In Life Song

Pemahaman Lagu "It is Well with My Soul"

It's a passover time of this year that reminded and reprimanded me hardly about how to struggle in the hard situation, when you felt alone and thought that Jesus didn't care about your life. In the passover devotion in my church last night, the preacher told the story about a hymn song writer, Horatio G. Spafford. The preacher told us how Spafford can struggle in the middle of his pain and sadness. All of Spafford's story is written in the song "It is Well with My Soul" or "Dung Sonang Rohangku" in the bataknese.
Background Story
Horatio Spafford (1828-1888) was a wealthy Chicago lawyer with a thriving legal practice, a beautiful home, a wife, four daughters and a son. He was also a devout Christian and faithful student of the Scriptures. His circle of friends included Dwight L. Moody, Ira Sankey and various other well-known Christians of the day.

At the very height of his financial and professional success, Horatio and his wife Anna suffered the tragic loss of their young son. Shortly thereafter on October 8, 1871, the Great Chicago Fire destroyed almost every real estate investment that Spafford had.

In 1873, Spafford scheduled a boat trip to Europe in order to give his wife and daughters a much needed vacation and time to recover from the tragedy. He also went to join Moody and Sankey on an evangelistic campaign in England. Spafford sent his wife and daughters ahead of him while he remained in Chicago to take care of some unexpected last minute business. Several days later he received notice that his family's ship had encountered a collision. All four of his daughters drowned; only his wife had survived.

With a heavy heart, Spafford boarded a boat that would take him to his grieving Anna in England. It was on this trip that he penned those now famous words, When sorrow like sea billows roll; it is well, it is well with my soul..

Philip Bliss (1838-1876), composer of many songs including Hold the Fort, Let the Lower Lights be Burning, and Jesus Loves Even Me, was so impressed with Spafford's life and the words of his hymn that he composed a beautiful piece of music to accompany the lyrics. The song was published by Bliss and Sankey, in 1876.

For more than a century, the tragic story of one man has given hope to countless thousands who have lifted their voices to sing, It Is Well With My Soul. 
Song Lyric 
When peace, like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll;
Whatever my lot, Thou hast taught me to say,
It is well, it is well with my soul. 
It is well (it is well),
with my soul (with my soul),
It is well, it is well with my soul. 
Though Satan should buffet, though trials should come,
Let this blest assurance control,
That Christ hath regarded my helpless estate,
And hath shed His own blood for my soul.

My sin, oh the bliss of this glorious thought!
My sin, not in part but the whole,
Is nailed to His cross, and I bear it no more,
Praise the Lord, praise the Lord, O my soul!

For me, be it Christ, be it Christ hence to live:
If Jordan above me shall roll,
No pang shall be mine, for in death as in life
Thou wilt whisper Thy peace to my soul.

And Lord haste the day, when my faith shall be sight,
The clouds be rolled back as a scroll;
The trump shall resound, and the Lord shall descend,
Even so, it is well with my soul.

“Be careful for nothing; but in every thing by prayer and supplication with thanksgiving let your requests be made known unto God. And the peace of God, which passeth all understanding, shall keep your hearts and minds through Christ Jesus."
(Philippians 4:6-7)


Dewi Lestari Natalia.

Read More

Share Tweet Pin It +1


In Life Thoughts


Setiap pagi saat gue menunggu jemputan untuk pergi ke kantor, selalu gue melihat banyak orang berlarian. Terkadang bahkan gue termasuk dari salah satu orang yang berlarian itu. Ada ibu-ibu, bapak-bapak, anak muda, anak kecil, dan kebanyakan orang yang gue lihat saat itu pasti ada saja yang berlari. Apa yang mereka kejar? Rata-rata dari mereka mengejar bus umum yang sudah melaju jauh di depannya. Kenapa mereka rela berlarian demi mengejar bus umum tersebut? Bukan kah masih ada bus umum berikutnya dengan tujuan yang sama? Atau bukan kah ada alternatif bus umum lainnya? Tidak lain, tidak bukan, gue yakin masalahnya bukan karena tidak ada bus atau alternatif lain, melainkan masalah waktu. Ya, waktu adalah sesuatu yang berharga di hidup ini. Waktu tidak pernah bisa diperlambat, dipercepat, diulang, atau pun digantikan. Banyak orang rela berlari mengejar waktu, berharap waktu tersebut bisa berjalan lebih lambat agar tidak perlu terbu-buru untuk mencapainya.

Berlari ini seperti menumpahkan atau menghabiskan tenaga lebih untuk bergerak. Kalau tidak karena terburu-buru, orang tidak akan berlari. Atau bisa saja, karena ingin mengejar sesuatu yang penting orang juga turut berlari. Logikanya saja, untuk apa orang mau menghabiskan tenaga lebih kalau tidak ada suatu kepentingan di dalamnya? Seorang pelari saja berlari untuk mendapatkan medali kemenangan bukan? Hmm, satu lagi, berlari juga dilakukan sometimes untuk 'segera' menghindari sesuatu, berlari dari kenyataan sebut saja sebagai contohnya. Atau berlari karena dikejar anjing misalnya.

Lalu how's the result? Berhasilkah? Berhasilkah menaiki bus umum yang dikejar? Berhasilkah menghindar dari hal yang ingin dihindari? Berhasilkah menjadi juara? It depends on how fast you've ran, right? Semuanya tergantung kepada speed, focus, dan usaha kita. Kemungkinan yang dapat terjadi hanya dua, berhasil dan tidak berhasil. Jika berhasil, pasti kita akan lega, senang dan puas sekali rasanya. Namun jika tidak berhasil, sering kali kita kecewa, menyesal, marah, atau bahkan menggerutu kesal bukan? Berbeda hasil, berbeda pula responnya. Padahal dalam satu cara yang sama, yaitu sama-sama berlari. Bahkan bukan hanya dalam hal berlari, gue rasa dalam segala hal kita punya respon seperti itu, respon depends on the results.

This kind of activity is an unique one, I think. Because we just can run to chase the time. If you walk slowly, hey where are you? Time flies so fast, wake up nd run! Even in the a war, rata-rata kebanyakan prajurit mengawalinya dengan berlari atau bahkan mereka berlari selama berperang. In my conclusion, all the activities yang ada kegiatan berlarinya pasti mempunyai satu tujuan yang sama untuk segera dicapai. Ada secercah perjuangan dalam berlari. Berbicara tentang perjuangan, berarti ada pengorbanan including of that. Dalam berlari kita berjuang untuk mencapai tujuan dan mengorbankan tenaga dan energi bahkan tubuh kita.

Begitu pun dengan Kristus yang telah berjuang untuk menyelamatkan umat manusia dengan mengorbankan diriNya sendiri. Kristus memang tidak segamblang-gamblangnya berlari, tapi lihat perjuangan yang Dia kerjakan. Dia berjuang, Dia berkorban. Bukan waktu yang Dia kejar, tapi hati umat manusia. Tidak ada pengorbanan yang lebih besar dari pada pengorbanan seorang Raja  suci yang rela mati demi umatNya yang penuh dengan dosa. Sekarang, tibalah saatnya kita untuk berlari mengejar Dia, menyatakan iman kita, memberitakan kabar sukacita, menjadi berkat bagi sekitar kita. Berlarilah untuk mencapai itu semua, bukan untuk menghindarinya. Berlarilah untuk menjadi pemenang dengan tidak mudah menyerah. Berlarilah dengan semangat dan sukacita seolah-olah di depan sana akan ada bus menuju Kerajaan Sorga. Dalam perjuangan ini pasti ada yang dikorbankan, tapi yang pasti akan ada hasil yang dituai. Sesuatu yang diawali dengan sukacita, gue percaya akan berakhir pula dengan sukacita.  Lakukanlah semuanya itu hanya untuk Allah, seperti yang tertulis dalam Roma 11:36 "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya". Selamat berlari untuk menyatakan Kristus dalam hidup kita dan orang-orang sekeliling kita.

Happy Good Friday,
Dewi Lestari Natalia.

Read More

Share Tweet Pin It +1


In Life Thoughts

The Introvelf

Why I choose this word to be the title of my post? I took the word from Introvert and Self, so it  became Introvelf haha that's a lil not-so-important-intermezzo. Well, recently I realized that I had some experience or relation with introvert people (let's say them with the introvelf). I have discovered that there's another personality which was very different with my self. Totally. I called them, the introvelf.

The introvelf seems so different with me. BOOM. Like that this falls on my head. That's the reason why I'm so curious with the introvelf. There're so many human population in this world. Reading all of them is impossible, thus trying to understand all humans is not a possible task. But, I try. I feel there's something 'balabalabumbum' into their heart which I can't guess what. Jangankan menebak, mencoba masuk saja tidak bisa. Tapi justru itulah membuat gue penasaran sama the introvelf.

Realized it or not, bahkan beberapa sahabat gue juga termasuk golongan the introvelf loh. Jadi sebenarnya gue sudah lama berteman dengan orang yang karakternya jauh berbeda dengan gue sendiri. Beside makes me feel curious, they sometimes jadi nyebelin juga di mata gue. Why? Because they live with their own word and world without make any sense to others. Kan nyebelin yah? Kayak gak dianggep kesannya. But honestly, maksud mereka gak gitu sih sebenarnya. Ya, namanya juga the introvelf, si asik-sendiri-dengan-dunianya. 

According to my analysis (gaya-gayaan), here are some things that make the introvelf become the unique dan nyebelin (sometimes) at the same time haha:
  • Talk Less
The Introvelf chooses to talk not as much as the others. Why? Gak tau juga sih, selama ini semua intorvelf intinya irit ngomong. Keiritannya ngomong inilah yang kadang suka bikin sebel orang-orang yang banyak omong kayak gue. Bahkan, mereka tidak suka untuk memulai suatu pembicaraan. Dalam keheningan yang mendalam tanpa ada pembicaraan disitulah The Introvelf merasa nyaman, tapi justru sebaliknya untuk orang ekstrovert seperti gue. Suasana seperti itu adalah suasana kikuk yang menyebalkan krik krik krik.
  • Si Misterius 
Because they talked less, jadi hanya sedikit cerita yang beredar tentang The Introvelf. Mungkin hanya satu atau dua orang yang tau cerita mendalam tentang diri mereka. If you are not their best friend, jangan harap lo bakal tau seluk beluk mendalam tentang mereka. Berdasarkan pengalaman gue, butuh bakat super kepo dan momen yang pas biar The Introvelf mau cerita tentang dirinya. Inilah yang membuat mereka jadi misterius dan bikin orang jadi penasaran, awww.
  •   Irit Senyum
Have you ever laughed out load until you can't feel your breathe? Gue sih sering, sampe ketawa tumpeh-tumpeh tanpa malu bahkan. How about The Intovelf? Jangan ngarep deh bisa liat mereka ketawa ngakak sering-sering. Jangankan ketawa, senyum aja irit banget. Jadi berasa bodoh banget deh gue kalau lagi ngelawak di depan mereka. Kayaknya tuh yah, kalau mereka udah senyum beeuuhhh luar biasa banget :")
  •  Jaim, Cool(kas), atau Jutek?
Gara-gara irit senyum, banyak yang bilang The Introvelf itu jaim. Tapi ada juga yang bilang kalau mereka cool, kul kul kulkas kaliii. Atau malah jutek yah? Abisnya senyumnya irit banget sih. Udah senyumnya irit, ngomongnya irit juga lagi. I'm sure, I must try hard to make a warm conversation between them. But, most of my friends, sejutek-juteknya, sediam-diamnya, sejaim-jaimnya pasti bakalan jawab kok kalau ditanya hehe
  • I Can Do It by My Self
Antother thing yang agak arogan dari The Introvelf adalah they always think that they can do everything by their self. Menurut info yang gue dapat sih, bukan karena mereka gak butuh bantuan orang lain, tapi mereka enggan untuk meminta. Ya itu dia, balik lagi ke beberapa point di atas, karena mereka itu rata-rata jaim untuk minta tolong, irit bicara, dan lebih suka suasana yang tenang tanpa gangguan dari luar. 
Ya begitulah kira-kira. Beberapa hal itu berasal dari pengalaman gue berteman dengan some of The Introvelf. So far, tidak ada yang aneh dari mereka, namun saja mereka lebih suka ketenangan dibandingkan dengan keramaian. One of my introvelf friends said: "I'm not mad or depressed or antisocial. I just need to not talk anyone for a while and that's okay". Unik yah? haha. Sometimes gue juga sering terjebak penasaran sama The Introvelf, sebenarnya mereka lagi mikirin apa sih? Kok susah banget untuk ditebak haha. Beside of that, The Inrovelf ini kadang suka bikin gue bingung saking sulit dibaca gerak-geriknya dan akhirnya membuat gue bingung juga untuk bertindak atau mengambil sikap, brrrr. But believe me, mereka akan berubah kok saat mereka sudah menemukan orang yang nyaman untuk mereka bercerita atau berteman. 

Dear The Introvelf,
Dewi Lestari Natalia.

Read More

Share Tweet Pin It +1