In Life Thoughts

Sepenggal Cerita di Kota Tua

26 Agustus 2013
Cerita yang singkat namun panjang...

Siang itu aku dan kedua rekanku, Monica dan Juwita, pergi ke Kota Tua. Bukan, bukan untuk hunting foto atau jalan-jalan, tapi untuk mencari jasa pembuatan gambar karikatur yang akan kami berikan sebagai kenang-kenangan atas kelulusan kakak-kakak dan abang-abang kami di PSPO UI (Paduan Suara Persekutuan Oikumene UI). Setahu kami, banyak info mengatakan bahwa jasa pembuatan gambar karikatur dapat kita temui salah satunya di sekitar daerah Kota Tua. Sebelumnya diantara kami bertiga memang belum pernah menggunakan jasa tersebut dan kondisinya kami sudah lama tidak ke sini jadi kami harus meraba-raba kembali Kota Tua dari sisi ke sisinya. Baru memasuki setapak area Museum Kota Tua, terasa seperti ada atmosfer yang berbeda. Kalian pasti tau jalan menuju Museum Fatahillah dari arah Museum Mandiri yang khusus untuk pejalan kaki, dimana di sebelah sisi kiri kanan jalan terdapat batu berbentuk bola besar berjajar. Dari muka jalan, biasanya disitu sudah ramai dipenuhi oleh pedagang makanan khas Jakarta, seperti kerak telor, es potong, rokok, kopi, dan lain-lain (seingat kami sejak terakhir kami datang ke sini). Saat itu, tidak satu pun pedagang yang terlihat berjualan, sepi. Hanya terlihat beberapa gerombolan pengunjung wisata dan beberapa warga bukan pengunjung. Tidak terlalu fokus dengan hal tersebut, kami langsung mencari-cari keberadaan si pembuat karikatur. Sepanjang jalan, mataku terpaku pada beberapa orang di sisi jalan yang sedang duduk-duduk sambil bermain gitar. Yang membuat aku terpaku bukanlah dandanan mereka yang kurang rapi, berambut gimbal, pakaian seadanya, dan berbeda, bukan itu tapi buku gambar A3 yang terpajang di sebuah sandar lukis sederhana serta sebuah krayon hitam di sampingnya.

Dalam hati aku bertanya "apakah ini, dimana kita bisa membuat karikatur?", niat dalam hati ingin aku menghampiri dan bertanya langsung kepada mereka. Namun sambil melangkah pelan dan santai, aku urungkan niat tersebut, sebab aku takut melihat penampilan mereka. Ternyata hal yang sama dialami oleh kedua rekanku. Akhirnya kami pun meneruskan langkah kami.

Sampai persis di sebelah Museum Fatahillah, kami baru menyadari bahwa di sana banyak sekali pegawai Satpol PP berseragam sambil duduk-duduk. Awalnya kami tidak bertanya-tanya dan tetap meneruskan perjalanan. Di depan Cafe Batavia, kembali kami temukan segerombol Satpol PP dengan seragam yang sama. Berbelok ke arah indomaret dan Kantor Pos Indonesia, kami menemukan kembali banyak sekali Satpol PP berseragam berkeliling di sana. Mulailah kami bertanya-tanya "ada apa ini yah?". Namun sebatas itu saja, kami kembali fokus mencari keberadaan si pembuat karikatur yang tak kunjung ketemu. Karena sepertinya sejauh mata memandang tidak ada tanda-tanda keberadaan si pembuat karikatur, kami memutuskan untuk bertanya kepada salah satu bapak bersepeda ontel. Sejujurnya si bapak tidak menjawab perntanyaan kami, tapi dia bercerita "Hari ini sepi neng, patung-patung pada gak ada, penjual makanan juga, itu aja, sewa sepeda ontel juga cuma segitu. Hari ini lagi mulai penertiban Kota Tua neng, nanti semua penjual bakal dipindah ke kios-kios baru yang dibikin Bapak Walikota di sebelah sana. Mungkin mereka pada gak dateng karena takut ada penertiban kali. Besok mungkin udah rame neng, namanya juga baru hari pertama". Kurang lebih si bapak bercerita seperti itu. Dan itulah yang menjadi jawaban pertanyaan kami tentang Satpol PP "Oh, pantesan banyak Satpol PP, ada penertiban toh". Dalam hati, aku senang mendengar kabar tersebut. Batinku, ini kegiatan positif karena berdampak baik bagi banyak pihak. Pihak pengunjung dan wisatawan dapat dengan tenang berkunjung tanpa diganggu oleh pemandangan orang berjualan, dan mereka yang berjualan pun tidak kehilangan lapangan pekerjaan mereka karena toh akan ada tempat dan kios baru untuk mereka berjualan, solusi yang positif dari Bapak Walikota.

Kembali kami menelusuri sisi Kota Tua, namun nihil. Hal yang cari tidak juga terlihat. Sesaat saat kami sedang istirahat, aku teringat dengan buku gambar A3 diantara orang-orang yang menurutku 'menakutkan' di awal perjalanan kami. Aku pun mengatakan hal tersebut kepada kedua rekanku. Dan ternyata, Juwita pun melihat buku gambar tersebut. Sepikir denganku, dia tidak berhenti karena dia takut dengan penampilan orang-orang itu. Namun, sudah terlanjur kami kemari, kami tidak mau pulang dengan tangan kosong tanpa benar-benar berusaha. Akhirnya kami memutuskan untuk memberanikan diri kembali menemui orang-orang tersebut. Dengan keberanian penuh dan sedikit gemetar, kami menemui mereka dan bertanya "Bang, permisi di sini bisa bikin gambar sketsa atau karikatur?". Jawaban salah seorang dari mereka sangat mengagetkan kami, bukan kaget karena ketakutan, tapi kaget karena mereka begitu ramah dan hangat. Pelajaran pertama: don't judge a book by its cover!!!. Tidak sebatas itu, bahkan kami (Aku, Monica, Juwita, dan komunitas karikatur) ngobrol dengan akrabnya, berbagi cerita, bertanya, dan tertawa. Menyenangkan. 

Kenalan singkat melalui cerita dan obrolan akhirnya kami mengetahui bahwa yang paling banyak bicara dengan kami sekaligus yang paling muda bernama Andre, rekannya yang lain bernama El, dan si abang pelukis yang selalu dipanggil 'Bang' oleh semuanya. Sekilas, mereka bukan hanya pembuat sketsa dan karikatur, mereka pengukir kayu, punya band, bahkan mereka pernah datang ke Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia dalam acara Pagelaran Wayang (salah satu acara mahasiswa FIB UI, entah jurusan apa dan kapan waktunya). Intinya mereka adalah pelaku seni. Mungkin inilah yang membuat penampilan mereka berbeda dengan orang-orang pada umumnya dan terkesan 'menakutkan'. Sembari ngobrol, si pelukis yang biasa dipanggil 'Bang' oleh teman-temannya sedikit bercerita ketika kami tak sengaja mencetuskan kenapa hari ini suasananya sepi dan berbeda dari biasanya, "Ada penertiban. Tapi kami gak mau ditertibkan, kami gak mau pindah, kami tetap datang gak seperti yang lain yang tidak datang." Kembali Ia melukis sambil meneguk kopi dan menghisap rokoknya, "Emang sih udah di kasih tau dari kemarin. Katanya peduli, tapi kenapa baru sekarang? Setelah selama ini. Penertiban ini hanya akan menghilangkan esensi, rasa dan khas Kota Tua. Tertib apanya? Sepi sih iya. Pohon besar depan museum ditebang, orang-orang yang biasa di sini jadi gak boleh jualan lagi. Kami gak mau atmosfer Kota Tua yang telah kami bangun puluhan tahun ini hilang begitu saja, makanya kami tetap di sini". Wow, rasanya menusuk hati. Ingat pemikiranku dalam hati setelah kami berbicara denga si bapak sepeda ontel? Pelajaran kedua: jangan terlalu cepat menilai sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja!!! Selama ini, kebanyakan kita (termasuk aku) yang hanya sebagai pengamat, bukan suatu masalah jika ada hembusan penertiban dengan tujuan memperindah pemandangan tanpa kehadiran orang-orang yang berperan sebagai penikmat (menikmati hidup mereka bertahun-tahun di posisi yang sama, entah itu bekerja atau mencari penghasilan yang jelas mereka akan menganggap tempat tersebut adalah rumah kedua mereka, itu akan menjadi nikmat tersendiri bagi mereka). Tapi bagi si penikmat, penertiban ini adalah suatu kesedihan dan kekecewaan, penghilang rasa yang awalnya telah terciptakan. Si 'Bang' menegurku dengan ceritanya.

Selagi menunggu karikatur selesai dilukis, kami melihat gerak-gerik orang yang lalu lalang di depan kami. Beberapa kali, aku melihat orang mengambil foto kami yang sedang duduk bersama komunitas pelaku seni di pinggir jalan depan bangunan kuno di sana. Mereka mengambil foto dari jarak jauh tanpa melemparkan kontak mata dengan kami yang ada di situ. Tahukah kalian apa yang aku rasakan? Aku merasa jadi orang aneh yang tidak dipandang. Orang-orang itu mengambil foto kami karena mereka pikir kami (aku dan rekanku yang saat itu pasti terlihat sebagai anggota komunitas para pelaku seni tersebut) berbeda, unik, dan dapat didokumentasikan. Tapi mereka tidak mau menoleh sedikit pun memandang kami. Sehabis memotret, mereka kemudian pergi bergitu saja. Tidak peduli. "Oh, jadi begini rasanya jadi seperti mereka. Hanya dilihat untuk kepentingan pribadi orang lain, tanpa dipedulikan keberadaannya dan perasaannya", ucapku dalam hati. Sedih sekali rasanya. Kembali kami mengamati orang-orang yang lalu lalang, yang kebanyakan membawa kamera. Di seberang kami terdapat beberapa hasil kerajinan tangan yang seperti sudah tidak berharga. Salah satunya berbentuk seperti tempat sesajen kuno. Salah satu dari orang yang lalu lalang mengambil foto benda tersebut, "Ih, kenapa orang itu mengambil foto benda tersebut?" tanyaku dengan aneh maksud tersiratnya adalah masih ada benda lain yang jauh lebih bagus yang bisa diambil fotonya. "Itu apa yah yang difoto?" tanya Juwita, "Itu mungkin semacam tempat sesajen" jawab Monica. Setelah Monica menjawab pertanyaan Juwita, si 'Bang' langsung bertanya kepada kami bertiga "ada apa? ada apa?" seperti sangat peka mendengar sesuatu, padahal kami berbicara sambil berbisik. "Engga, itu apa yah bang?" tanya Monica, "Oh, itu tempat kerja kita, hasil karya seni. Disitu tempat kita membuat karya" jawab si 'Bang'. Waw, kembali hatiku tertusuk. Pelajaran ketiga: jangan pernah merendahkan sesuatu, sekecil apapun itu, seperti apapun rupanya!!! Kami terlalu cepat mengunderestimatekan sesuatu.

Setelah selesai melukis, beberapa dari mereka bertanya PSPO itu apa? Kami menjelaskan bahwa PSPO adalah Paduan Suara Persekutuan Oikumene UI. Hampir semua dari mereka bertanya-tanya maksudnya persekutuan dan oikumene itu apa, bahkan untuk melafalkan katanya saja mereka kesusahan, mungkin karena mereka kurang familiar dengan kata-kata tersebut. Satu yang membuat kami kaget adalah saat si 'Bang' berkata "Oh persekutuan yah? Perkumpulan gitu kan? Kayak di gereja-gereja, kayak persekutuan doa gitu?" dengan segera kami menjawab "Ah iya iya bang, begitulah kira-kira". Sejenak setalah percakapan itu berlangsung, kami dapat melihat sekilas wajah 'Bang' dengan ekspresi seperti orang yang teringat kembali akan suatu hal penting yang pernah atau sudah dia tinggalkan. Ada rasa iba, penasaran sekaligus terharu melihat ekspresi seorang 'Bang' yang seperti itu. 'Bang' mengerti dengan arti persekutuan secara dasar, bahkan sampai ke persekutuan doa, dia familiar dengan semua kata itu. Hal inilah yang membuat kami berhipotesa kalau 'Bang' adalah seorang anak Tuhan yang sedang tersesat. Sayang saat itu kami belum diberikan Tuhan kesempatan untuk berPI. Kami hanya bisa membawa 'Bang' dalam doa kami, biar Tuhan yang tahu dan mengubahkan hidup 'Bang', sebab sejujurnya kami sangat yakin bahwa 'Bang' adalah sesama orang percaya. Sampai bertemu lagi 'Bang', suatu saat nanti. Anyway, kalau kalian melihat pelukis sekitar kota tua yang duduk di sisi bangunan sepanjang jalan menuju museum Fatahillah, sambil duduk-duduk bermain gitar dengan beberapa orang temannya dan wajahnya mirip dengan penyanyi Glenn Fredly, itulah 'Bang'. Terima kasih 'Bang' telah memberikan kami banyak pelajaran, Tuhan memberkati :)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments


In Jawa Barat Travel

Trip to Ujung Genteng Beach


Sedikit berbagi pengalaman liburan nih, tepatnya liburan ke Pantai Ujung Genteng pada tanggal 6-7 Agustus 2013 yang lalu. Saya bersama 9 orang lainnya, yaitu kakak-kakak dan abang-abang saya di naposo maranatha (Kak Echa, Kak Oktha, Kak Rani, Bang Porman, Bang Bobby, Bang Ferdinan, Bang Boyke, Bang Thurman, dan Bang Dona) melakukan perjalanan liburan ke Pantai Ujung Genteng. Rencana ini hanya direncanakan beberapa hari sebelum hari H dengan tujuan awal ingin naik gunung namun H-1 berubah jadi ke pantai. Bermodalkan nekat dan GPS di tangan, kami pun akhirnya melakukan perjalanan ini.

(ki-ka) Bang Dona, Bang Porman, Kak Oktha, Saya, Kak Rani, Kak Echa, Bang Boyke, Bang Ferdinan, Bang Bobby 
- taken by Bang Thurman

Perjalanan dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dan tiba di Ujung Genteng sekitar pukul 23.45 WIB. Menurut informasi yang kami dapat perjalanan menuju Ujung Genteng bisa memakan waktu kurang lebih 7-8 jam. Kesalahan kami adalah kami nyasar sampai ke daerah Pelabuhan Ratu, hal ini dikarenakan daerah yang kami lalui berupa hutan dan bukit serta jurang yang sulit mendapatkan sinyal, dan mengakibatkan GPS kami mati. Perjalanan menuju Ujung Genteng pada malam hari sangatlah menyeramkan, gelap sekali karena tidak adanya lampu jalan, kanan kiri adalah hutan pepohonan dan jurang, sangat jarang sekali ditemui pemukiman warga, selain itu jalannya juga kurang bagus, berbatu dan berlubang. Satu lagi, di daerah ini sangat sulit sekali ditemui pom bensin, jadi alangkah baiknya untuk mengisi bensin full sebelum memasuki kawasan menuju Ujung Genteng. Selain itu, orang-orang disini sangat kental sekali logat sundanya. Pengalaman kami selama bertanya ke warga mengenai arah jalan, warga akan jutek menjawab jika kita bertanya dengan logat jakarta, tapi jika kita bertanya dengan logat sunda, warga disini akan menjawab dengan ramah.

Setelah melewati daerah  Surade, artinya tinggal beberapa menit lagi tiba di Ujung Genteng. Jalannya benar-benar gelap dan berkelok-kelok, jalannya pun banyak lubangnya, tak ayal jika ada orang menyebrang maka akan sangat susah melihatnya. Untunglah supir kami, yaitu Bang Porman, Bang Bobby, dan Bang Boyke adalah supir yang handal sehingga kami bisa melalui perjalanan dengan lancar. Saat tiba di daerah Ujung Genteng kami segera berencana mencari homestay untuk bisa ditinggali semalam, setidaknya untuk tempat kami tidur. Selama perjalanan mencari homestay, tibalah kami di daerah tepi laut tempat para nelayan. Disini jalannya sangat sangat jelek, berpasir, dan berbatu. Di pinggir jalan banyak ditemukan warung remang-remang dan 'para wanita' malam. Saat akan bertanya jalan ke mereka, Bang Bobby turun dan langsung seperti mau ditawar haha, ketika Kak Rani ikut turun, wanita-wanita tersebut kecewa dan berkata 'yah, ada ceweknya' hahaha. Saat berhenti untuk bertanya, ada kejadian janggal yang dilihat oleh Bang Porman diikuti dengan Bang Bobby dan Bang Boyke, dan sampai sekarang mereka belom mau cerita huhuuu.

Akhirnya kami menemukan homestay yang saat itu ramai. Jujur sebenernya agak was-was sama daerah ini, karena baca-baca berita di internet, daerah ini banyak aneh-anehnya. Makanya seneng banget ketika ketemu homestay yang ramai, namanya Pondok Adi. Baru kali ini loh ada homestay yang ditawar, awalnya si pemilik buka harga 400ribu untuk semalam sampai dengan jam 12 siang, setelah kompromi dn tawar-menawar akhirnya dapatlah homestay dengan harga 250ribu sampai jam 12 siang, lengkap dengan alat dapur seperti kompor gas, piring, sendok, garpu, panci, penggorengan, ceret air, dan tempat bakar-bakaran. Homestay ini lumayanlah, kamar tidurnya ada dua dengan masing-masing 2 single bed, kamar mandinya bersih, dan ada dapur mininya. Berdasarkan searching di internet harga homestay disini masih murah, sekitar 200-500 ribu per malamnya. Tepat di depan Pondok Adi, adalah pesisir pantai yang banyak nelayannya. Uniknya pantai disini adalah karangnya. Biasanya pantai itu identik dengan pasir yang halus dan lembut, tapi di pantai ini gak ada pasirnya, yang ada hanyalah batu-batuan karang kecil-kecil jadi agak sakit kena kaki kita.

Wisma Adi
Malam itu, kami langsung makan-makan sambil pork barbecue yang di masak oleh master chef Dinan. Kenyang makan, para cewek-cewek langsung tidur sejenak dan kemudian segera bangun untuk melanjutkan destinasi selanjutnya ke penangkaran penyu di Pantai Pangumbahan. Perjalanan bisa dibilang cukup horor, karena kami berangkat pukul 4 pagi, melalui jalan setapat berbatu besar dan terdapat juga beberapa alur yang melewati hutan, gelap, dan sangat sepi. Kenapa harus sepagi ini? karena menurut kabar yang kami dapat, jika kami beruntung maka kami dapat melihat secara langsung proses penyu bertelur (namun sayangnya saat itu kami belum beruntung, sebab biasanya penyu bertelur pada saat bulan purnama dan saat itu bukan bulan purnama, menurut bapat penjaganya). Berhubung kondisinya pagi-pagi buta dan warga belum ada yang bangun, serta kondisi jalan yang sangat sepi, kami tidak tau ada apa di kanan kiri mobil kami. Beberapa kali ada pemuda warga sekitar yang menawarkan bantuan untuk menunjukan arah kepada kami, tentu dengan bayaran nominal tertentu. Namun, kami memustuskan untuk terus jalan berbekal dengan arahan warga sekitar saat kami bertanya. Semua kehororan itu tapi berbuah sangat manis, sekitar pukul 5 pagi, kami sampai di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan tempat penangkaran penyu. Di sana kami melihat beberapa ekor penyu yang dipelihara dan banyak sekali tukik (sebutan untuk anak penyu yang baru lahir). Lucu sekali melihat tukik-tukik kecil bergerak ke sana kemari di dalam tempat penangkaran. Lalu kami diajak ke pesisir Pantai Pangumbahan berpasir putih dan halus, disinilah penyu biasa naik ke daratan untuk bertelur dan kemudian telurnya dibudidayakan dalam penangkaran. Saat itu pantai sedang pasang sehingga ombak bergulung sangat tinggi sekali. Satu peringatan saat kami bermain ke pantai tersebut adalah dilarang mandi, entah apa alasannya. Tidak ada orang lain di pantai tersebut, hanya rombongan kami saja, benar-benar berasa seperti private beach yang sangat indah. Pukul 07.00 kami segera kembali ke homestay dan barulah kami menyadari bahwa jalan yang kami lalui saat pergi benar-benar menawarkan pemandangan desa yang indah, walaupun jalan yang kami lalui sangat rusak dan banyak lubangnya. Ada beberapa petak sawah dan terdengar desiran ombak dari pesisir pantai yang kami tidak tahu pantai apa namanya. Ketakutan dan kegelisahan kami selama perjalanan pergi terbayar semua dengan pemandangan yang sangat menawan.

Pork Barbecue
Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan  (Pangumbahan Penyu Park)
Sampai di homestay, kami segera berkemas untuk melakukan perjalanan selanjutnya yaitu menuju Pantai Amanda Ratu yang terkenal dengan sebutan 'Tanah Lot mini Pulau Jawa'. Sebelumnya kami singgah sebentar di Pantai Cibuaya dekat homestay dimana pasirnya dipenuhi oleh karang kecil-kecil. Warna pantainya sangat indah biru kehijauan dan sangat jernih. Ombaknya yang tinggu cocok untuk surfing, tidak banyak orang di pantai ini dan itulah yang menambah keindahannya. Pantainya masih 'perawan' dan sangat bersih. Setelah puas mengambil beberapa foto, kami melanjutkan perjalanan menuju Amanda Ratu. Amanda Ratu langsung memukau kami ketika kami tiba di sana. Tanah Lot Bali versi mini dapat kita lihat di sana. Di pinggiran Amanda Ratu terdapat resort dengan fasilitas yang serba mewah yang pasti dengan harga sangat tinggi. Untuk traveler seperti kami, tentulah ini tidak masuk dalam pilihan karena harganya yang terlalu mahal. Banyak wisatawan asing berkeliaran dan berfoto di sini. Tidak heran karena pemandangan elok yang ditawarkan benar-benar indah dan menawan. Untuk berkunjung ke sini, kita tidak perlu menginap di resort sekitar. Traveler yang tidak menginap di sini pun boleh berkunjung dengan bebas dan gratis, hanya membayar Rp 2.000,- saja untuk uang parkir. Kita bisa berfoto dengan view yang indah di atas batu karang yang besar, hati-hati terjatuh atau tergelincir karena track-nya sangat licin. Selanjutnya perjalanan menuju Curug Cikaso, yang katanya adalah air terjun terbagus di Ujung Genteng.

Pantai Cibuaya
Amanda Ratu
Perjalanan menuju Curug Cikaso berlangsung nyaman karena jalan sangat sepi (berhubung hari itu adalah H-1 lebaran), sudah tidak berbatu lagi, dan yang paling penting sudah terang tidak gelap gulita seperti perjalanan malam sebelumnya. Setibanya di pintu masuk Curug Cikaso, kami agak kecewa dengan banyaknya pungutan-pungutan uang yang ditagih oleh warga sekitar (padahal menurut info yang kami dapat, sekitar tahun lalu tidak ada pungutan apapun, alias gratis). Pungutan pertama adalah biaya tiket masuk sebesar Rp 7.000,- per orang. Bukannya menghina atau merendahkan tapi sepertinya orang yang menarik pungutan kurang pintar berhitung dan tidak peduli asalkan dia dapat uang, kami 10 orang harusnya membayar sebesar Rp 70.000,- plus tarif 2 mobil (saya lupa berapa), namun orang itu mengembalikan kembalian lebih. Saat kami protes, mukanya bingung dan malah langsung pergi meninggalkan kami, entah apa maksudnya. Tidak hanya itu, beberapa meter dari pintu masuk, kami dikagetkan dengan dengan tulisan "Satu kali buka portal Rp 1.000,-" ckck sampai segitunya. Belum lagi kami harus membayar kapal untuk menyebrang menuju curug sebesar Rp 60.000,- per kapal. Benar-benar mengecewakan, belum lagi biaya parkir mobil dan biaya kamar mandi ckckck. Tapi untuk pemandangan dan kepuasan selama kami di Curug Cikaso sangat tidak mengecewakan, terdapat dua buah air terjun yang sangat indah, kita bisa berenang di bawah air terjun itu. Tetapi harus sangat hati-hati saat berenang, sebab di dasar curug terdapat banyak sekali batu dengan ketinggian yang berbeda-beda. Satu hal yang paling asik adalah ketika kami sampai tepat di bawah air terjun, kami duduk di atas batu dan merasakan punggung kejatuhan air terjun seperti layaknya sedang di pijat. Sayangnya kami harus segera cepat berangkat sebelum matahari tenggelam untuk mengejar waktu sampai ke rumah masing-masing.

Puas dengan beragam pemandangan dan pengalaman di Ujung Genteng, kami pun segera melanjutkan perjalanan kembali ke rumah masing-masing. Perjalanan pulang terasa lebih cepat dan nyaman karena kami sudah hafal track-nya dan tidak kesasar lagi. Hanya saja kami sempat terjebak macet di belakang rombongan warga yang sedang takbiran. Selebihnya perjalanan pulang berlangsung lancar. Sekitar pukul 01.00 pagi, saya tiba di rumah dan very excited dengan liburan saya kali ini. Mendadak, singkat, murah, dan menyenangkan. Sampai jumpa di cerita liburan selanjutnya :D

Curug Cikaso
Full Team :)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments


In Life Profesional

Mini Konser Tradisional Modern Batak NHKBP Maranatha Rawalumbu Bekasi

Mini Konser Tradisional Modern Batak ini digelar pada hari Sabtu tanggal 27 Juli 2013 di Gereja HKBP Maranatha Rawalumbu Bekasi. Acara ini dipersembahkan oleh Naposo (pemuda pemudi) Maranatha dalam rangka Parheheon Naposobulung HKBP Maranatha Rawalumbu 2013. Setiap tahunnya naposo marantha selalu mengadakan kegiatan parheheon, dan tahun ini naposo marantha menggelar sebuah mini konser bertajuk budaya batak. Tema yang diangkat adalah "Berkarya Menjadi Berkat" yang diambil dari Kejadian 12:2, yaitu "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat". 

Parheheon naposo marantha tahun ini terdiri dari beberapa rangkaian, yaitu: Turnamen Futsal, Health and Green Day, dan Mini Konser. Ketiga kegiatan ini berlangsung selama bulan Juni sampai dengan Juli 2013.

Turnamen Futsal
Health Day
Green Day
Mini Konser merupakan rangkaian acara yang terakhir dalam parheheon naposo maranatha. Mini Konser Tradisional Modern Batak ini berlangsung kira-kira pukul 18.00 WIB diawali dengan ibadah singkat oleh Pdt. JAU Doloksaribu, yang merupakan pendeta ressort HKBP Maranatha Rawalumbu Bekasi. Setelah ibadah selesai, acara ini dibuka oleh tari-tarian khas tanah batak, Tor-Tor, yang dinarikan oleh tujuh orang penari dari naposo maranatha. Para penari ini menarikan welcoming tor-tor procession sembari menyambut kedatangan naposo choir ke dalam panggung. 

Ibadah Mini Konser
Naposo Maranatha Tor-Tor

Lagu pertama yang dinyanyikan oleh Naposo Maranatha Choir adala ARBAB. Mini Konser Tradisional Batak ini terdiri dari dua babak. Babak pertama, adalah babak puji-pujian klasik yang dikemas dalam empat lagu sekaligus, yaitu Nyanyikanlah Nyanyian Baru, He Loved Me, I Want To Thank You Lord, dan God And God Alone. 

Arbab
Nyanyikanlah Nyanyian Baru
He Loved Me
I Want to Thank You Lord
Setelah itu, jemaat penonton disuguhi dengan penampilan dari Naposo Marantha Band yang menyanyikan soundtrack "Berkarya Menjadi Berkat" sebagai tema dari parheheon naposo tahun ini. Selanjutnya ada penampilan beatbox dari Ricardo (guest star) featuring dengan Lukman Simorangkir, salah satu naposo maranatha. Penampilan berikutnya adalah penampilan dari Gizelly Saragih (guest star) yang membawakan dua buah lagu, yaitu Ada Kuasa Dalam NamaMu dan Di Jalanku Ku Diiring. Guest star yang terakhir tampil adalah PASTO (Meltho dan Mario) yang membawakan dua buah lagu, yaitu Jangan Lelah dan You Are My Everything. Sebelum masuk ke babak dua, Naposo Maranatha Percussion siap tampil dan menghibur jemaat dengan penampilan perkusi mereka. 

Beatbox

Gizelly Saragih

PASTO

Naposo Maranatha Percussion
Di babak dua Mini Konser Tradisional Modern Batak, Naposo Maranatha Choir membawakan empat buah lagu bernuansa etnik batak yang dipermanis dengan koreografi. Lagu yang dinyanyikan antara lain adalah Tole Endehon, Sigulempong (feat Sunday School Choir), I Will Follow Him, dan Hehe NHKBP.

Tole Endehon
Sigulempong feat Sunday School Choir
I Will Follow Him medley Hehe NHKBP

Mini Konser ini ditutup dengan lagu O, Tano Batak yang dinyanyikan bersama-sama dengan jemaat penonton. Pada penghujung acara, seluruh pengisi acara naik ke atas panggung dan sama-sama bernyanyi lagu penutup. 

Inilah dia orang-orang dibalik Mini Konser Tradisional Modern Batak NHKBP Maranatha Rawalumbu

Link video beberapa lagu mini konser:
Tole Endehon (Road To Mini Konser)

Dibalik layar Mini Konser Tradisional Modern Batak 2013:


Doa dan Persiapan Awal Mini Konser

Tim Musik Mini Konser

Amang Pendeta JAU Doloksaribu (kanan) dan Amang sintua Sihombing (kiri)

Ticketing, Usher, dan Tim Keamanan Mini Konser

Tim Dokumentasi, Operator, dan Lighting Mini Konser

Tim Make-Up dan Hair Stylist Mini Konser

Jemaat yang Hadir di Mini Konser


Kejadian 12:2
"Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat."

#BerkaryaMenjadiBerkat

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments


In Life Song

Terima Kasih Untuk Segalanya

Kita telah bertemu dan saling mengasihi
Tibalah saatnya kita kan berpisah
Suatu hari nanti kita bertemu lagi
Dan saling mengisi, ku rindukan itu

Saat inilah yang membuatku sedih
Sebelum kau pergi 
Ku ingin kau tau ku cinta kau

Terima kasih untuk segalanya
Terima kasih padamu
Masa indah yang t'lah pernah kita lalui bersama-sama
Teruskanlah pelayananmu maju dan terus maju
Kiranya kasih Allah Bapa menyertai kita semua...

Read More

Share Tweet Pin It +1

8 Comments


In Life Song

Make Me A Servant

Hello, blog....
Liburan nih, seperti biasa nulisnya tengah malem buta hehee...
Biasa juga, isinya tentang curhatan hehehee....

Rata-rata isi blog gue emang tentang curhatan semua. Bukan, bukan, bukan karena gue pengen kehidupan pribadi gue dibaca orang, tapi lebih ke membagikan apa yang sedang gue nikmati dan rasakan. Kali ini tentang 'Humble and Meek' alias 'Rendah Hati dan Lemah Lembut'. 

Belakangan ini emang lagi suka banget denger lagu 'Make Me A Servant', entah momen apa yang tiba-tiba mengingatkan gue tentang lagu ini. Liriknya begini:

Make Me A Servant
Make me a servant
Humble and meek
Lord let me lift up those who are weak
And may the prayers of my heart always be
Make me a servant
Make me a servant
Make me a servant today

Lagunya bisa didengar disini.

Gue sendiri sih belom nyari-nyari lagi latar belakang tentang lagu ini, tapi yang sangat gue nikmati adalah liriknya yang sederhana, mengesankan, menyentil, serta dikemas dengan melodi minor yang bisa membuat setiap orang yang menyanyikan terhanyut dalam setiap alunan musiknya (khususnya gue sendiri). 

Sebagai seorang pelayan Tuhan, belakangan gue merasa hanya mengerjakan pelayanan itu seperti marta yang sibuk dengan 'dapur'nya tanpa sadar bahwa ada hal yang jauh lebih penting, yaitu setia mendengar Firman Tuhan. Lima bulan ini tepatnya sampai tanggal 27 Juli 2013 yang lalu, gue sedang sibuk mengambil pelayanan bersama Naposo HKBP Maranatha Rawalumbu Bekasi sebagai seksi acara dalam rangkaian acara parheheon NHKBP Maranatha 2013. Begitu banyak hal yang harus dikerjakan dalam kepanitiaan ini, banyak sekali sampai-sampai tanpa sadar dapat mengerjakannya dengan tensi tinggi dan emosi yang tidak terkontrol. Sampai suatu titik gue merasa benar-benar terlalu fokus mengerjakan hal teknis dan disitulah lagu ini terlintas. Sungguh indah cara Tuhan menegur gue, lewat puji-pujianNya yang indah mengalun dan sangat menyentil hati gue. 

Kalau kita perhatikan liriknya:
Make me a servant, humble and meek - Jadikan aku pelayan yang rendah hati dan lemah lembut
Lord let me lift up those who are weak - Tuhan biarkan aku menopang/mengangkat yang lemah
And may the prayers of my heart always be - Dan biarlah doa dari hatiku selalu ada
Make me a servant today - Jadikan aku pelayan, hari ini.

Rendah hati dan lemah lembut. Gampang sih diucapkan tapi sangat sulit untuk dilakukan.

Seorang yang rendah hati selalu menyadari keterbatasannya, yang memampukan dirinya untuk membuka diri terhadap sesamanya. Ia rela meluangkan waktu untuk belajar dari sesamanya yang lebih ahli daripada dirinya. Dengan cara itu, ia mampu menjadi orang yang lebih baik[1]. Kita perlu dengan rendah hati mengakui, bahwa kekuatan untuk melayani itu datang dari Tuhan karena kita tidak berdaya, kuasa kita melayani itu datangnya dari Tuhan sebab kita tidak punya kuasa, status kita sebagai pelayan itu adalah kepercayaan dari Tuhan, bukan sesuatu yang layak kita dapatkan, kita tidak punya hak apapun sebagai hamba, kita hanya memiliki kewajiban, dalam pelayanan kita sepenuhnya hanya bergantung kepada Allah dan bukan kepada kemampuan kita[2]. Namun, sangat sulit rasanya untuk bersikap rendah hati disaat gue sedang mengerjakan pelayanan itu. Belajar dari hal kecil, perbedaan pendapat contohnya atau dalam hal mengambil keputusan atau dengan bijak menerima berbagai penolakan juga ketidakadilan. Sulit sekali, benar-benar harus berhikmat dan rendah hati menerima segala keterbatasan dan kondisi yang ada. Itu dari sisi rendah hati.

Emosi yang tidak dapat terkontrol dengan baik juga kerap kali gue rasakan, di saat gue merasa letih dan kehilangan semangat serta dukungan dari pihak-pihak yang terkait. Emosi dengan tensi tinggi ini pada akhirnya akan berujung pada akar pahit yang menimbulkan kemarahan dan rasa kesal dengan kondisi itu sendiri atau pun dengan beberapa orang sekitar. Hal ini tentu saja tidak mencerminkan sikap lemah lembut sama sekali, bahkan terkesan sangat kasar. Suka ngomel-ngomel gak jelas, suka ngeluh, marah-marah, bentak-bentak bahkan pernah sampai teriak-teriak loh. Menurut gue sih, ini bisa terjadi karena kurangnya rasa rendah hati, seperti yang sudah dibahas di atas, diantara para pelayanNya. Lemah lembut itu penting sebagai penetralisir keadaan yang emosional dan fluktuatif. Wanita yang lemah lembut adalah wanita sabar dan sangat disenangi oleh banyak orang, begitu pun dengan pelayan Tuhan yang lemah lembut, Tuhan pasti suka itu. Dengan kelemahlembutan, segala hal bisa dihadapi melalui kepala dingin dan kasih nyata. 

Dan disaat kepanitiaan itu jatuh, thank God gue bisa lift up those who are weak, walaupun gue juga lemah sama seperti yang lain. Tapi gue sadar, saat itu gue melakukannya bukan karena kerendahan hati gue, tapi karena gue gak mau dibilang lemah, gak ada rendah hatinya sama sekali. Saat itu, gue sejenak lupa bahwa Tuhan yang membuat gue kuat, gue lupa bahwa Tuhan memakai gue untuk mengangkat yang lain. That's not the real God's servant did. Thank God lagi, gue gak perlu berlama-lama merasakan hal seperti itu, karena Tuhan terlebih dulu menyentil gue dengan lagu ini. 

Lewat lagu ini gue belajar beberapa hal, bahwa menjadi seorang pelayan Tuhan bukanlah untuk memegahkan diri dan memenangkan ego kita. Sekalipun kita tidak mendapat perhatian, pujian, popularitas bahkan kemahsyuran malahan sebaliknya kita dicaci, kita dipersalahkan, kita dikritik pedas, kita dianggap remeh, namun ingat Tuhan melihat kerendahan dan ketulusan hati kita dalam melayani. Jadilah pelayan Tuhan yang rendah hati dan lemah lembut yang mampu mengangkat rekan sepelayanannya saat sama-sama terjatuh, dan setia berdoa dalam nama Tuhan untuk setiap pelayanan kita. Make me a servant, make me a servant today...

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments