinerary Keliling Vientiane dalam Satu Hari tanpa Tour Guide

Berhubung budget terbatas, aku memilih naik jurusan Bangkok-Nong Khai. Perjalanan dimulai pukul 9 malam dari Stasiun Mo Chit, Bangkok, Thailand. Ini adalah kali pertama aku bersama dengan 4 orang lainnya traveling melewati perbatasan negara melalui jalur darat menggunakan bis malam.

Sebelumnya, aku telah membeli tiket bis pergi Bangkok-Nong Khai secara online. Dari awal memang berniat hanya satu hari menjelajahi negara komunis tersebut. Jadi diputuskan untuk berangkat malam dari Bangkok dan kembali sore keesokan harinya. Jujur, jompo sekali rasanya :")

Keadaan bis pergi sangat nyaman dengan fasilitas lcd kecil, wifi, selimut, snack, dan air mineral. Kursi bis bisa diatur sedemikian hingga, jadi membuat tidurmu lebih nyaman. Harga tiket bis sekitar 300 ribu rupiah. Mahal? Iya, karena aku kehabisan tiket kelas ekonomi. Padahal sebenarnya semua kursi dan fasilitas terlihat sama saja.

Perjalanan dari Bangkok menuju Vientiane memakan waktu sekitar 8-10 jam. Dari Bangkok, bis melaju melewati jalur Northeast Thailand menuju Nong Khai, sebuah kota kecil yang berbatasan langsung dengan Sungai Mekong. 

Jalur darat ini merupakan jalur yang biasa dilewati oleh masyarakat yang rutin melakukan kegiatan baik wisata atau pun bisnis. Terdapat kantor imigrasi Thailand di Nong Khai yang berbatasan langsung dengan Laos, hanya dipisahkan dengan Friendship Bridge yang dibangun sebagai penghubung kedua negara tersebut.

Setibanya di Terminal Bis Nong Khai, banyak sekali supir tuk-tuk yang menawarkan jasa perjalanan menuju kantor imigrasi Nong Khai. Harga yang ditawarkan cukup fantastis, mungkin karena turis asing kali ya. Setelah melakukan tawar menawar dengan pakai urat, akhirnya kami dikenakan biaya sebesar 100 bath untuk 5 orang, lumayan hehe.

Imigrasi dan Bea Cukai Thailand-Laos

Nong Khai Boundary Post
Gerbang utama kantor perbatasan Nong Khai
Sampai di kantor imigrasi sekitar pukul 6 pagi, aku menyempatkan diri untuk bersih-bersih diri sejenak, sekedar gosok gigi dan mencuci muka seadanya, maklum semalam hanya tidur di bis. Fasilitas kamar mandi di kantor imigrasi Ngong Khai cukup baik, sehingga memungkinkan untuk mandi dan bersih-bersih.

Setelah itu aku mulai antri untuk pemeriksaan imigrasi. Siapkan paspor dan isi kartu keberangkatan yang disediakan di sana.  Kantor imigrasi ini cukup bagus dari sisi bangunannya dan sangat teratur. Saat itu banyak sekali warga yang mengantri masuk untuk immigration check.

Sepenglihatanku, kebanyakan warga yang saat itu ikut antri di imigrasi bergaya santai, seperti yang sudah terbiasa bolak balik Thailand-Laos. Ada juga beberapa orang turis dengan grup-grup kecil. Beberapa orang anak sekolah juga terlihat mengantri. Cukup padat namun pelayanannya cepat.

Tidak banyak yang ditanyakan petugas imigrasi saat memeriksa pasporku. Hanya bertanya, berapa lama tinggal di Laos, tujuannya apa, dan kapan kembali. Oh iya, turis Indonesia tidak memerlukan visa saat mengunjungi negara ASEAN selama masih dalam jangka waktu 30 hari kunjungan. Sementara itu, tidak ada pemeriksaan bea cukai, karena memang aku tidak membawa barang apapun hanya ransel saja.

Selesai pemeriksaan imigrasi, kamu harus menyeberang Friendship Bridge, yaitu jembatan penghubung Thailand dan Laos yang melintasi Sungai Mekong. Kamu bisa menaiki shuttle bus yang melintas setiap 15 menit sekali dengan tarif 20 bath per orang, atau menggunakan mini van dengan harga yang lebih mahal. Jalan kaki juga bisa hehe jaraknya berkisar 2 km. 

Imigrasi dan Bea Cukai Laos-Thailand

Tiba di imigrasi Laos sekitar pukul 7 pagi, tadinya aku mau langsung menukar uang Lao Kip di money changer. Pikiranku, namanya imigrasi pasti ada dong money changer. Eh ternyata, semua money changer tutup dan baru buka kembali pukul 9 atau 10 pagi. Oh, barbara tidak punya banyak waktu untuk menunggu!

Sebenarnya bisa juga menggunakan bath di Laos, tetapi cukup repot karena harus konversi ke kip terlebih dahulu. Akhirnya aku memutuskan untuk menarik uang dari ATM, untung saja bisa.

Lucunya, saat itu bukan hanya money changer dan toko-toko saja yang tutup, namun layanan imigrasi dan bea cukai pun tutup. Baru kali ini, aku menemui layanan perbatasan yang tidak 24 jam. Sebagai informasi, layanan normal dimulai dari pukul 08.00-16.00. 

Layanan imigrasi dan bea cukai sebenarnya sudah mulai buka sejak pukul 7 pagi, namun karena buka diluar jam layanan normal, maka setiap pengunjung diwajibkan membayar extra time fee sebesar 10.000 Kip. Jadi, semacam kita bayarin uang lembur mereka, karena mereka harus bekerja diluar jam kerja normal.

Ada aja yaaaaaa haha. Untung saja di Indonesia tidak sampai seperti itu, disatu sisi bersyukur layanan imigrasi dan bea cukai di Indonesia sangat maksimal hingga 24 jam tanpa ada embel-embel biaya tambahan.

Pemeriksaan imigrasi dan bea cukai berlangsung seperti biasa dengan pertanyaan yang sama. Siapkan paspor dan jawaban-jawaban pertanyaan yang meyakinkan. Usahakan tetap tenang dan jangan gugup saat menjawab pertanyaan. Sekali lagi, untuk turis Indonesia yang mengunjungi Laos atau negara ASEAN lainnya, tidak diperlukan visa ya.

Perjalanan Vientiane ke Bangkok

Setelah seharian puas keliling Vientiane, mengunjungi Buddha Park, Vientiane Center Lao Mall, Patuxay, dan Pha Tat Luang, sore hari aku berniat kembali menuju Bangkok dengan menggunakan bis. Perjalanan pulang kali ini, aku membeli tiket bis jurusan Vientiane-Bangkok, berbeda dengan saat pergi, harganya pun lebih mahal, sekitar 400ribuan.

Terjadi sekiti drama saat perjalanan pulang. Traveling tuh gak akan sempurna tanpa bumbu-bumbu drama deh kayaknya. Jadi, aku membeli tiket bis Vientiane-Bangkok dari travel agent secara online. Travel agent ini menyediakan jasa jemput di beberapa titik penjemputan di Vientiane.

Saat itu, sesuai dengan jadwal tiket yang sudah aku beli sebelumnya, aku sudah siap menunggu di salah satu hotel di Vientinae yang menjadi titik penjemputan travel. Selain rombonganku, ada juga beberapa rombongan turis yang menunggu penjemputan dengan travel yang sama. Namun, pihak hotel mengatakan bahwa terjadi keterlambatan penjemputan, aku pun akhirnya harus menunggu hampir 2 jam di hotel itu.

Tapi untungnya pihak hotel memperbolehkan aku untuk menggunakan fasilitas toilet dan kamar mandi untuk bersih-bersih, maklum udah dua hari gak mandi hehe. Akhirnya tiba saatnya kami dijemput oleh pihak travel menuju Talat Sao atau terminal bis. Yang bikin syok adalah, kami dijemput dengan menggunakan tuk-tuk haha padahal udah berharap naik mobil ber-AC, karena cuaca Vientiane sangat gerah dan panas.

Belum selesai drama penjemputan, ternyata sesampainya di tempat pemberhentian agen bis, aku dikagetkan dengan bentuk bis yang sangat diluar dugaan haha. Jauh lebih bagus bis pergi dibandingkan dengan bis pulang. Padahal dari segi harga, harga bis pulang lebih mahal dengan fasilitas yang sama dengan bis pergi. Memang sih, bis pergi dan bis pulang ini beda operator. Dan lagi-lagi harus drama menunggu bis kurang lebih 1 jam sebelum keberangkatan. Huft.

Sekitar pukul 6 sore, akhirnya perjalanan Vientiane-Bangkok dimulai. Berbeda dengan perjalanan pergi, karena bis kali ini jurusan Vientiane-Bangkok, jadi saat tiba di imigrasi, aku tidak perlu berganti bis. Hanya perlu turun untuk pengecekan imigrasi dan bea cukai, lalu setelah pemeriksaan selesai, kembali lagi naik bis yang sama.

Imigrasi dan Bea Cukai Laos-Thailand

Jadi, pertama turun untuk pemeriksaan imigrasi dan bea cukai di Laos, kemudian setelah selesai aku kembali naik ke bis. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan melewati friendship bridge menuju perbatasan Laos-Thailand. Aku turun kembali dari bis untuk pemeriksaan imigrasi dan bea cukai Thailand. Setelah selesai, naik lagi ke bis dan melanjutkan perjalanan sampai Bangkok.

Proses pemeriksaan imigrasi dan bea cukai sama seperti saat pergi. Lagi-lagi karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, aku harus membayar extra time fee untuk layanan pemeriksaan di Laos. Namun, untuk layanan imigrasi dan bea cukai Thailand, tidak dikenakan biaya apapun.

Oh iya, hati-hati dengan barang bawaan dan jaga paspor kamu jangan sampai hilang atau tertinggal. Karena proses pemeriksaan cukup panjang dan mengharuskan untuk berkali-kali naik turun bis. Bisa saja barang tertinggal atau hilang.

Selama proses cek imigrasi, supir bis selalu menghimbau untuk bergerak cepat dan jangan terpisah dari rombongan. Selalu ingat nomor bis yang kamu tumpangi, jangan sampai kamu salah naik bis yah, karena banyak juga bis lain yang melewati perbatasan.
***

Traveling seharian keliling Vientiane, bisa dicoba untuk kamu yang hanya mempunyai sedikit waktu untuk berlibur. Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa kamu explore di Laos, seperti Kuang Si Waterfall yang sangat terkenal dan menjadi landmark pariwisata andalan Laos. Sayangnya belum sempat explore sudut lain dari Laos, maybe next time yuk yang mau ajak aku keliling Laos!

Kurang lebih begitulah kisah pengalaman perjalanan Bangkok ke Vientiane pulang pergi dengan menggunakan bis melalu jalur perbatasan darat. Apa saja yang aku explore di Vientiane selama seharian? Baca di postinganku selanjutnya yah hihi. 


Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments


In Profesional Review Thoughts

Mengawal Potensi Ekspor Produk Lokal di Pasar Global

"Betapa kita tidak bersyukur, 
Bertanah air kaya dan subur, 
Lautnya luas, gunungnya megah, 
Menghijau padang, bukit, dan lembah"
-Subronto Kusumo Atmodjo, 1979-
Potensi ekspor indonesia
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia sangat beragam, mulai dari hutan, laut, gas alam, minyak bumi, serta batu bara. Bukan main-main, sumber daya alam Indonesia sangatlah berlimpah ruah, dari Sabang sampai Merauke. 

Tidak heran jika Indonesia dapat menghasilkan banyak hasil alam yang mampu dipasarkan secara nasional hingga ke kancah internasional. Pemasaran produk Indonesia ke luar negeri telah membuktikan bahwa produk Indonesia mampu bersaing dan tidak kalah dengan produk negara lain. 
Produk ekspor Indonesia
Produk ekspor Indonesia
Indonesia bisa dibilang sebagai salah satu negara penggerak ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Hal ini dibuktikan salah satunya dengan adanya pemasaran produk Indonesia ke luar negeri. Pengiriman barang ke luar negeri atau biasa disebut ekspor, dapat menjadi dongkrak penghasil devisa negara. 

Menurut Undang-Undang nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan, ekspor merupakan kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean. Daerah pabean sendiri merupakan wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang udara di atasnya, serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan landas kontinen yang di dalamnya. 

Ekspor merupakan salah satu roda penggerak perekonomian suatu negara. Selain menjadi penggerak ekonomi, ekspor juga memberikan sumber penghidupan kepada para pelaku usahanya dan terlebih berdampak pada pemasukan negara. Oleh sebab itulah potensi ekspor Indonesia harus terus didorong agar kegiatan ekspor Indonesia semakin meningkat. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor Indonesia didominasi oleh ekspor non-migas dengan nilai ekspor mencapai US$13.025,1 pada Juli 2020, sementara ekspor migas sebanyak US$704,7. Kemudian dapat dilihat bahwa yang menjadi andalan ekspor non-migas adalah lemak dan minyak hewan/nabati dengan nilai ekspor mencapai US$1.677,2 pada Juli 2020. Apa saja komoditi yang berpotensi untuk diekspor? Nah, berikut adalah data nilai ekspor komoditi yang bisa dijadikan potensi ekspor Indonesia: 
nilai ekspor Indonesia
Tabel nilai ekspor Indonesia (Sumber: BPS)
Namun, sayangnya perekonomian Indonesia bahkan dunia terguncang dengan adanya pandemi virus COVID-19 yang tentu saja berpengaruh terhadap proses bisnis ekspor di Indonesia. Dilansir dari data Badan Pusat Statistik, memang ekspor Indonesia meningkat pada bulan Juli 2020 sebesar 14,33% dibandingkan dengan Juni 2020, yaitu mencapai US$13.73 juta. Namun jika dibandingkan dengan Juli 2019, ekspor Indonesia mengalami penurunan sebanyak 9,90%. 

Pemerintah sangat gencar mendorong ekspor baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya terkhusus dimasa pandemi ini. Mulai dari olahan hasil hutan, laut, pertanian sampai dengan produk kerajinan tangan. Bukan hanya pengusaha besar, pemerintah dengan sigap juga mendorong UMKM untuk menjadi pelecut guna mendorong ekspor Indonesia. 

Pandemi covid-19 ini menjadi tantangan baru bagi perekonomian UMKM Indonesia. Agar tidak terpuruk lebih jauh, maka diperlukan terobosan serta stimulus dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah sendiri telah menyusun beberapa strategi dan kebijakan untuk meningkatkan potensi ekspor Indonesia. Apa saja sih langkah yang sudah diambil pemerintah? Yuk, kita simak ulasan berikut ini:

Strategi dan Kebijakan Pemerintah

Strategi meningkatkan ekspor indonesia

1. Menyederhanakan Larangan dan Pembatasan Ekspor 

Dalam rangka meningkatkan kelancaran ekspor dan daya saing produk Indonesia di pasar global, pemerintah perlu melakukan suatu stimulus perdagangan ditengah-tengah situasi pandemi ini. Salah satu langkah yang diambil pemerintah adalah melakukan simplifikasi lanjutan dalam bentuk pengurangan atau penyederhanaan jumlah perizinan ekspor, seperti larangan dan pembatasan (lartas). 

Pemerintah telah mengambil langkah mengurangi lartas ekspor untuk 749 kode Harmonized System (HS) dari total lartas ekspor sebanyak 1357 kode HS, atau sebesar 55,19%. Jika dibandingkan dengan seluruh kode HS pada Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI) 2017, telah dilakukan simplifikasi perizinan lartas sebanyak 6,91%. 

Adapun 749 kode HS tersebut terdiri dari 443 kode HS untuk komoditi ikan dan produk ikan terkait Health Certificate dan 306 kode HS untuk komoditi produk industri kehutanan terkait V-Legal. Artinya dokumen perizinan Health Certificate dan V-Legal tidak lagi menjadi dokumen persyaratan ekspor, namun perlu diperhatikan apakah negara tujuan ekspor membutuhkan dokumen tersebut, jika membutuhkan eksportir harus tetap mengurusnya. 

2. Memaksimalkan Perwakilan Perdagangan Indonesia di Luar Negeri 

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menyampaikan bahwa peningkatan dan potensi ekspor dapat dilakukan dengan penguatan merek lokal di pasar global. Menteri Perdagangan mendorong eksportir, baik UMKM dan pelaku usaha besar, untuk meningkatkan kualitas dan terus melakukan inovasi terhadap produk lokal. 

Dalam mendukung kiprah merek produk lokal di pasar global, Kementerian Perdagangan telah berupaya melakukan promosi produk, diantaranya dengan memaksimalkan misi dagang dan pameran internasional. Hal ini tentu saja melalui peran perwakilan perdagangan di luar negeri (atase perdagangan) dan juga Indonesia Trade Promotion Center (ITPC). 

Perwakilan Indonesia ini merupakan agen pemasaran yang turut berkontribusi terhadap kelancaran perdagangan produk lokal di luar negeri. Bukan hanya itu, perwakilan Indonesia juga diharapkan juga merupakan agen komunikasi yang dapat menjalin komunikasi yang baik dengan instansi di negara terkait untuk menggali informasi terkini sehingga promosi dapat terintegrasi dengan baik dan membuka gerbang untuk masuknya produk Indonesia. 

3. Mengadakan Pelatihan Ekspor

Bukan hanya berfokus kepada pemasaran, namun Menteri Perdagangan menyampaikan bahwa pengembangan sumber daya manusia juga menjadi faktor yang penting dalam peningkatan potensi ekspor Indonesia. Sumber daya manusia yang berkembang dapat memicu eksportir untuk lebih kreatif dan inovatif. 

Strategi peningkatan ekspor yang diangkat oleh Menteri Perdagangan yaitu pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan ekspor, coaching clinic, promosi dan kerja sama diklat ekspor, pengembangan kurikulum dan metode diklat. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan kreativitas dan inovasi eksportir dapat dibangun guna meningkatkan keuntungan dan produktivitas dalam peningkatan usahanya. 

4. Memberikan Insentif Ekspor 

Berbagai jenis insentif telah dikeluarkan pemerintah untuk menunjang perekonomian Indonesia. Kebijakan ini khususnya dapat dimanfaatkan eksportir untuk menjadi stimulus pergerakan ekspor produk Indonesia. 

Pemerintah menyediakan insentif sebagai bentuk dukungan kepada UMKM. Pelaku UMKM yang melakukan ekspor akan mendapatkan insentif berupa dukungan modal kerja. Insentif fiskal ini diberikan bagi kegiatan usaha menengah dengan harapan mampu meningkatkan ekspor dan memulihkan perekonomian. 

Insentif dilakukan melalui pengalokasian dana PKE, dimana Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebagai lembaga penyalur insentif tersebut. Selain itu, Menteri Perdagangan juga mengusulkan pemberian insentif berupa kredit ekspor dan asuransi bagi para eksportir yang terkena dampak Covid-19. 

Insentif bidang kepabeanan juga dapat dinikmati eksportir atau UMKM yang melakukan kegiatan ekspor, berupa perlakuan kepabeanan atas selisih berat dan/atau volume terhadap barang ekspor curah seperti gandum, gula, minyak dan lainnya yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 26/PMK.04/2020. 

5. Membentuk Klinik Ekspor 

Salah satu layanan ekspor yang sedang dikembangkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai adalah pembentukan Klinik Ekspor pada setiap Kantor Pelayanan Bea dan Cukai khususnya yang menangani kegiatan ekspor. Berangkat dari berbagai kendala dan tantangan ekspor yang selama ini terjadi, ditambah dengan situasi pandemi yang kian marak, maka muncul inisiatif pembentukan layanan dan fasilitas berupa Klinik Ekspor. 

Dalam rangka optimalisasi fasilitas kepabeanan, dipandang perlu menciptakan suatu wadah komunikasi yang memudahkan eksportir dalam memahami seluk beluk ekspor. Klinik Ekspor sendiri merupakan kegiatan “one on one meeting” untuk menampung dan menyelesaikan permasalahan terkait ekspor pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai. 

Harapannya dengan terbentuknya Klinik Ekspor akan memudahkan eksportir khususnya UMKM dalam melakukan kegiatan ekspor. Sehingga, stigma ekspor itu mudah makin melekat dibenak masyarakat dan mendorong eksportir tidak ragu untuk melakukan kegiatan ekspor ditengah pandemi. 

Peningkatan Potensi Ekspor Indonesia

Berbagai stimulus dan kebijakan terkait ekspor telah dirancang oleh pemerintah guna meningkatkan potensi ekspor Indonesia ditengah masa pandemi ini. Namun, pada kenyataannya belum banyak UMKM yang memanfaatkan stimulus dan kebijakan tersebut. Padahal menurut data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2018, UMKM mampu menyumbang 61,07% dari total PDB nasional juga 60,42% dari total investasi bila dibandingkan dengan usaha besar. 

Sayangnya, kontribusi UMKM terhadap ekspor dinilai menurun, dari 18,50% tahun 2005 menjadi 14,37% tahun 2020. Mungkin pandemi menjadi salah satu faktornya. Namun melihat potensi sumber daya alam Indonesia serta kemampuan SDM yang kian berkembang, saya yakin bahwa UMKM Indonesia mampu kembali menggiatkan ekspor yang kian lesu. 

Bersaing dikancah internasional sembari mengumandangkan produk lokal di pasar global, bukanlah suatu hambatan yang berarti. Bersumber dari berbagai bahan literasi, saya mencoba merangkum beberapa cara yang dapat dilakukan UMKM untuk meningkatkan potensi ekspor Indonesia. Caranya tidak sulit, namun butuh kedisiplinan dan semangat yang tinggi dalam menjalaninya.
Strategi meningkatkan ekspor indonesia

1. Meningkatkan Kualitas, Kuantitas, dan Kontinuitas

Guna meningkatkan ekspor Indonesia, eksportir harus kreatif dalam mengembangkan ide menciptakan produk yang sesuai dengan pasar luar negeri. Selanjutnya, inovasi tidak boleh terlupakan agar tidak tergerus dengan kemajuan teknologi. Yang tak kalah penting adalah konsistensi dalam menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produk ekspor. Berpegang pada prinsip tersebut, maka eksportir akan mampu menembus pasar ekspor dan tidak kalah bersaing di pasar global. Dengan begitu ekspor Indonesia diharapkan mampu terus melaju lebih baik ke depannya. 

2. Memasarkan Produk Secara Online 

Perkembangan teknologi menuntut pasar untuk dikelola secara maya melalui bantuan internet. Berbagai marketplace sudah tersedia untuk dimanfaatkan sebagai wadah berjualan. Selain itu ada juga media sosial yang kerap digunakan menawarkan produk. Jika ingin terlihat profesional, buatlah website resmi untuk menjajalkan jualanmu secara online. Berbagai cara pemasaran produk secara online ini dapat memudahkan eksportir bertemu dengan pembeli di luar negeri. Kemudahan ini diharapkan mampu mendorong peningkatan ekspor Indonesia dan membantu UMKM meraih pasar global. 

3. Mengikuti Pameran di Luar Negeri 

Tidak ada salahnya sesekali menjemput bola langsung ke calon pembeli di luar negeri. Jika ada kesempatan menghadiri pameran produk di luar negeri, cobalah beranikan diri untuk bergabung dan memasarkan produk secara langsung di luar negeri. Jalinlah relasi dan koneksi dengan rekanan bisnis, pelajari pasarnya, dan telusuri regulasi di negara tujuan ekspor. Pengalaman mengikuti pameran di luar negeri seperti ini dapat membantu menemukan calon pembeli yang potensial. 

4. Memanfaatkan Dukungan Pemerintah

Seperti yang telah dijabarkan di atas, dukungan pemerintah untuk mendorong UMKM melakukan ekspor sangatlah besar. Hal tersebut dapat dimanfaatkan sebagai stimulus untuk mendorong ekspor, apalagi dimasa pandemi seperti sekarang. Instansi pemerintah sangat terbuka dan mendukung ekspor secara penuh demi meningkatkan surplus neraca perdagangan di Indonesia. Kolaborasi antara eksportir, UMKM, dan pemerintah diharapkan mampu menjadi terobosan guna memacu kestabilan pertumbuhan ekonomi, yaitu dengan bersama-sama memperkuat produk lokal di pasar global. 

5. Menggunakan Jasa Pengiriman Barang 

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat pengiriman barang ke luar negeri atau ekspor. Pertama pahami dulu peraturan tata laksana ekspor dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 145/PMK.04/2007 sebagaimana telah diubah dengan PMK No. 21/PMK.04/2019 tentang Ketentuan Kepabeanan di Bidang Ekspor. Kemudian lengkapi dokumen dan ikuti ketentuannya.

Eksportir atau UMKM yang ingin melakukan ekspor bisa juga menggunakan jasa pengiriman barang yang profesional, berpengalaman, dan siap membantu, salah satunya adalah Mister Exportir. Sebelum lebih jauh, mari berkenalan dahulu dengan Mister Exportir:

Mister Exportir

PT. Triton Nusantara Tangguh atau biasa dikenal dengan Mister Exportir merupakan perusahaan yang menawarkan berbagai jasa untuk kegiatan ekspor dan impor. Secara khusus, Mister Exportir membuka layanan jasa ekspor terhadap produk berkualitas serta menjalin kerja sama dengan UMKM di seluruh Indonesia. Selain UMKM, Mister Exportir juga berelasi dengan supplier pabrik yang melakukan kegiatan ekspor.

Layanan yang diberikan oleh Mister Exportir antara lain:
  1. Undername Service
  2. Custom Clearence
  3. Find Out Suppliers
  4. Contract Sales Export
  5. Domestic Supply
  6. Project Shipment
  7. Door to Port Service
  8. Door to Door Service
  9. Land Transportation
  10. Sea & Air Freight

Kenapa memilih Mister Exportir?

Bantuan Finance

Mister exportir
Mister Exportir memberikan layanan terbaik untuk setiap pelangganya, salah satunya adalah sebagai funder. Apa itu funder? Mister Exportir akan menyediakan biaya operasional kepada penjual (eksportir) yang sebelumnya sudah deal dengan pihak pembeli, namun memiliki kendala pendanaan. Tenang saja, Mister Exportir akan hadir sebagai pendana (funder) dalam project tersebut sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Lebih Aman

Mister exportir
Tidak ingin mengecewakan setiap pelanggannya, Mister Exportir menjamin keamanan layanan yang disediakan. Berbekal pengalaman yang kemampuan yang mumpuni, Mister Exportir hadir secara profesional baik dari segi ekspor maupun impor barang. Jadi, sudah pasti aman dan terjamin.

Jaringan Luas

Mister exportir
Keunggulan lainnya yang dimiliki Mister Exportir adalah jaringan yang luas. Agen yang dimiliki Mister Exportir hadir di lebih dari 80 negara dengan jalinan kerja sama yang baik dalam bidang perdagangan, baik ekspor mau pun impor.


Berangkat dari prinsip yang dipegang oleh Mister Exportir, "It is about time, everybody can export their products easily", Mister Exportir siap menjadi partner dalam perdagangan komoditi Indonesia ke pasar internasional. Jangan banyak mikir, serahkan semua urusan ekspor kepada Mister Exportir, dijamin bukan amatir!

Kalau mau tau lebih lengkapnya, silahkan kunjungi website Mister Exportir di https://misterexportir.com/ dan follow media sosialnya!
Mister exportir

Bunga mawar sangat indah,
Harum semerbak wanginya,
Mau tau cara ekspor mudah?
Mister Exportir solusinya!

Ekspor itu Mudah

***

Ekspor berkontribusi sebagai roda penggerak yang dapat dijadikan amunisi untuk menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia yang saat ini sedang terpuruk. Memang pandemi covid-19 membuat perekonomian Indonesia bahkan dunia menjadi terguncang, namun hal tersebut tidak patut dijadikan alasan untuk menyerah. 

Indonesia memiliki segudang potensi ekspor, baik dari sumber daya alam, produk olahan, mesin, mineral, dan banyak lainnya. Patutnya kita berbangga dan terus berupaya untuk mengembangkan produk lokal di pasar global. Sinergi antara eksportir, UMKM, dan pemerintah harus tercipta demi mendukung peningkatan ekspor Indonesia. Yuk, bisa yuk! Ekspor itu mudah :)

Sumber:
- Website Mister Exportir 
- Artikel pada website UKM Indonesia: Melihat Potensi Ekspor bagi UKM Indonesia (2020)
- Artikel pada website Jurnal Entrepreneur: 4 Stimulus Non-Fiskal Sektor Ekspor-Impor Dari Pemerintah Akibat Corona (2020)
- Berita Resmi Statistik, Badan Pusat Statistik: Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia Juli 2020

Media gambar dan desain:
- Media Gambar: FreepikIcons8, dan Canva.
- Desain: Dewi Lestari Natalia Marpaung.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments


In Thoughts

Pendidikan Nonformal Bagi Sang Buah Hati Sejak Usia Dini

Buah hati merupakan anugerah Sang Pencipta yang diberikan kepada setiap orang tua. Oleh sebab itu kehidupan anak merupakan tanggung jawab penuh orang tuanya, termasuk kewajiban orang tua untuk mendidik sang anak. Undang-undang bahkan menegaskan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara. Jadi, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang mumpuni sejak usia dini.
Pendidikan Anak Usia Dinia
Bagiku masa kecil adalah masa yang menyenangkan, tidak ada beban dan tanggung jawab yang harus dipikul. Walau tidak sempurna, namun masa kecilku sungguh bahagia. Mengawali jenjang pendidikan ditingkat Taman Kanak-Kanak (TK) pada usia 4 tahun, membuatku menjadi siswa yang paling muda di kelas. Ibuku bercerita, kala itu belum tersedia sarana yang memadai untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sehingga dengan terpaksa aku harus melewatkan jenjang pendidikan usia dini dan langsung bersekolah di TK.
Pendidikan anak usia dini
Namun, Ibu berpandangan bahwa PAUD adalah hal yang penting, sebagai salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan nonformal dalam membantu pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak. Menggantikan pendidikan PAUD yang tidak sempat aku dapatkan, Ibu mengambil peran untuk mengajarkanku banyak hal saat aku kecil. Ibu menemaniku bermain, membantuku mengasah kemampuan, membacakan dongeng, dan mengenalkanku dengan lingkungan sekitar. Terima kasih, Ibu :)

Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak

Orang tua adalah sosok yang bertanggung jawab penuh atas anaknya. Peran orang tua tentu dapat menjadi salah satu faktor keberhasilan masa depan anak. Seorang anak terlahir ibarat selembar kertas polos, dimana orang tua ambil andil menulis pada kertas tersebut. Orang tua mendidik dan membimbing anaknya sampai suatu titik keberhasilan dicapai sang buah hati. Lukisan dikertas itulah yang menjadi penentu apakah kertas berubah menjadi lukisan yang baik atau tidak.

Figur orang tua dalam mendidik tentu tercermin dalam perilaku anak kelak. Oleh sebab itu orang tua punya peran penting dalam pendidikan anak, khususnya ketika anak berada di rumah. Agar tidak salah dalam mendidik, yuk kita simak beberapa peran yang dapat diambil orang tua dalam mendidik anak:
Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak
Peran orang tua dalam pendidikan anak

Percaya dengan Kemampuan Anak

Kepercayaan yang diberikan orang tua kepada anaknya cenderung membuat anak menjadi kreatif. Orang tua boleh mengarahkan anak sesuai dengan kemampuan sang anak, tidak perlu dipaksa atau diburu-buru. Ikuti dan nikmati prosesnya dari waktu ke waktu.

Cobalah percaya dengan kemampuan anak, tidak otoriter, dan tidak perlu membatasi kegiatan anak. Dengan begitu anak akan merasakan dukungan penuh dari orang tuanya, sehingga termotivasi untuk terus berusaha. Tidak perlu cemas berlebihan mengenai anak anda, sebab anak yang sudah diberi kepercayaan penuh oleh orang tuanya sejak kecil, tidak akan mengecewakan kepercayaan tersebut dan akan lebih bertanggung jawab. 

Pendidikan sesuai Minat Anak

Pendidikan kepada anak hendaknya mulai diberikan sejak usia dini. Namun, sebelum memutuskan untuk memilih jenis pendidikan untuk anak, ada baiknya jika orang tua menyesuaikan pendidikan sesuai dengan minat anak. Orang tua hendaknya menghargai minat anaknya dengan menunjukkan perhatian, melibatkan diri secara intelektual, berdiskusi, bertanya, dan menggali potensi anak.

Anak yang mendapatkan pendidikan sesuai dengan minatnya akan lebih bersemangat dan antusias dalam menerima setiap pembelajaran. Sementara anak yang terjebak dengan aktivitas yang tidak disukai, anak cenderung bosan dan enggan untuk mengikuti materi.

Anak yang cerdas dan kreatif biasanya mempunyai orang tua yang menghargai minat serta kemampuan mereka. Anak-anak ini secara alamiah akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan berani melakukan sesuatu yang bermakna baginya.

Kedekatan Emosi

Bangunlah kedekatan emosi antara orang tua dan anak. Emosi yang positif tentunya dapat menunjang perkembangan emosi anak. Terbangunnya kedekatan emosi ini dapat membuat anak merasa disayang, didukung, dan diterima oleh orang tuanya. 

Tentunya dalam menjalin kedekatan emosi, orang tua juga harus mengajarkan kepada anak agar tidak terlalu tergantung kepada orang tua. Memotivasi anak untuk menjadi anak yang mandiri sangat perlu dilakukan. Berikan pengertian kepada anak bahwa menjadi mandiri artinya tidak serta merta ditinggalkan sendiri. Namun, orang tua tetap mendukung dari belakang, karena semua keputusan dapat dengan mandiri diambil oleh sang anak.

Hargai Prestasi Anak

Jangan pernah sedikit pun meremehkan anak, karena hal ini akan membuat anak merasa tidak layak dan tidak mampu. Sebagai orang tua, haruslah mendukung sang anak dengan menghargai setiap prestasi yang dicapainya.

Tidak perlu prestasi yang besar, misalnya orang tua boleh mengapresiasi anak saat anak berhasil menghitung angka 1-10. Apresiasi yang diberikan pun tidak perlu serta merta penghargaan yang besar, cukup berikan tepuk tangan dan pujian kepada anak. Hal ini dapat mendidik anak menjadi percaya diri dan terpacu terus mengukir prestasi.

Orang tua sebagai Role Model

Semua orang dewasa sebenarnya dapat menjadi role model bagi anak-anak, seperti guru, anggota keluarga, tetangga, kakek, nenek, dan lainnya. Namun, role model yang paling utama bagi anak adalah orang tuanya. Orang tua yang kreatif, memusatkan perhatian kepada anak, disiplin diri, semangat bekerja, akan menjadi contoh yang baik bagi anak-anak.

Begitu pun sebaliknya, orang tua yang tidak berperan, akan menjadi role model yang buruk bagi anak-anak. Sebagian besar sikap alamiah anak-anak adalah meniru sikap orang tua dan orang sekitarnya. Jadi, jika ingin anak menjadi anak yang terdidik dengan baik, orang tua pun harus berperan sebagai role model yang baik.

Pendidikan Anak Usia Dini

Berangkat dari kisahku di masa lalu, masalah yang dihadapi zaman dulu salah satunya adalah kurangnya kesadaran orang tua dan masyarakat luas akan pentingnya pendidikan anak sejak usia dini. Tidak heran jika zaman dulu sulit sekali mencari sekolah PAUD di sekitar lingkungan tempat tinggal. Hanya terdapat sekolah TK yang itu pun hanya bisa diikuti oleh anak usia 4 tahun ke atas.

Bersyukurnya, sekarang ini masyarakat sudah lebih sadar dan peduli akan tumbuh kembang anak sedari dini. Sekolah PAUD juga sudah banyak dan sangat mudah ditemui. Sehingga dapat membantu orang tua dalam mencari pilihan pendidikan untuk anak usia dini. 

Pendidikan usia dini menjadi hulu dalam pengembangan kualitas perkembangan anak. Periode emas dalam tumbuh kembang anak terjadi hanya sekali dalam kehidupan manusia, yaitu dimulai sejak anak lahir hingga mencapai usia 6 tahun.

Salah satu penelitian bidang neurologi yang dilakukan oleh para ahli perkembangan otak anak menjelaskan bahwa perkembangan kecerdasan pada anak 50% terjadi pada usia 0-4 tahun. Kemudian bertambah hingga mencapai 80% pada usia 8 tahun dan akhirnya 100% pada usia 18 tahun. Itulah alasan mengapa pentingnya untuk merangsang pertumbuhan otak anak sedari dini. 

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengungkapkan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

PAUD sendiri diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar dalam bentuk jalur pendidikan formal, nonformal atau informal. Bentuk dari PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. Sementara PAUD pada jalur pendidikan nonformal meliputi Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. Terakhir PAUD pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Berkaca pada pengalaman masa kecilku, aku hanya menerima pendidikan formal di TK sejak umur 4 tahun. Sayang sekali saat itu aku melewatkan pendidikan nonformal saat masih usia dini. Syukurlah hal tersebut tidak mengurangi nilai dan kemampuanku untuk berkarya sampai dengan sekarang ini. Semua itu tentunya tidak terlepas dari peran orang tua.

Namun, mengingat bahwa beberapa penelitian dan pemerintah menganjurkan agar anak menerima pendidikan formal, nonformal, dan informal sedari dini, maka alangkah baiknya setiap orang tua dapat memperhitungkan untuk memberikan pendidikan usia dini kepada anaknya.
Pendidikan anak usia dini
Pendidikan anak usia dini

Pendidikan Nonformal untuk Anak Usia Dini

Umumnya, orang hanya berfokus pada pendidikan formal untuk anak-anak, terlalu terpaku dengan belajar di sekolah saja. Padahal sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa pendidikan nonformal juga dibutuhkan anak-anak sejak dini. Pendidikan nonformal tidak kalah penting dalam tumbuh kembang anak, terkhusus untuk mengasah minat dan bakat anak. 

Menurut Pasal 13 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Jadi, bukan hanya pendidikan formal saja yah!

Secara lebih khusus aku akan membahas terkait pendidikan nonformal untuk anak usia dini. Terlebih, menurut undang-undang salah satu cakupan pendidikan nonformal adalah PAUD. Pendidikan nonformal sendiri berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Selain itu, pendidikan nonformal merupakan program pembelajaran yang terselenggara secara terancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap pada diri anak. Perannya antara lain mengembangkan potensi anak dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. 

Ditilik dari satuan pendidikannya, contoh pelaksanaan pendidikan nonformal terdiri dari kursus, lembaga pelatihan, serta satuan pendidikan yang sejenis. Dewasa ini banyak bermunculan lembaga pendidikan nonformal yang menawarkan berbagai pelatihan atau kursus berbagai bidang untuk anak-anak. 

Dalam situasi demikian, makna dibalik fenomena meningkatnya jumlah lembaga pendidikan nonformal sejatinya diharapkan mampu menjadi wadah berkualitas untuk meningkatkan kemampuan anak sejak dini. Tidak ada salahnya mendaftarkan anak untuk mengikuti salah satu jenis pendidikan nonformal. Menurutku malah seharusnya anak didorong untuk terlibat aktif dalam pendidikan nonformal, seperti kursus.

Jika orang tua menjalankan perannya dengan baik, orang tua akan bisa menilai minat dan bakat sang buah hati. Apakah bakatnya olahraga seperti sepak bola, basket, renang, atau malah bakat seni seperti menyanyi, menari, bermain alat musik, melukis dan lainnya. 

Namun, jika belum terlihat, orang tua bisa mencoba melakukan semacam trial sebagai pemancing untuk mengetahui minat anak. Misal, ajak anak untuk bernyanyi, kemudian lihat bagaimana responnya, apakah anak menyukainya atau malah bosan? Trial kecil seperti ini dapat membantu orang tua mengetahui jenis pendidikan nonformal apa yang harus anak ikuti.
Pendidikan nonformal anak usia dini
Pendidikan nonformal anak usia dini
Nah, untuk membantu orang tua dalam mencari tempat kursus untuk anak-anak, aku akan mencoba memaparkan sekilas tentang KBL Performing Arts. KBL Performing Arts merupakan salah satu bentuk pendidikan nonformal berupa kursus yang dapat diikuti oleh anak-anak dengan minat dan bakat seni. KBL Performing Arts hadir untuk menjawab kebutuhan akan pendidikan ilmu seni di Indonesia. Yuk, kita simak ulasan lengkapnya!

Kenalan dulu, yuk!

KBL Performing Arts
KBL Performing Arts
KBL atau singkatan dari Karunia Bersama Lucky yang lebih dikenal dengan nama KBL Performing Arts adalah sebuah institusi pendidikan nonformal yang bergerak dibidang seni. Sesuai dengan namanya, founder dari KBL Performing Arts adalah Lucky Tampilang, seorang pelatih vokal profesional yang sudah banyak menuai prestasi melalui anak didiknya. 

Berbekal pengalaman lebih dari 18 tahun, KBL Performing Arts menawarkan kualitas pengajar yang terampil di bidangnya serta teknik yang telah teruji manfaatnya bagi seluruh anak didik. Tepatnya sudah lebih dari 130 pengajar yang bergabung bersama KBL Performing Arts dengan jumlah total anak didik melebihi 2300 murid.

Jika kamu membutuhkan Kursus Vokal/Kursus Musik/Kursus Tari/Kursus Modelling, KBL Performing Arts adalah jawabannya. Pendidikan yang akan didapatkan selama belajar di KBL Performing Arts antara lain pendidikan seni vokal, musik, tari yang berorientasi pada pengembangan teknik serta kualitas penampilan anak didik dengan terus mengikuti perkembangan musik dan ilmu terbaru. Untuk lebih jelas, silahkan kunjungi website kbl.co.id!

Kursus apa saja yang ditawarkan KBL Performing Arts?

KBL Performing Arts tidak main-main dengan kursus vokal yang ditawarkan. Dengan mengutamakan teknik dan kualitas, KBL Performing Arts menggunakan Teknik Koordinasi Otot “Muscle Coordination” kepada anak didiknya. Metode ini merupakan pendekatan fisiologis anatomis yang membuat penyanyi memahami koordinasi otot yang berhubungan dengan produksi suara, sehingga belajar nyanyi menjadi lebih mudah. Teknik ini juga tidak sembarangan diajarkan, melainkan dilatih oleh para pengajar yang berpengalaman dan profesional. 

Belajar musik bersama KBL Performing Arts bukan seperti kursus musik biasa. Berbeda dengan kursus lain, KBL Performing Arts juga turut membantu mengembangkan dunia musik tanah air dengan mengasah bakat masing-masing anak didik. Dengan mengembangkan pembelajaran berbagai alat musik seperti gitar piano klasik, bass, saxophone, drum, biola dan keyboard, KBL Performing Arts sepakat bahwa bermain alat musik instrumental ternyata dapat memberikan manfaat untuk tubuh dan juga pikiran. 

Seperti yang kita ketahui, seni tari merupakan salah satu jenis seni yang paling beragam. Mulai dari tarian daerah hingga tarian yang terkenal di dunia. Setiap anak didik yang belajar menari di KBL Performing Arts akan diajarkan mulai dari gerakan dasar hingga advance dengan berbagai teknik tarian. Hingga pada akhirnya saat menyelesaikan kursus tari, anak didik diharapkan mampu menciptakan koreografi sendiri. 

KBL Performing Arts membuka kursus Modelling (Role Model) untuk mengembangkan potensi dan kepribadian anak sejak dini di bidang modelling. Serangkaian program pengajaran yang diajarkan antara lain cara berdiri, cara jalan, modelling, pose, fashion show, grooming dan pengembangan karakter, etika dan profesionalisme, prinsip acting, berbicara di publik, sampai dengan table manner. Semua ini diajarkan oleh pelatih profesional dan expert dibidangnya dengan pengalaman lebih dari 5 tahun.

Keunggulan KBL Performing Arts

Keunggulan KBL Performing Arts

#1 
Pengajar Profesional 
Lebih dari 130 instructor atau pengajar yang telah bergabung dalam KBL Performing Arts. Para pengajar dipastikan profesional dan berpengalaman dibidangnya. Kualitas para pengajar ini dapat dinilai dari banyaknya prestasi yang diraih oleh anak didik yang belajar bersama KBL Performing Arts. Kalau mau kepo siapa saja para pengajar di KBL Performing Arts, cek aja langsung ke kbl.co.id. Mulai dari Departement Vocal, Departement Music, Departement Stage Act & Dance, hingga Departement Role Model diisi oleh pengajar dengan kapabilitas yang tidak diragukan lagi. 

#2 
Berpengalaman 
Selama lebih dari 18 tahun KBL Performing Arts sudah hadir berbagi ilmu sebagai wadah untuk anak didik mendapatkan pendidikan nonformal. Hal ini terbukti dari banyaknya anak didik yang tidak ragu untuk bergabung belajar bersama KBL Performing Arts. Sampai dengan saat ini, KBL Performing Arts telah mengajarkan kurang lebih 2300 murid dengan tingkat kelulusan 100%. Masih belum percaya? Simak aja apa kata mereka yang telah mengikuti kursus di KBL Performing Arts melalui website kbl.co.id

#3 
Berfokus pada Teknik dan Kualitas 
Sesuai dengan prinsip KBL Performing Arts yang berfokus pada teknik dan kualitas, setiap kursus yang ditawarkan menghadirkan berbagai jenis teknik yang dapat meningkatkan kualitas anak didik. Misalnya saja, pada kursus vokal akan diajarkan menggunakan Teknik Koordinasi Otot “Muscle Coordination” yang hanya diberikan oleh KBL Performing Arts. Bukan hanya itu, KBL Performing Arts kerap membuat event yang menampilkan talent-talent berbakat yang telah ditempa dengan teknik yang luar biasa selama kursus. Bisa dibuktikan kualitasnya pun pasti berbeda, jauh di atas rata-rata. Tonton kegiatan-kegiatan seru lainnya pada youtube channel KBL Performing Arts. 

#4 
Banyak pilihan Kursus 
Pilihan kursus yang disediakan oleh KBL Performing Arts sangatlah beragam. Pilih mana, kelas private, semi private atau group class? Ada semua loh di KBL Performing Arts. Tersedia juga dari level basic, intermediate, pre advance, hingga advance. Tentunya kurikulum yang ditawarkan setiap level berbeda yah. Semakin tinggi level, maka pelajaran yang dipelajari semakin advance. Udah deh gak usah pikir panjang lagi, cek aja pilihan kursus KBL Performing Arts di website kbl.co.id! Jangan lupa langsung mendaftar yah! 

#5 
Belajar Offline dan Online
Inilah yang menjadi unggulan KBL Performing Arts ditengah masa pandemi. Anak didik diberikan keleluasaan untuk memilih metode belajarnya. Belajar offline dengan datang langsung ke tempat kursus KBL Performing Arts. Saat ini telah berdiri 19 cabang KBL Performing Arts yang tersebar di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Jadi kamu tinggal pilih deh cabang yang paling dekat dengan tempat tinggalmu. Nah, selain belajar offline, kamu bisa juga belajar online dari rumah masing-masing dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Gak ada alasan lagi kan, yuk segera bergabung bersama KBL Performing Arts! Caranya gampang, langsung aja isi formulir pendaftarannya yah! Bisa kamu cek di website kbl.co.id atau media sosial KBL Performing Arts.

Review Positif KBL Performing Arts

Keunggulan KLB Performing Arts tidak perlu diragukan lagi. Berbagai review dan testimonial positif dari murid KBL Performing Arts sudah menjadi bukti bahwa kursus ini layak dipertimbangkan. Bukan hanya menghasilkan anak didik yang berprestasi, tetapi KBL Performing Arts juga berkontribusi dalam pertumbuhan seni anak-anak.
KLB Performing Arts Review
Review KLB Performing Arts

Sudah paham kan, betapa pentingnya pendidikan nonformal untuk anak usia dini?  Semua ini tidak lepas dari peran dan kesadaran orang tua. Berbagai penelitian dan literatur telah menyampaikan bahwasanya bukan hanya pendidikan formal saja yang dibutuhkan oleh anak, melainkan pendidikan nonformal juga. Tidak kalah pentingnya, mulailah terapkan pendidikan nonformal sejak anak usia dini, karena hal tersebut dapat membantu tumbuh kembang anak di masa depan. 

Jangan bingung lagi untuk mencari tempat pembelajaran pendidikan nonformal untuk anak! Pilihlah KBL Performing Arts sebagai teman belajar untuk buah hati sejak usia dini. Berbagai keunggulan KBL Performing Arts tidak akan membuat kamu menyesal. Untuk informasi lebih lanjut terkait Kursus Vokal/Kursus Musik/Kursus Tari/Kursus Modelling bersama KBL Performing Arts, silahkan kunjungi website klb.co.id atau kepoin media sosialnya yah!
KBL Performing Arts


Sumber:
- Profil Anak Indonesia 2019 oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Badan Pusat Statistik (2019)

Media gambar dan desain:
- Media Gambar: Freepik, Icons8, dan Canva.
- Desain: Dewi Lestari Natalia Marpaung.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments