In Nusa Tenggara Timur Travel

Live On Board di Labuan Bajo (Komodo Island)

Pengalaman baru yang aku dapatkan saat sedang traveling ke Labuan Bajo adalah Live On Board atau disingkat LOB. Kenapa harus LOB? Karena jarak dari satu pulau ke pulau lainnya di daerah ini cukup jauh, bisa 3-4 jam, oleh karena itu LOB adalah solusi yang pas untuk menghemat waktu jalan-jalan kita. Nah, sebelum menjelajah lebih jauh, perlu diketahui bahwasanya Labuan Bajo adalah sebuah kota pelabuhan yang paling dekat untuk menuju Taman Nasional Komodo (Komodo Island) yang terletak di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jadi tidak heran kalau banyak wisatawan yang mulai dari sini untuk mengawali trip menuju Taman Nasional Komodo dan pulau-pulau disekitarnya.



TRIP PLANNING
Persiapkan dengan matang seluruh kebutuhan traveling kamu. Mulai dari waktu berkunjung, tiket pesawat, penginapan, trip organizer, sampai ke itinerary.

Musim
Labuan Bajo punya 2 musim yang keduanya punya view dan feel berbeda namun sama-sama keren.  Awal tahun di Labuan Bajo, kamu akan disuguhkan dengan view padang yang penuh dengan rerumputan hijau, waktu terbaiknya adalah Bulan April-Juni. Sementara tengah tahun sampai dengan akhir tahun view akan berubah menjadi padang rumput yang kering dan kecoklatan, Bulan September-November adalah momen yang pas untuk berkunjung dengan view kecoklatan ini. Tapi jangan sampai failed ya, saranku jangan datang pada saat musim hujan, karena pasti hujan HAHA karena kemungkinan gelombang laut akan tinggi dan rentan terjadi badai. Kali ini, aku memilih musim hijau di Bulan Februari untuk explore Labuan Bajo, dan next time aku pasti akan kembali untuk bertemu dengan musim coklat :)

Tiket Pesawat
Tahun 2018, aku terbang ke Labuan Bajo dengan penerbangan langsung Garuda Indonesia dari Jakarta ke Labuan Bajo (Komodo Airport) dengan tarif yang masih cukup mahal, yaitu Rp 2.200.000,- (PP). Lumayan mahal ya, soalnya saat itu hanya Garuda Indonesia yang menyediakan penerbangan langsung dari Jakarta menuju Labuan Bajo. Tapi menurutku harga tiket yang ku dapat sudah cukup murah karena aku membelinya di Garuda Online Travel Fair, dimana harga normal bisa dua kali lipat dari harga tiket yang ku beli.
Komodo Airport
Penginapan
Sepertinya sekarang ini sudah banyak sekali penginapan dengan berbagai variasi harga. Semuanya tergantung budget yang kamu punya, mau traveling ala backpacker atau traveling mewah yang fancy. Pilihan penginapanku jatuh kepada Danke Lodge Labuan Bajo via Airbnb dengan rate 17,32 USD atau sekitar Rp 250.000,- per malam untuk 3 orang. Murah kan? Aku sangat merekomendasikan penginapan ini karena fasilitas yang sangat lengkap, sarapan pagi, gratis antar-jemput bandara, dan free trip untuk dinner ke Kampung Ujung di hari pertama. Pemiliknya juga super ramah, helpful, dan friendly. Sebenarnya ini adalah penginapan baru yang masih dalam tahap pembangunan saat itu (jadi kurang instagramable) dan lokasinya pun agak jauh dari tempat yang ramai turis, tapi gak masalah karena fasilitasnya lengkap banget.
Danke Lodge (source: booking.com)
Kamar Danke Lodge (source: booking.com) 
Trip Organizer
Banyak sekali jasa trip organizer yang menawarkan paket liburan Labuan Bajo, mulai dari private trip sampai ke open trip, dari yang ekonomis sampai yang mewah, dari kapal kecil sampe kapal pinisi, semua pilihan ada ditanganmu. Ga sempet research sebelum berangkat? Jangan khawatir karena di pelabuhan atau tempat menginapmu pasti akan tersedia banyak paket wisata yang bisa kamu pilih. Kebetulan aku punya teman yang berdinas di Labuan Bajo, jadi aku memanfaatkan temanku untuk membawaku jalan-jalan hehe. Jauh-jauh hari dia juga sudah menyewakan kapal untuk trip LOB kami selama 2 hari 1 malam seharga Rp 6.000.000,- termasuk makan 6 kali, snack 4 kali, guide, dan kamera underwater. Namun harga tersebut belum termasuk alat diving atau snorkeling. Termasuk mahal atau murah sih itu? haha kami pergi bertiga, jadi per orangnya bayar Rp 2.000.000,- deh.
ITINERARY & BUDGET
Trip Labuan Bajo kali ini berlangsung selama 4 hari 3 malam bersama dengan Elisa dan Gita. We did so much fun! Singkatnya kami LOB selama 2 hari dari pulau ke pulau, dan sisanya kami explore darat sekitaran Labuan Bajo. Tapi aku rasa belum cukup, harusnya nambah 3 hari lagi sekalian explore Waerebo dan Danau Kelimutu. Namun apa daya, cuti dan money tidak memadai HAHA.

Day 1 - Bukit Cinta dan Kampung Ujung
Tiba di Bandara Internasional Komodo di siang hari sekitar pukul 14.00 WITA, langsung menuju penginapan Danke Lodge untuk menaruh barang dan bergegas langsung menuju Bukit Cinta untuk menikmati sunset khas Labuan Bajo yang katanya sangat indah dinikmati dari bukit ini. Perjalanannya memakan waktu kurang lebih 30 menit dari Danke Lodge menuju Bukit Cinta, jalannya saat itu sudah diaspal namun masih berbatu. Sesampainya di sana, benar saja, bagus sekali pemandangannya, benar-benar bikin jatuh cinta sama bukit ini. Tapi sayangnya saat itu kami kurang beruntung karena cuaca cukup mendung sehingga sunsetnya tidak terlalu terlihat.
Sea view dari Bukit Cinta Labuan Bajo
Street view dari Buki Cinta Labuan Bajo
Selanjutnya, kami menuju Kampung Ujung untuk menikmati seafood dengan suasana khas Labuan Bajo. Hampir semua warung makan menjajalkan seafood sebagai hidangan utama. Yang khasnya dari Kampung Ujung, kita disuruh milih sendiri ikan-ikan atau makanan laut mana saja yang mau dimakan. Wajib banget sih hukumnya untuk makan seafood di sini karena harganya pun standar, tidak terlalu mahal, namun kita bisa menikmati seafood yang tasty dan segar.
Sunset Kampung Ujung
Kampung Ujung
Day 2 - LOB (Pulau Kelor, Pulau Padar, Pink Beach, dan Pulau Kalong)
LOB started here!!! Karena kami bertiga gak tahan mabok laut, jadi kami memutuskan hanya LOB selama 2 hari 1 malam saja. Cukup! haha. Jam 7 pagi kami harus segera bergegas menuju pelabuhan untuk memulai LOB. Setibanya di Pelabuhan, kami langsung menuju kapal yang sudah disewa sebelumnya, ada sedikit safety breifing dan perkenalan oleh kapten kapal. Setelah itu lanjut dengan sarapan buah-buahan dan roti. Perjalanan pun dimulai, excited  banget rasanya liat laut yang biru banget. Pemandangan selama di kapal tuh bikin mata melek saking bagusnya.
View selama di kapal
Destinasi pertama adalah Pulau Kelor. Perjalanan menuju Pulau Kelor memakan waktu 60-90 menit dari Pelabuhan Labuan Bajo. Pulau ini punya pantai yang biru dengan pasir putih yang lembut. Jangan lupa untuk hiking ke bukit yang berada di sana, walaupun jalurnya sangat sempit dan terjal tapi pemandangannya super bagus dan bikin happy. Spot foto favorit khas Pulau Kelor adalah foto dari atas bukit dengan latar belakang pemandangan pantai dan bukit menggunung pulau seberangnya. Mataharinya benar-benar terik dan gak bisa dikompromi, jadi pastikan memakai sepatu dan baju yang nyaman dan jangan lupa perlindungan untuk kulit dan wajahmu yah. Selesai hiking sempatkan main air sebentar di pantai sambil foto-foto lagi pastinya.
Pemandangan dari atas bukit Pulau Kelor
Turun bukit
Birunya pantai di Pulau Kelor
Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan yang cukup jauh menuju Pulau Padar, sekitar 2-3 jam perjalanan. Pulau Padar merupakan pulau yang paling iconic dalam trip Labuan Bajo. Untuk mencapai puncak Pulau Padar, kita perlu mendaki selama kurang lebih 90-120 menit tergantung dari kecepatan pendakian kita. Treknya sangat jauh, beneran deh, tapi jalannya sudah bagus. Perlu di catat bahwa tidak ada pohon untuk berteduh di pulau ini, jadi kebayang dong siang bolong panasnya gimana. Ada beberapa trip yang menjadikan Pulau Padar sebagai destinasi mengejar sunrise, tapi tidak disarankan untuk sunset ya karena tidak ada penerangan sama sekali saat itu. Sampai di puncak bukit Pulau Padar, satu kata  "AMAZING!!!" sebagus dan seindah itu. Biarlah foto-foto ini yang menyatakan keindahannya.
Kondisi pendakian di Pulau Padar
Pulau Padar
Iconic spot di Pulau Padar
Hidden spot Pulau Padar sebelum pendakian dimulai
Paling asik itu habis panas-panasan di Pulau Padar langsung nyebur dan main air di Pink Beach. Kenapa dibilang Pink Beach? Karena pasirnya pink, benar-benar pink loh, warna pink pada pasir pantai dihasilkan dari terumbu karang berwarna merah yang terbawa ke daratan pesisir pantai. Pink Beach terletak disisi lain Pulau Padar, dimana tidak boleh ada kapal yang bersandar atau menurunkan jangkar di sana. Mau tidak mau harus menggunakan sekoci untuk mencapai bibir pantai, namun kami memilih untuk berenang sambil snorkeling dan mendapati suasana bawah air Pink Beach yang penuh dengan karang warna-warni dan berbagai jenis ikan. 
Gradasi warna biru dan pink di Pink Beach
Tidak terasa hari semakin sore, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Kalong, tempat kapal kami akan bersandar dan bermalam. Pulau Kalong adalah tempat terbaik untuk menyaksikan sunset ditemani dengan sekumpulan kalong yang terbang di langit. Langit jingga kala matahari terbenam, memandang lautan luas tak berujung dan mendengar ombak yang menyapu bergantian, melengkapi sukacita hati yang bersyukur dengan ciptaan semesta dari Yang Kuasa.
Menikmati senja dari kapal di Pulau Kalong
Day 3 - LOB (Pulau Komodo, Gili Lawa Darat, dan Manta Point)
Tiba saatnya di destinasi utama, Taman Nasional Komodo (Komodo Island)! Segera membeli tiket masuk seharga Rp 150.000,- (untuk wisatawan lokal) sudah termasuk asuransi dan jasa ranger yang akan menemani berkeliling. Terdapat short trek, medium trek, dan long trek untuk mengelilingi Pulau Komodo tergantung dari rute dan jaraknya. Ranger sudah mengingatkan sedari awal untuk berhati-hati dengan komodo, jangan terlalu dekat dan jangan main-main. Beruntung sekali saat itu kami bertemu dengan 10 ekor komodo selama perjalanan trekking, dan yang tambah bikin senang adalah kami berhasil berfoto dengan komodo di Pulau Komodo haha :D
Welcome to Komodo National Park
Ranger sedang breifing mengenai jalur trekking
Komodonya mangap haha
Dermaga Taman Nasional Komodo
Trekking dan hiking adalah aktivitas utama dalam trip ini, kembali kami harus hiking untuk mencapai puncak bukit Gili Lawa Darat yang menjadi destinasi selanjutnya. Gili Lawa Darat masih berada di kawasan Taman Nasional Komodo tepatnya di sebelah utara Pulau Komodo. Pulau tidak berpenghuni ini menyuguhkan pemandangan yang sangat indah berupa perbukitan eksotis dengan padang rumput luas berwarna hijau saat itu. Yang terkenal dari lokasi ini adalah pemandangan sebuah selat yang diapit oleh dataran dua pulau, dimana pemandangan ini akan mulai terlihat pada saat trekking menuju ke puncak Gili Lawa Darat.
Padang savana Gili Lawa Darat
Selat iconic yang memisahkan Gili Lawa Darat dengan pulau lainnya
Pemandangan sekitar Gili Lawa Darat dari atas bukit
Satu lagi keunikan yang ditawarkan kawasan Taman Nasional Komodo, yaitu melihat manta berenang-renang ke permukaan laut dari atas kapal di tempat yang bernama Manta Point. Namun sayangnya kondisi cuaca saat itu sedang tidak bersahabat, sehingga kami tidak memungkinkan untuk berenang bersama manta-manta secara langsung di lautan. Hujan badai memaksa kami hanya menikmati manta dari atas kapal, namun hal ini saja sudah membuat kami sangat takjub karena ini adalah kali pertama kami melihat manta. Sayangnya lagi, kami tidak sempat mengabadikan gambar karena memang hujannya cukup deras dan ombak pun cukup besar.

Selesai sudah rangkaian LOB selama 2 hari 1 malam. Perjalan pulang diakhiri dengan drama hujan badai yang sempat bikin jantungan. Aku rasa perjalanan pulang saat itu merupakan 3 jam paling menegangkan dalam hidupku hahaha. Rasanya capek sih memang, tapi semuanya terbayarkan dengan pengalaman baru yang luar biasa. 

Sepulang dari LOB, kami dijemput oleh Jimmy, owner Danke Lodge, untuk diajak menikmati cafe dan bar di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta Labuan Bajo. Eits, ini merupakan fasilitas dan service dari Jimmy secara cuma-cuma loh karena kami sudah menginap di tempatnya, this is why I suggest you to choose Danke Lodge to be you place to stay in Labuan Bajo. Banyak cafe dan bar yang dapat ditemui sepanjang Jalan Soekarno-Hatta, pilihan kami jatuh kepada Labajo Flores Coffee yang ternyata selain ada cafe, mereka punya art and gallery di lantai 2, jadi bisa sambil belanja-belanja deh.  
Labajo Flores Coffee
Day 4 - Goa Batu Cermin and Komodo Airport
The last day in Labuan Bajo was ended by visiting Goa Batu Cermin yang waktu tempuhnya hanya 10 menit dari Danke Lodge. Rencana awal sebenarnya ingin pergi ke Goa Rangko, tapi menurut Jimmy akses ke sana cukup sulit dan jika dipaksakan dia khawatir akan telat ke bandara, mengingat penerbangan pulang kami sekitar pukul 13.00 WITA. Lagi-lagi dengan senang hati Jimmy mengantar kami explore Goa Batu Cermin dan sekalian ke Komodo Airport.

Dinamakan Goa Batu Cermin karena di bagian goa yang paling dalam akan ditemukan suatu titik (batu cermin) dimana sinar cahaya matahari terlihat menembus masuk melalui celah bebatuan di goa dan terlihat tegak lurus. Tiket masuknya hanya Rp 10.000,- (untuk wisatawan lokal) dan Rp 20.000,- untuk guide. Aku menyarankan agar kamu memakai jasa guide agar bisa mengetahui seluk beluk tentang Goa Batu Cermin. Hal yang wajib dilakukan saat memasuki kawasan goa adalah menjaga safety dengan memakai helm dan senter yang telah disediakan.
Pintu masuk Goa Batu Cermin
Cahaya yang masuk melalui celah batu cermin
Safety first wajib memakai helm di Goa Batu Cermin
Sebelum pulang, tidak lupa mampir sebentar ke Exotic Komodo Shop untuk membeli oleh-oleh, letaknya persis di seberang Komodo Airport, jadi bisa jalan kaki sembari killing time menunggu waktu boarding

Budget
Setelah dihitung-hitung ternyata aku menghabiskan dana kurang lebih sekitar Rp 5.000.000,- untuk trip 4 hari 3 malam di Labuan Bajo dengan gaya liburan yang hemat tapi gak hemat-hemat banget tapi gak boros banget juga haha :D
I promise to my self to come back next time in the other season (brownish season), because my heart is keeping here. Seriously, this place was amaze me with its view. See you again, Labuan Bajo please be nice until we meet again :)



Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments


In Kamboja Travel

Seharian Keliling Phnom Penh

Travel goal tahun ini adalah ASEAN!
Masih ada 2 negara lagi yang belum aku kunjungi, yaitu Kamboja dan Brunei Darusalam. 

Awal tahun ini akhirnya memutuskan untuk travel ke Kamboja (mumpung ada diskon besar dari Air Asia) terus lanjut jalan ke Thailand via darat. Niatnya cuma mau explore Angkor Wat aja, tapi dasar kurang pengetahuan, aku malah beli penerbangan ke Phnom Penh wkwk alih-alih ibu kota Kamboja kan Phnom Penh ya. Setelah beli tiketnya dan baca-baca artikel, ternyata aku baru ngeh kalau Angkor Wat itu terletak di kota Siem Reap yang berjarak cukup jauh dari Phnom Penh (sekitar 5-6 jam).

Ya gimana ya haha tetap lanjut jalan dong pastinya, gak mau menyesal dan gak mau rugi, gak ada salahnya juga kan explore tempat baru. Berhubung Phnom Penh adalah kota kecil, jadi sehari pun cukup untuk mengelilinginya.

Oh iya anyway ini aku jalan sebelum ada peraturan pembatasan dan wabah covid-19 juga belum terlalu marak.

Tiba di Bandara Internasional Phnom Penh sekitar pukul 09.00 pagi dan masih cukup sepi untuk hitungan bandara internasional, tapi bangunannya sudah cukup bagus namun luasnya tidak terlalu besar. Selanjutnya, karena trip kali ini memegang prinsip hemat tapi tidak menyusahkan, aku mencoba untuk menaiki bis umum nomor #3 ke city center karena ongkosnya murah hehe hanya 1500 KHR per orang

Sementara itu, di luar bandara sudah banyak sekali supir tuktuk yang menawarkan jasa one day trip, aku tidak tahu berapa harganya, namun sudah pasti mahal haha menurut info yang aku baca mungkin akan dipatok sekitar 20 USD per orang untuk seharian berkeliling. Oh iya, Kamboja adalah satu-satunya negara di ASEAN yang menerapkan dua mata uang sebagai alat pembayaran, yaitu USD dan KHR, dimana 1 USD = 4000 KHR.

Berbekal membaca blog orang di internet dan dibantu oleh google maps, kami harus menaiki bis dari halte bus yang terletak di depan bandara (dari pintu keluar gate, jalan keluar bandara, melewati parkiran, halte bis nomor #3 ada di sebelah kiri pintu keluar bandara, haltenya kecil jadi jangan sampai terlewat). Bisnya bagus, ada AC dan audio informasi permberhentian, walaupun ada perbedaan dengan rute yang diinformasikan diinternet. Setelah menaiki bis, aku langsung membayar dengan memasukan uang ke dalam kotak di samping supir. 

Tujuan pertama adalah Wat Phnom, jaraknya sekitar 30-45 menit dari bandara tergantung dari kondisi jalan. Walaupun ada audio informasi pemberhentian tapi tetap saja aku tidak mengerti apa yang diucapkan, jadi hanya berpatokan pada google maps. Aku harus turun di General Departement of National Treasury, kemudian berjalan kaki kurang lebih 5 menit. 

Sesampainya di Wat Phnom, turis diwajibkan untuk membayar tiket masuk seharga 1 USD atau 4000 KHR, sementara untuk warga lokal gratis. Wat Phnom adalah candi (wat) budha yang bisa dibilang sebagai simbol dari kota Phnom Penh. Banyak warga lokal yang datang untuk beribadah bersama dengan keluarga.
Wat Phnom di Phnom Penh
Bagian dalam Wat Phnom di Phnom Penh
Kondisi cuaca saat itu sangatlah terik dan berdebu, jadi pakailah pakaian yang senyaman mungkin dan jangan lupa topi, sunglasses, dan sunscreen

Tempat selanjutnya yang aku kunjungi adalah National Museum of Cambodia yang terletak kurang lebih 1 km dari Wat Phnom. Karena minim informasi dan tidak mau membuang-buang waktu, aku memutuskan untuk naik Grab Tuktuk yang harganya cukup terjangkau, rata-rata bahkan tidak sampai 1 USD. Pesannya lewat aplikasi Grab dan bayarnya cash. Tidak perlu khawatir karena nomor plat di aplikasi pasti sama dengan nomor kendaraan tuktuknya, tinggal chat saja untuk janjian terkait lokasi penjemputan. 

Setibanya di National Museum of Cambodia, aku sangat takjub melihat bangunannya yang megah, semua serba merah dengan corak dan ukiran yang sangat detail. Tiket masuk museum seharga 10 USD per orang untuk turis dewasa. Museum nasional ini banyak menyimpan karya seni  bersejarah peninggalan bangsa Khmer zaman dahulu kala. Di dalam museum dilarang untuk melakukan aktivitas fotografi terhadap koleksi museum, namun kita diperbolehkan memotret bagian luar museum yang sangat megah dan indah.
National Museum of Cambodia
Tidak jauh dari National Museum of Cambodia, sekitar 300 meter, terdapat kedai makanan Indonesia yang bernama Warung Bali. Wajib hukumnya makan disini kalau sudah menginjakan kaki di Phnom Penh. Warung Bali ini punya orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Phnom Penh, namanya Pak Firdaus yang ternyata sangat ramah. Masakan yang disajikan ada masakan khas Indonesia dan Kamboja. Saat itu aku memesan nasi ayam goreng mentega dan satu masakan Kamboja sejenis capcay seafood namanya nom banh chock, rasanya jangan ditanya, enaaaaakk banget dan harganya pun terjangkau, porsinya banyak hehe. 

Sempat ngobrol sebentar dengan Pak Firdaus, beliau menginformasikan agar berhati-hati memegang handphone dijalan, karena banyak sekali kasus perampasan disana. Melihat tas backpack kami yang cukup besar, beliau menawarkan agar kami menitipkan tas kami di warungnya sementara kami melanjutkan perjalanan. Bahkan ada yang bilang kalau bisa menumpang mandi disana. 
Warung Bali di Phnom Penh
Awalnya memang aku tidak berencana memesan penginapan di Phnom Penh karena malamnya akan melanjutkan perjalanan menuju Siem Reap menggunakan bis malam. Namun karena sudah lelah ditambah juga cuaca yang cukup panas, akhirnya aku memutuskan untuk pesan hostel untuk tidur siang wkwk. Pilihan jatuh kepada Sla Boutique Hostel, dengan rate Rp 160.000 per hari untuk kamar tipe dormitori wanita 2 orang. Aku sangat merekomendasikan hostel ini, selain karena lokasinya yang strategis, pelayanannya ramah, harga cukup terjangkau, bersih, dan disediakan kelas masak gratis pada sore hari dan makanannya bisa dinikmati sebagai makan malam.
Ruang tunggu dan receptionist (source: booking.com)
Double bed di dormitory wanita Sla Boutique Hostel (source: booking.com)
Ruang santai (source: booking.com)
Sore hari aku melanjutkan perjalanan menuju Phnom Penh Royal Palace dengan berjalan kaki dari Sla Boutique Hostel kurang lebih 20 menit. Sayangnya karena tiba disana lewat dari pukul 5 sore, jadi Phnom Penh Royal Palace sudah tutup dan kebetulan juga sedang direnovasi, jadi akhirnya aku memutuskan untuk berjalan menuju destinasi selanjutnya yaitu Wat Ounalom Monastery, yang terletak hanya 15 menit dari Phnom Penh Royal Palace. Tempat ini merupakan simbol penting umat Budha di Phnom Penh, dimana didalamnya juga terdapat gong perdamaian yang menjadi simbol perdamaian negara-negara ASEAN.
Bagian depan Phnom Penh Royal Palace
Wat Ounalom Monastery
Gong ASEAN di Wat Ounalom Monastery
Tepat diseberang Wat Ounalom Monastery, terdapat ruang terbuka semacam alun-alun kota Phnom Penh yang dikenal dengan Sisowath Quay di pinggir Sungai Mekong. Selanjutnya aku menyelusuri Sisowath Quay sambil berjalan menikmati senja dan menunggu matahari tenggelam. Banyak aktivitas warga lokal yang dilakukan sepanjang jalan Sisowath Quay, ada yang berolahraga, bermain, atau bahkan sekedar duduk dipinggir sungai. Di sisi lain jalan terdapat banyak cafe dan hostel yang dipenuhi oleh turis-turis. 
Sisowath Quay
Sisowath Quay di Pinggir Sungai Mekong
Keramaian di Sisowath Quay
Kurang lebih berjalan 1 km sepanjang Sisowath Quay menuju ke Phnom Penh Night Market yang merupakan pasar malam terkenal di kota Phnom Penh. Seperti pasar malam pada umumnya, banyak penjual yang menjajalkan jualannya dari mulai baju, souvenir khas Kamboja, pernak-pernik, makanan, minuman, sepatu, dan lain-lain. Selain itu terdapat sebuah panggung besar di tengah pasar yang digunakan penyanyi lokal untuk menampilkan live music dengan kearifan lokal Phnom Penh. Selain berbelanja, kamu wajib mencoba makanan dan jajanan lokal khas Kamboja di pasar malam ini sambil duduk lesehan bergabung dengan orang lokal lainnya, seru banget lesehan sambil makan di pasar malam remang-remang haha.
Phnom Penh Night Market
Perjalanan menyelusuri Kota Phnom Penh berhenti sampai disini, karena aku harus kembali ke hostel dan berkemas untuk ke Terminal Giant Ibis untuk melanjutkan perjalanan malam menuju Siem Reap. Sehari berkeliling Phnom Penh adalah hal yang menyenangkan dan sangat mungkin dilakukan. 
TIPS & TRICK 
Sebelum berangkat pastikan hal-hal penting yang harus kamu persiapkan, yaaaaa....
  1. Tiket Pesawat - Pastikan kamu sudah punya tiket ya. Air Asia menyediakan rute dari Jakarta menuju Phnom Penh melalui Kuala Lumpur, namun saat ini Citilink Indonesia sudah membuka penerbangan Jakarta ke Phnom Penh loh. Boleh tuh di cek-cek harga dan jadwalnya.
  2. Uang - Kamboja memberlakukan 2 mata uang sekaligus, USD dan KHR. Tapi kayaknya mata uang KHR tidak dijual di money changer Indonesia, jadi kamu bisa bawa USD saja, tapi pastikan juga nominalnya yang kecil-kecil ya karena kalau ada kembalian biasanya dikembalikan dengan KHR huhuhu. Sedihnya, USD disini lecek-lecek hiks bahkan ada juga yang robek tapi masih bisa digunakan, namun jika sudah keluar Kamboja USD yang lecek itu tidak akan ada yang mau menerima.
  3. Itinerary - Sesuaikan destinasimu dengan waktu liburanmu. Karena aku hanya punya 1 hari di Phnom Penh jadi itinerary nya agak ambisius haha gak mau rugi waktu.
  4. Transportasi - Transportasi umum di Phnom Penh masih belum maju, tidak ada LRT atau MRT hanya ada Grab (mobil, motor, dan tuktuk), Pass App (semacam Grab versi lokal), Bis, dan Tuktuk. Namun, aku lebih suka berjalan kaki karena lokasi satu tempat ke tempat lainnya tidak terlalu jauh.
  5. Cuaca - Super panas dan banyak debu, kalau siang suhunya bisa mencapai 38 derajat. Jadi siapkan alat tempur berupa sunscreen, sunglasses dan topi untuk perlindungan kulitmu. Cuaca panas ini pasti membuat badan mudah terasa gerah, jadi sebaiknya hindari memakai baju yang tebal.
  6. Makanan - Rasanya hampir mirip dengan makanan Thailand, tetapi agak sulit menemukan makanan halal disini. Makanan lokal yang aku coba antara lain Lap Khmer, Nom Banh Chock, Fish Amok, dan semacam bihun kuah soto dengan bumbu kacang. Sekali makan harganya sekitar Rp 10.000,- sampai dengan Rp 40.000,-.
  7. Hotel - Harga hotel disini menurutku termasuk murah, bahkan aku menemukan ada yang buka rate Rp 50.000,- per malam, tapi gatau sih bentuknya seperti apa haha jadi sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhanmu. 
  8. SIM Card - Aku membeli SIM Card yang dapat aktif di Kamboja dan Thailand via Klook  dengan harganya sekitar Rp 120.000,-. SIM Card diambil dan diaktivasi di Kuala Lumpur International Airport sekalian pesawatku transit disana sebelum terbang ke Phnom Penh.
ITINERARY & BUDGET

Jadi, untuk liburan akhir pekan yang singkat, kamu bisa menambah Phnom Penh ke dalam bucket list mu. Selain biaya hidupnya yang murah, mudah diakses dengan google maps dan jalan kaki, Phnom Penh juga terkenal dengan sejarahnya.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments